My MicroWife

My MicroWife
Mengusir Secara Halus



Malam harinya, ketika Nafan tiba, Alfa menceritakan semua kejadian yang sebenarnya. Tentang bagaimana mereka menikah, tinggal bersama hingga tiba di rumah induk.


“Pa, Al siap menanggung semua konsekuensinya. Karena itu, Al akan membawa Elea kembali ke apartemen. Al juga ngga akan minta apa-apa lagi sama papa. Papa bisa pindahkan semua aset dan saham Al ke Arka. Al cuma minta satu hal sama papa, tolong buat mama ngijinin Elea nyelesaiin kuliahnya di SH. Dia pelukis yang sangat berbakat, pa. Ngga adil kalau dia harus kehilangan kesempatan hanya karena kesalahan Al.”


Nafan menyandarkan tubuhnya ke sofa. Ia merasa tengah menghadapi beban yang sangat berat. Ia tahu betul tabiat istrinya. Tapi ia juga paham betul posisi dan perasaan putranya.


“Gini aja, Al. Untuk sementara waktu, kamu sama Elea tetap tinggal di rumah induk aja.”


“Ngga, Pa. Rumah itu milik mama dan Al ngga mau ngebuat Elea tertekan.”


Sekarang Nafan bisa tersenyum karena anak sulungnya telah tumbuh menjadi pria yang bertanggung jawab. “Baiklah, Al. Lakukan saja apa yang menurut kamu terbaik bagi kalian berdua. Soal mama, biar nanti papa yang bicara. Tapi soal Arka –“


“Arka kenapa, Pa?”


“Sebagai sesama lelaki, papa tahu betul kalau Arka sangat mencintai Elea. Jika tahu soal ini, papa khawatir dia –“


“Mau sampai kapan kita menyembunyikan kebenaran, Pa?”


“Al –“


“Arka sudah dewasa. Dia juga seharusnya belajar untuk menerima kenyataan dan menanggung resiko dari perasaan sepihaknya.”


“Jadi kamu akan tetap memilih Elea daripada adik kamu sendiri?”


“Mereka berdua manusia yang punya perasaan, Pa. Bukan barang yang bisa Al pilih hanya karena terikat dalam hubungan darah.”


Nafan kembali menarik nafasnya dalam-dalam. “Baiklah, Al. Mari perbaiki ini pelan-pelan.”


******


Setelah mendapat kabar dari Jihan, malam itu Johan mendatangi kafe tempat favorit Erlita. Seperti biasa, Erlita telah memesan tempat khusus untuknya menangis. Johan yakin malam itu Nafan akan sedikit terlambat menjemputnya karena harus mengurus Alfa lebih dahulu. Jadi Johan memutuskan untuk menemani Erlita disana.


“Ngapain lo kesini, Kak? Nafan yang suruh lo?”


“Ngga. Jihan yang kasih tahu gue kalau lo pasti lagi kacau malam ini.”


“Jadi dia mau lo kirimin dia vidio gue lagi nangis-nangis, hancur berantakan?”


“Ngga, dia cuma nitip ini.” Johan menyodorkan sekotak tisu.


“Sialan!”


“Masih belum kelar nangisnya, Ta? Atau malah baru mau dimulai?”


“Thanks lo udah berusaha ngehibur gue, Kak. Tapi kali ini lo ngga bakal berhasil. Perasaan gue hancur lebur. Gue ngga nyangka kalau gue bakal nerima kegagalan sebesar ini, Kak.”


“Ta, ngga ada manusia yang sukses terus seumur hidupnya. Sejauh ini, lo udah dapetin semua yang lo pengen. Mungkin sekarang giliran Al dapetin apa yang dia pengen.”


“Tapi kenapa harus Elea, kak?”


“Cinta ngga bisa diatur Ta. Lo paling tahu soal itu.”


Erlita kembali menangis tersedu-sedu. “Alfa adalah tumpuan hidup gue, kak. Harapan hidup gue. Tapi apa yang gue dapet sekarang? Gue kehilangan Alfa.”


“Ta, coba deh lo ubah sedikit cara pikir lo. Kalau mau jujur sebenernya lo udah lama kehilangan Alfa. Sejak dia memilih buat tinggal sama gue, lalu sekolah di luar negeri dan membeli apartemen sendiri.”


Erlita meneguk minumannya.


“Malah bisa dibilang, lo baru aja ngedapetin Alfa kembali dan itu karena gadis itu. Dia yang bisa membuat Al mau kembali ke rumah lo lagi, ke rumah induk dan ke dalam keluarga lo. Bukan Elea yang membuat Alfa menjauh dari elo, Ta. Tapi lo sendiri. Ego lo yang mau terus mengatur dan menguasai hidup Alfa.”


