
Siang itu, Alfa sedang berdiskusi dengan salah seorang detektif swasta yang bekerjasama dengannya dalam kasus Roni Wijaya ketika Elea tiba-tiba saja mengiriminya live location dan pesan SOS.
“Maaf, Pak. Tapi sepertinya saya harus pergi sekarang.”
“Tapi Pak Al –“
Alfa meninggalkan mobilnya di tempat pertemuan dan meminjam motor milik salah satu pelayan resto itu.
Ia memacu laju motor membelah kemacetan kota yang luar biasa merayap siang itu. ia mengaktifkan GPS-nya dan mencari jalan-jalan alternatif yang bisa membawanya menemui Elea secepat mungkin.
Ketika tiba disana, seorang pria tengah berusaha memukul Elea dengan sebatang kayu. Namun Alfa berhasil mencegahnya. Sayangnya salah seorang pria lainnya bangun dan memukul tengkuk Elea dengan sangat keras menggunakan tangannya.
Untung Alfa segera meringkusnya dan mencegahnya membawa gadis itu pergi dari sana. Tak lama kemudian Arka juga tiba disana setelah menerima pesan terusan dari Alfa. Tapi ia sedikit terlambat karena ketiga pria itu sudah terkapar dan Elea juga pingsan.
Alfa segera memanggil polisi sementara Arka membawa Elea pulang untuk diperiksa oleh dokter pribadi mereka.
Alfa mengalami beberapa luka memar di wajahnya dan juga sedikit luka gores di lengannya. Tapi ia memilih untuk mengatasi masalahnya sendiri. Ia ingin semua fokus untuk menyembuhkan istrinya.
*****
Sejak kejadian itu, Elea jadi lebih banyak menghabiskan waktu bersama Alfa. Seperti pagi itu ketika Alfa mengantarnya ke kampus.
“Mas Al modus.”
“Hah?!”
“Iya, Mas Al sengaja kan ngelarang Mas Arka buat antar jemput aku ke kampus? Supaya aku ngga bisa lagi deket-deket sama Mas Arka kan?”
“Ngga juga. Ngga ada yang perlu aku khawatirin soal kalian berdua. Arka hanya sedang membutuhkan selingan untuk mengalihkan perasaannya dari Angela dan kamu butuh orang untuk menguji kecemburuan aku.”
“Dih, siapa bilang aku deketin Mas Arka buat bikin Mas Al cemburu?”
“Jadi ?”
Elea merasa kesal karena kalah dari Alfa. Jadi ia memilih untuk memalingkan mukanya menghadap ke arah jalan raya yang terlihat lebih padat dari biasanya. “Tapi Mas Al emang beneran cemburu kan?”
“Ya nggaklah.. kalian itu cuma dua anak kecil yang sedang main rumah-rumahan. Jadi ngga ada yang perlu dicemburuin.”
Elea kembali memonyongkan bibirnya. “Jadi kenapa Mas Al ngga ngebolehin Mas Arka antar jemput aku ke kampus?”
“Bukannya sudah jelas?!”
“Bohong!”
Alfa tertawa. “Dasar bocah! Bisanya cuma ngambek.”
Elea bergeming. Ia sama sekali tidak merasa candaan Alfa lucu.
“Karena aku ngga mau Arka tahu soal Tora.”
Elea memalingkan wajahnya menatap Alfa, “Mas Tora?”
“He’em.. beberapa hari yang lalu dia datang ke apartemen. Dia juga sudah tahu kampus kamu.”
“Mau apa Mas Tora kesini?”
“Untuk nyari kamu.”
“Hah?”
“Dan uang.”
“Maksud Mas Al?”
“Tora mengancam akan membocorkan soal pernikahan kita dan meminta sejumlah uang untuk tutup mulut. Karena jumlahnya cukup banyak, jadi aku hanya memberinya pekerjaan di salah satu bengkel kenalan aku. Tapi sepertinya Tora ngga puas dan semakin gencar mengancam aku. Aku khawatir karena dia juga yang dulu membocorkan soal pernikahan kita ke sekolah kamu.”
“Mas Tora ini bener-bener deh.. Mas Al kenapa baru bilang sekarang?”
“Aku ngga mau suasana semakin rumit. Apalagi belakangan Arka semakin gencar ngedeketin kamu. Dia pasti curiga dengan beberapa hal dan berniat memastikan sesuatu. Jadi sebaiknya kamu tetap waspada dan berhati-hati.”
“Kapan aku bisa ketemu sama Mas Tora, Mas? Aku harus ngomong sama dia.”
“Kita tunggu waktu yang tepat, yah?”
