
Suatu ketika, sepulang kuliah, Elea mampir ke sebuah kafe tempat Ruri bekerja. Ia menemui Ruri yang sedang berdiri di meja kasir.
“Mau pesan apa?” tanya Ruri tampa menoleh kepada pelanggan yang sedang berdiri di depannya.
“Dua chiju Red Velved dan dua chrispy chicken toast.”
"Eh, elo, El?" Ruri mengamati sekeliling untuk memastikan bahwa Elea tidak salah sebut.
“Dua. Aku pesen masing-masing dua. Buat kita.”
Ruri kembali memencet tombol di mesin pemesanan. “Seratus delapan ribu.”
“Jam berapa kamu pulang?”
“Lima belas menit lagi.”
“Ngapan lo kesini?”
“Ketemu kamu.”
“Gue? Mo ngapain?”
*****
“Duduk!” Elea menyodorkan roti dan minuman yang sudah dipesannya kepada Ruri.
"Lo ngga jadi kerja disini?"
"Gue udah diterima kerja di mall. Buat gue lebih mudah menyambut dan membantu orang memilih belanjaan daripada bersih-bersih di dapur."
Ruri tertawa mendengar penuturan Elea. Ia tahu betul betapa payahnya Elea dalam hal bersih-bersih dan beberes. "Jadi lo kerja di mall mana?"
"SH."
"What?! SH Mall?"
Elea mengangguk sambil menjejalkan roti ke dalam mulutnya.
"Lo punya hubungan apa sih sama SH? Kuliah di SH, kerja sambilan di SH. Kaya ngga ada tempat lain aja.."
"Iya yah? Kok bisa kebetulan banget. Habisnya cuma SH mall yang mau langsung mempekerjakan lulusan SMA yang ngga berpengalaman kaya aku. Kalau diinget-inget lagi, kayanya aku emang jodoh sama SH. Karena waktu tes dan wawancara kerja kemarin, kayanya semua bagian gue pas yang gampang banget gitu. Pas interview, aku cuma ditanya data diri sama alasan kerja di SH Mall. Udah, gitu doang. Padahal yang lain-lainnya tuh wawancaranya lama banget dan katanya ditanyain macem-macem."
Ruri jadi ingat bahwa ia pernah mengeluh kepada Elea karena berkali-kali melamar kerja di SH Mall tapi gagal dalam tahap wawancara yang menurut Ruri rumit dan penuh jebakan batman.
"Oh, jadi lo nungguin gue cuma buat pamer kalo lo bisa nakhlukin tes SH dengan satu kedipan mata gitu?"
Elea tertawa, " Tapi kamu tetep lebih jago buat bersihin kafe sebelum tutup."
"Sialan! Puas lo ngeledekin gue?" Ruri ikutan tersenyum sambil menyeruput minumannya.
“Ri, sepulang dari kafe lo waktu itu, Kak Davian nyamperin gue dan minta maaf.”
“Lo masih aja galau sama cowok kaya dia? Kalau menurut gue tu cowok kadal gurun pasir. Pinter banget pura-pura keren padahal tetep aja kadal.”
“Maksud kamu apa sih?”
“Kalau menurut gue dia itu sok cool karena dia ngga tertarik sama cewek manapun. Dia itu kadal gila yang terobsesi sama Kinara Gunawan.”
“Kinara Gunawan?”
“Iya, pelukis yang terkenal itu loh.”
“Aku pernah denger namanya dan tahu banget karyanya. Tapi aku ngga pernah tahu gimana orangnya. Kamu tahu darimana?”
“Beberapa bulan lalu, pelukis itu mampir ke sini. Nah tu cowok penguntit ngikutin dia sampai ke sini, ngajak ngobrol tapi dicuekin sama tu cewek. Kayanya dia terobsesi banget sama tu cewek.”
“Kamu masih inget seperti apa pelukis itu?”
Elea mengeluarkan kertas kosong dan pensil lalu menggambarkan sketsa berdasarkan penuturan Ruri.
“Rambutnya hitam panjang, pipinya tirus, hidung mancung.................... “
Elea menggambarkan dengan sangat teliti.
“Terlalu gemuk, El. Lingkar pinggangnya cuma segini dan dia selalu menggunakan ikat pinggang rantai berwarna emas.”
Seketika itu Elea berhenti menggambar. 'ikat pinggang rantai berwarna emas?'
“Kenapa, El?”
Elea tersenyum lalu kembali melanjutkan gambarnya, sebuah ikat pinggang rantai berwarna emas. Rupanya itulah alasan Davian memberinya hadiah itu. Dia ingin Elea seperti Kinara Gunawan, idolanya.