“Kalau lo kesini Cuma mau buat gue kesel, mending lo pergi aja deh, Kak.”


“Pasti, Ta. Ngga cuma gue, semua orang pada akhirnya bakalan ninggalin elo kalau lo terus-terusan kaya gini. Gue tahu betul lo kaya gimana, Ta. Tapi lo yang sekarang sudah jauh berubah. Lo bukan lagi Erlita yang paling pandai memanusiakan manusia.”


Johan kemudian pergi meninggalkan Erlita sendirian. Ia tidak tahu kenapa bukannya menghibur tapi malam membuat Erlita semakin marah. Hanya saja ia merasa perlu memberikan tamparan lebih keras kepada adik sepupunya itu sebelum ia benar-benar kehilangan semuanya kelak.


*****


“El, udah dong. Kamar gue bisa banjir kalau lo terus-terusan nangis.”


“Aku mesti gimana sekarang, Kak?”


“Iya, diem. Lo mesti diem dulu sekarang biar bisa mikirin ke depannya gimana.”


Elea melai menghentikan suara tangisnya. “Apa ada pekerjaan full time yang mau menerima lulusan SMA kak?” tanya Elea tiba-tiba.


“Ya ada, cleaning servis, ob, admin mungkin.”


“Apa Kak Nasya bisa cariin pekerjaan itu buat aku?”


“Lo mau jadi cleaning service? Bukannya lo udah kerja di SH Mall?"


“Apa aja yang penting halal. Aku mau keluar dari mall. Aku ngga mau dianggap jadi benalu sama tante Lita.”


“Iya tapi kan kuliah lo belum kelar, El?”


“Mana mungkin SH mau nerima mahasiswa yang udah nikah, Kak? Apalagi nikahnya sama Mas Al.”


Nasya merasa prihatin dengan nasib dan masa depan gadis lugu itu. ia hanya memandangi wajahnya yang basah oleh air mata dan menyekanya dengan tisu. Jika dulu Electa masih hidup, mungkin ia juga akan merasakan momen seperti itu dulu.


“Lo yakin mau keluar dari SH?”


“Gue bakal bantu Al buat nemuin kampus lain sampai lo bisa lulus. Kalau ngga ada di sini, kita cari di luar kota atau bahkan luar negeri kalau perlu.”


“Ngga kak. Aku ngga pengen terus membebani Mas Al lagi.”


“Maksud lo apa?”


“Aku mau cerai.”


*****


Sejak kejadian itu, Elea belum bertemu lagi dengan Erlita. Ia memilih tinggal di apartemen Nasya untuk sementara waktu.


Sementara itu, semester genap baru di mulai dan hari itu Elea memulai hari pertamanya di semester ke dua.


Semua berjalan normal seperti biasanya sampai sesaat sebelum bel pulang berbunyi, nama Elea dipanggil melalui pengeras suara dan diminta untuk menghadap ke ruang dekan.


“Maaf, El. Jujur bapak tidak terlalu paham situasinya, tapi Ibu Lita menyatakan bahwa kamu dikenakan sanksi karena melanggar beberapa aturan kampus. Dan sanksinya sangat berat.”


“Jadi bapak juga tidak tahu aturan mana yang saya langgar sampai saya harus dikeluarkan dari sekolah?”


“Ini –“


“Baiklah, Pak. Saya mengerti. Bapak tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi. Saya permisi, Pak.”


Elea menyerahkan surat pemberitahuan yang diterimanya dari sekolah kepada Jihan dan Dean. Sontak saja Jihan naik pitam dan langsung mendatangi kediaman Erlita bersama suaminya.


“Ta, lo bener-bener kelewatan! Gue ngga nyangka lo bakal milih jalan selicik dan sekotor ini.”


“Gue Cuma mau dia keluar dari kampus gue. Entah dengan cara apapun.”


“Lo jahat Ta! Lo pikir bakal ada kampus lain yang bisa nerima siswa dengan catatan kenakalan seperti ini?”


“Sayangnya itu bukan urusan gue.”


“Oke, Ta. Gue bakal tuntut lo atas pencemaran nama baik. Lo udah memfitnah seorang anak kecil atas kesalahan yang sama sekali ngga pernah dia perbuat.”


“Terserah elo, Kak. Lakuin aja apa yang lo mau!”


Tak lama kemudian Alfa muncul dengan membawa surat somasi dan tuntutan. “Al juga ngga terima.”