
Hari itu Elea terpaksa meninggalkan Alfa yang sedang sakit di rumah bersama Handoyo karena ia harus mengikuti ujian akhir nasional hari pertama. Meskipun sudah banyak belajar, Elea masih saja sulit konsentrasi karena memikirkan kondisi Alfa.
‘Aku ngga boleh lengah. Aku harus fokus dan lulus dengan nilai tinggi supaya bisa masuk akademi seni SH!’ ujar Elea dalam hati.
Meskipun harus sedikit bersusah payah, namun Elea akhirnya berhasil melalui hari pertama ujian nasionalnya dengan baik. Setelah bel pulang berdering, Elea bergegas pulang untuk menemui Alfa.
Keesokan harinya Elea dipanggil untuk menghadap kepala sekolah didampingi Bu Rosita, wali kelasnya.
“Elea, apa kamu tahu kenapa Bapak memanggil kamu kesini?”
Elea menggeleng, “Maaf, Pak. Soal apa ya?”
Bapak kepala sekolah menyerahkan sebuah surat kaleng dan foto pernikahan Alfa dan Elea yang membuat Elea terbelalak. “Darimana Bapak dapat ini?”
“Seseorang baru saja mengirimnya kepada kami. Surat ini menceritakan bahwa kamu sudah menikah dengan Pak Al, wali kamu sendiri. Apa itu benar, El?”
Elea sudah memikirkannya semalaman. Kebohongan yang ditutup-tutupi pasti akan terbongkar juga cepat ataupun lambat. Ia sudah tidak bisa lagi lari dari kenyataan. Sekarang ia hanya harus siap menanggung segala resikonya.
“Maaf, Pak. Tapi semua itu memang benar. Ayah saya meninggal setahun yang lalu dan beliau meminta Mas Al untuk menikahi saya dan menjadi wali saya agar saya bisa terus melanjutkan sekolah menengah.”
“Tapi El, kamu tahu kan bahwa sekolah punya aturan yang tidak memperbolehkan siswanya menikah selama menempuh masa pendidikan?”
“Saya tahu, Pak. Saya minta maaf.”
Bapak kepala sekolah melepas kacamatanya dan meletakkannya di atas meja. “Bapak turut prihatin dengan apa yang kamu alami. Tapi apa yang kamu lakukan ini tidak benar.”
“Saya tahu, Pak. Sekali lagi saya minta maaf.”
“Karena sudah seperti ini, Bapak tidak bisa lagi membiarkannya begitu saja. Seisi sekolah sudah tahu soal ini. Dan kalau dibiarkan, Bapak khawatir serikat wali murid akan marah dan teman-teman kamu akan ikut-ikutan mencontoh tindakan yang tidak benar ini.”
“Saya paham, Pak. Dan saya siap menanggung semua resikonya.”
“Tunggu! Maaf saya datang terlambat, Pak.” Alfa datang dengan nafas terengah-engah. Ia baru saja berlari dari parkiran yang jaraknya cukup jauh.
“Tidak apa-apa, Pak Al. Silakan masuk! Kami sudah berbicara dengan Elea dan –“
“Pak ini semua salah saya. Saya yang tidak berfikir jernih dan nekad melanggar aturan. Tolong jangan hukum Elea, Pak!”
“Maaf, Pak Al. Tapi kami tidak bisa membantu Bapak. Sebagai seorang pengacara, Pak Al tentu tahu resiko dan konsekuensi yang akan kalian hadapi.”
“Tapi Pak, sekarang Elea sedang mengikuti ujian akhir nasional. Apa tidak bisa masalah ini kita biarkan sampai ujiannya selesai?“ Elea menggenggam tangan Alfa untuk menghentikannya berbicara berbelit-belit.
“Maaf, Pak Al. Sepertinya itu juga sangat sulit. Karena kabar ini sudah menyebar kemana-mana. Kalau dinas pendidikan tahu, masalahnya akan semakin sulit untuk diatasi.”
“Tapi Pak, saya mohon. Hanya sampai ujian nasionalnya selesai, Pak. Hanya beberapa hari. Saya mohon!”
“Seperti yang saya katakan sebelumnya. Saya siap menerima semua resikonya.” Elea ingin segera menyudahi semuanya.
"Apa Mas Al tahu siapa yang mengirim surat dan foto itu ke sekolah?"
"Hanya keluarga kamu dan kita yang tahu dan punya foto itu."
"Maksud Mas Al? Itu perbuatan Mas Beni atau Mas Tora?"
"Gimana kalau aku ngga diijinin ikut ujian lagi?"
"Tenang aja, aku bakal lakuin semua cara supaya kamu bisa tetep ikut ujian dan lulus. Oke?"