“Nah, betul banget! Lo jago juga ngegambar yak? Mirip banget.”
‘ Ini kan Nara yang ..... apa benar mereka adalah orang yang sama?’
“El, kok lo malah ngelamun sih?”
“Sori, aku kaya pernah lihat orang ini tapi lupa dimana, hehe..”
“El, udah dulu yah. Gue mau pulang dulu, capek.”
“Tunggu! Kita pulang bareng.” Dan Elea langsung mengikuti langkah Ruri tanpa menunggu persetujuan.
******
Mereka pulang bersama menyusuri sebuah gang sempit, jalan pintas menuju halte bus. Karena ponselnya tertinggal, Elea buru-buru kembali ke kafe yang masih belum terlalu jauh dari gang yang mereka lalui.
Karena terburu-buru mengejar Ruri, Elea hampir saja menabrak seorang pria yang mengenakan topi dan jaket kulit berwarna hitam. Pria itu juga terlihat tergesa-gesa.
Saat sampai di gang, Elea melihat Ruri tengah terduduk di lantai dengan sesosok mayat wanita bersimbah darah dan sebuah pisau tergeletak di depannya.
“Ruri!”
Elea melihat Ruri tengah meringkuk sambil menangis. Tubuhnya bergetar hebat, tangannya gemetar meremas celana yang dikenakannya.
Dan tak lama kemudian polisi datang dan membawa mereka.
***
Malam itu Elea memberikan keterangan sebagai saksi. Ia bersikeras bahwa Ruri tidak mungkin membunuh Laras, wanita yang tidak lain adalah kekasih Leo, pemilik kafe tempat mereka bekerja.
Tapi keluarga korban mengajukan tuntutan dan Ruri terpaksa ditahan sebagai tersangka karena ia mengakui telah melakukan pembunuhan itu dan bukti berupa pisau yang ditemukan di TKP sudah diamankan dan dipastikan bahwa sidik jari Rurilah yang ada disana.
“El, sebaiknya kita pulang dulu. Kamu juga perlu istirahat. Ini pasti berat buat kamu.”
“Aku ngga papa, Mas. Hanya Ruri yang perlu kita khawatirkan sekarang.”
Alfa menghembuskan nafas kasar.
“Mas, bagaimanapun caranya, Mas Al harus membantu Ruri. Kita harus mengeluarkan dia dari sana. Dia ngga salah, Mas!”
“Bagaimana bisa kamu seyakin itu padahal kamu tidak melihat sendiri kejadiannya? Dan semua bukti mengarah ke Ruri.”
“Ruri memang tidak seramah orang lain tapi dia bukan orang jahat. Dia ngga punya masalah apapun dengan korban?”
“Bagaimana kamu tahu?”
“Ruri bukan tipe orang yang mudah bicara dan suka ikut campur urusan siapapun.”
“El, bukankah keluarga korban menduga bahwa Ruri cemburu karena memiliki perasaan terhadap Leo, bosnya?”
“Omong kosong! Ruri tidak memiliki hubungan apapun dengan Laras dan Leo.” bantah Elea yakin.
“Kalau memang bukan dia pelakunya kenapa Ruri diam saja dan malah mengakui perbuatan itu?”
“Entahlah, mungkin dia diancam, Mas. Mas kita harus membantu Ruri. Aku yakin dia ngga bersalah. Dia hanya korban.”
“Baiklah, besok aku akan menyelidiki kasus ini lebih lanjut tapi malam ini sebaiknya kita pulang dan istirahat dulu.”
***
Alfa mulai melakukan penyelidikan di sekitar TKP dan ia tidak banyak menemukan saksi dan bukti yang membantu karena tidak ada kamera cctv di sekitar kawasan itu. Dan kebetulan sekali pada saat kejadian gang tempat terjadinya pembunuhan sedang sepi.
Alfa kemudian memperluas penyelidikannya ke tempat Ruri bekerja, ke sekolah, paman dan adik Ruri, satu-satunya keluarga dan wali yang Ruri miliki.
‘Ternyata Ruri masih memiliki seorang adik laki-laki berusia enam tahun. Apa mungkin pelaku sesungguhnya mengancam Ruri dengan menggunakan anak itu?’
Alfa bergegas mendatangi Elea.
“El, apa kau melihat orang lain di sekitar TKP saat kejadian?”
Elea mengingat-ingat, “Apa mungkin pria itu?”
Elea mengambil sebuah kertas lalu menggambarkan sketsa wajah pria yang hampir ditabraknya malam itu.
“Apa kau yakin ini orangnya?”
Elea mengangguk, “Aku hampir menabraknya gara-gara buru-buru balik ke gang. Dan sepertinya orang itu juga datang dari arah gang.”
***