******
Sepulang kuliah, Elea tidak melihat tanda-tanda keberadaan mobil Alfa. Jadi ia memutuskan untuk naik bus ke tempat kerjanya. Tapi betapa kagetnya Elea melihat Tora sudah menunggunya di depan kampus. Elea bergegas menghampiri kakak sepupunya itu.
“Mas Tora kapan datang? Kok bisa ada disini?”
“Mas mau ketemu kamu? Ngga boleh?”
“Iya, boleh. Tapi kenapa ngga ngasih tahu dulu?”
Elea ragu untuk menjawabnya, jadi ia memilih untuk mengalihkan pembicaraan. “Ah, Mas Tora sudah makan?”
"Kampus kamu bagus ya, El? Kamu sudah jadi anak gedongan sekarang. Bisa kuliah di kampus mewah kaya gini."
"Mas Tora mau jalan-jalan? Biar tak temenin."
“Kamu takut?” tanya Tora to the point.
“Maksud Mas Tora apa?”
“Jadi Alfa sudah cerita?”
Ternyata Tora tidak sebodoh yang Elea pikirkan. Elea tidak punya pilihan lagi selain bicara terus terang.
“Jadi Mas Tora mau apa?”
“Uang.”
“Berapa banyak?
“Seratus juta.”
“Buat apa, Mas?”
“Bukan urusan kamu.”
“Tapi itu banyak banget. Darimana aku dapat uang sebanyak itu?”
“Apa kamu lupa kalau kamu sudah menikahi pria kaya raya?”
“Mas, Mas Al itu cuma pengacara biasa. Mana mungkin dia punya uang sebanyak itu?”
Tora tertawa terbahak-bahak. “Kamu mau membodohi aku atau memang bodoh?”
“Maksud Mas Tora apa sih?”
Tora menunjukkan beberapa data dan artikel yang Tora kumpulkan soal Alfa dan keluarganya. “Suami kamu itu anak sulung keluarga Kusumo pemilik Kusumo Group. Dia adalah pewaris tahta Kusumo Group. Seratus juta receh bagi mereka.”
Elea membaca semuanya dengan seksama. Ia mengingat kembali rumah Alfa di jalan cemara, mobil-mobil mewah yang berjajar di parkiran, perabot-perabot mewah, cerita Erlita tentang kebiasaan unik kedua putranya, tempat kuliah Arka, gedung bertingkat tempat Alfa bekerja dan semuanya.
“Ngga. Ini ngga mungkin.”
“Jadi kamu bener-bener ngga tahu?”
Elea tidak menjawab. Sekarang ia mengerti kenapa Erlita bersikeras menjodohkan Alfa dengan Kinara.
“Denger El. Kamu adalah nyonya kecil calon milyader. Dan kamu harus membantu keluarga kamu yang membutuhkan.”
“Ngga. Aku ngga percaya sama apa yang Mas Tora bilang. Dan kalaupun itu semua benar, kita ngga berhak apa-apa atas uang mereka.”
“Maksud kamu apa, El?”
Tiba-tiba saja mobil Alfa datang dan Elea langsung masuk ke mobil meninggalkan Tora di halte.
“El, kamu ngga papa?” tanya Alfa khawatir.
Elea tidak menjawab. Ia menunduk menahan air mata sambil terus menggenggam kertas milik Tora.
“El?”
“Apa bener semua yang tertulis disini?”
Alfa meminggirkan mobilnya dan membaca kertas yang Elea bawa. “El, darimana kamu dapat ini?”
“Jawab Mas? Apa bener kalau Mas Al anaknya pemilik Kusumo Group?”
Alfa tidak punya pilihan selain mengaku. Ia tida tahu kalau Elea akan mempermasalahkan soal itu. Lagi pula ia sama sekali tidak menyangka kalau selama ini Elea benar-benar tidak tahu siapa dirinya dan juga keluarganya. Bahkan setelah ia dibawa untuk tinggal bersamanya di jalan Cemara.
“Kenapa Mas Al ngga pernah bilang?”
“Apa ini penting?”
“Mungkin bagi Mas Al ini sama sekali ngga penting. Tapi apa Mas Al tahu? Aku jadi ngerasa kaya orang bego yang ngga tahu diri dan ngga tahu berhadapan dengan siapa.”
“Memangnya kenapa kalau papa pemilik Kusumo Group? Ngga akan ada yang berubah, El. Kamu tetap istri aku.”
“Ngga, Mas. Ngga boleh. Pernikahan kita adalah sebuah kesalahan.”
“El! Bisa-bisanya kamu ngomong seperti itu?”
*****