*****
Dewan guru akhirnya mengadakan rapat dan memutuskan untuk memberi Elea kelonggaran sampai ujian kelulusan berakhir. Selain waktunya tidak lama lagi, mereka juga merasa prihatin dengan kondisi Elea. Bagaimanapun juga, ia telah berusaha dengan sangat baik selama tiga tahun terakhir. Amat disayangkan jika ia akhirnya tidak bisa mendapat ijasah hanya karena isu pernikahan dini tersebut.
Elea merasa senang karena masih diberi kesempatan untuk lulus sebagai siswa SMA Harapan. Tapi hari demi hari hingga ia lulus dari sekolah itu harus Elea lalui dengan sangat berat.
Setelah kabar tentang pernikahannya dengan Alfa menyebar, tidak sedikit teman-teman sekolahnya yang mencibir dan merundungnya. Teman-teman yang tadinya bersikap baik dan ramah kepadanya sekarang berubah memperlakukannya layaknya sampah yang mengotori sekolah dengan aibnya.
Meskipun begitu, Elea tahu bahwa ia hanya perlu bersabar hingga hari pengumuman hasil kelulusan tiba.
*****
Hari yang dinantikannyapun akhirnya tiba. Elea mendapatkan nilai sangat memuaskan meskipun bukan yang tertinggi karena nilai matematikanya hanya sukses menyentuh angka tujuh koma lima.
Meskipun begitu, Elea merasa sangat bersyukur karena akhirnya bisa lulus dari sekolah menengah atas. Kini ia hanya perlu mempersiapkan diri agar bisa masuk ke Akademi Seni SH yang sudah diimpikannya sejak lama.
Untuk merayakan kelulusan para siswa, SMA harapan mengadakan pesta pelepasan atau wisuda yang diselenggarakan dengan sangat meriah. Mereka mengundang para siswa dan wali murid untuk menghadiri acara wisuda yang dimeriahkan dengan aneka hiburan yang ditampilkan oleh siswa kelas satu dan dua SMA Harapan.
Hari itu, Alfa sengaja meluangkan waktunya untuk hadir sebagai wali sekaligus suami Elea. Tidak sedikit yang melayangkan pandangan menyudutkan kepada mereka, tapi Elea memilih untuk tidak terpancing dan merusak suasana.
"Jadi, apa kamu sudah memutuskan kemana akan melanjutkan kuliah kamu, El?" tanya Alfa ditengah acara sambutan.
"Akademi Seni SH." jawab Elea singkat.
"Kamu yakin?"
Elea mengangguk yakin, "Aku sudah mengajukan pendaftaran dan lolos seleksi administrasi. Hanya tinggal menunggu panggilan untuk tes tulis dan bakat saja."
"Waw!" hanya itu kata yang bisa keluar dari mulut Alfa.
Ia bahkan belum terpikirkan bagaimana reaksi mamany ketika tahu bahwa namanya lah yang tercantum sebagai wali dalam formulir pendaftaran Elea.
"Mas Al kenapa? Kok kaya ngelamun gitu?"
"Ngga. Siapa yang ngelamun?"
"Mas Al tenang aja! Kalau soal biaya, ngga usah dipikirin. Aku sudah melamar sebagai karyawan part time di beberapa tempat. Aku yakin kok, ngga lama lagi aku pasti dapet panggilan wawancara."
"Bukan soal itu.... Apa?! Kamu kerja sambil kuliah?!" Alfa baru saja sadar apa yang Elea katakan. "Ngga, ngga! Ngga boleh! Kamu harus fokus sama kuliah kamu. Ngapain juga mikirin kerjaan segala? Ngga usah. Aku ngga ngijinin kamu kerja."
"Jangan gitu dong, Mas. Aku pengen mandiri. Aku tahu betul kalau aku ngga bisa selamanya bergantung sama Mas Al. Jadi, plis...."
"Siapa bilang kamu ngga bisa selamanya bergantung sama aku?" Alfa agak tersinggung dab tidak nyaman dengan pernyataan itu.
Elea menggenggam tangan Alfa sambil menatap lembut kedua matanya, "Mas, aku pengen ngerasain apa yg orang lain juga rasain. Capek nyari duit, senang karena dapet gaji, pusing karena hutang dan semua hal lain. Entah itu menyedihkan atau menyenangkan, aku ingin bisa menghadapi semuanya sendiri. Aku ngga pengen jadi anak manja yang cuma bisa ngandalin duit suami."
Alfa tidak tahu apakah keputusannya tepat. Tapi gadis itu benar. Ia berhak menjalani dan menikmati hidupnya sendiri. Alfa hanya harus meyakinkan gadis itu bahwa ia akan selalu ada kapanpun Elea merasa lelah dan ingin bersandar.