My MicroWife

My MicroWife
Reuni Kecil



Jam pelajaran selesai dan Elea menemui dosen walinya untuk meminta ijin melihat rekaman cctv. Tapi mereka tidak memberikan ijin.


Elea segera menghubungi Alfa dan menceritakan semuanya karena khawatir bahwa rekaman cctv nya akan segera dihapus sebelum mereka sempat melihat kebenarannya.


Elea terus membuat keributan di ruang pengamanan demi mengulur waktu dan tidak lama kemudian Alfa datang disusul dengan mamanya. Mereka melihat rekaman cctv bersama-sama dan melihat bahwa Biancalah yang sengaja memasukkan jam tangan itu ke dalam tas Elea ketika jam istirahat.


Bianca yang tahu persis apa yang terjadi di dalam, bersiap menunggu Elea di depan pintu ruang keamanan. Begitu Elea keluar, Bianca langsung menyeretnya dan membawanya ke dekat kolam renang karena disanalah ruangan yang sepi pada jam kuliah.


Sementara itu, Erlita menghentikan Alfa yang hendak menyusul Elea. Ia ingin tahu kenapa Alfa ada disana ketika ia baru saja menolak ajakan mamanya untuk bertemu Nara dengan alasan sibuk.


“Ngapain lo maksa liat rekaman cctv?”


“Karena gue ngga mau dituduh jadi maling.”


“Lo sengaja mau ngaduin gue? Ngebuat reputasi gue hancur dan dituduh jadi tukang fitnah?”


“Tapi emang bener kan? Itu kenyataannya. Kalau kamu ngga mau dituduh dan takut nama baik kamu tercemar mestinya dari awal kamu mikir dua kali sebelum bertindak.”


“Mulai sekarang, gue ngga akan biarin lo bahagia gitu aja. Gue bakal bales perbuatan lo hari ini ke gue.”


“Lucu! Kamu yang nuduh aku maling, kamu yang mau balas dendam.”


“Banyak bacot lo, El!” Bianca mendorong Elea ke dalam kolam.


Alfa yang segera mengakhiri perdebatan dengan mamanya segera mencari keberadaan Elea. Ia bergegas lari ke kolam renang ketika mendengar suara ceburan ke dalam air. Pikirannya kacau dan ia hanya ingin memastikan bahwa bukan Elea yang jatuh ke dalam kolam.


Ketika tiba di kolam, Bianca sedang berdiri di tepi kolam memandangi Elea yang berusaha berenang.


“El!” Alfa berteriak dan mulai panik.


Tapi saat ia hendak melompat ke dalam air, ia melihat Elea muncul ke permukaan dan mulai berenang ke tepi kolam. Alfa merasa lega karena Elea akhirnya bisa menyelamatkan dirinya sendiri.


Alfa segera membantunya naik dari dalam kolam, melepaskan jasnya lalu menutupkannya ke tubuh Elea yang basah kuyup.


“Kamu ngga papa, El?”


“Aku ngga papa, Mas. Makasih yah udah ajarin aku renang. Akhirnya hari ini datang juga. Hehe..”


“Ya sudah. Ayo pergi!” Alfa mengajak Elea pergi dari kolam tapi kemudian meminta Elea menunggu sementara ia kembali menghampiri Bianca.


“Siapapun nama kamu, denger baik-baik yah! Jangan berani macam-macam lagi sama Elea! Kalau berani melanggar hukum lagi, saya tidak akan segan untuk menyeret kamu ke depan hakim.”


******


Alfa akhirnya membelikan Elea baju dan memintanya ganti di pom bensin karena tidak ingin Elea sakit akibat terlalu lama memakai seragam yang basah. Selain itu ia tidak ingin ada pria lain yang melihat kemeja putih yang basah itu menempel di tubuh istrinya.


“Udah Mas.”


“Kita makan dulu ya, El?”


“Mas Al tahu aja kalau aku lagi laper?”


“Habis renang kan biasanya kamu kelaparan.”


“Bener juga. Btw, aku ngga nyangka kalau Bianca bakal senekat itu.”


“Cewek kalau lagi cemburu emang nakutin.”


“Makanya aku ngga mau cemburu. Biar ngga jadi monster.”


‘Tapi aku pengen kamu jadi monster itu karena aku, El.’ Batin Alfa.


“Kok Mas Al diem aja?”


“Ngga papa, kok. Terus rencana kamu apa?”


“Menjadi sepuluh terbaik dalam ujian kenaikan besok supaya bisa masuk kelas intensif. Cuma itu satu-satunya cara supaya aku bisa menghindari Bianca. Lagian aku pengen cepet-cepet lulus dengan nilai bagus, Mas.”


“Kenapa?”


“Supaya kita ngga terus-terusan kucing-kucingan kaya gini. Cape pura-pura terus.”


“Kamu mau kita ngaku setelah kamu lulus?”


‘Entahlah, apa bisa seperti itu? Atau mungkin malah sebaliknya’


“Kok malah diem, El?”


“Kelamaan. Sekarang aja kita ngaku gimana?”


“Mas Al gila ya? Ngga ah. Ngga mau. Ngga boleh. Bisa kacau kalau sampai diusir dari SH.”


******


Mereka akhirnya tiba di sebuah rumah kontrakan tidak jauh dari apartemen Alfa. Sudah ada Ruri, paman dan adiknya, juga Niken dan Davian yang menunggu kedatangan Elea dan Alfa hari itu.


“Elea!”


Ruri, Niken dan Elea berpelukan dan saling melepas rindu karena sudah cukup lama tidak bertemu.


Alfa memberi mereka waktu dan mengajak Davian dan Paman Ruri bicara di di ruang tamu.


“Gue ngga nyangka kamu bakalan ada disini juga, Dav.”


“Maaf Kak. Tapi gue ngga punya kesempatan buat minta maaf sama Elea. Karena sejak hari itu dia ngga mau lagi balas pesan dan telepon gue. Jadi gue pikir ini kesempatan bagus.”


Alfa tersenyum. “Gue suka lo berani terus terang kaya gini. Gimana kabar bokap lo?”


“Seperti yang Kak Al tahu. Dia hanya peduli dengan perusahaan dan uang. Karena itu dia maksa gue tunangan sama Erika. Karena bokapnya Erika salah satu investor besar di perusahaan bokap.”


“Dan thanks juga karena lo udah kasih gue banyak info soal Roni Wijaya.”


“Ngga masalah, Kak. Tapi lo tetep harus hati-hati. Lo baru aja bangunin singa tidur. Lo tahu kan kak kalau mereka bukan tipe orang yang akan diem aja ketika privasinya diganggu?”


“Gue tahu, Dav. Dan itu yang selalu bikin gue khawatir sama Elea. Karena dia satu-satunya saksi mata yang ngelihat Roni keluar dari gang itu saat kejadian.”


“Gue juga, Kak. Tapi lo masih punya senjata ampuh, kak.”


Alfa mengangguk, “Gue bakal pake saat perlu.”


Davian ikut manggut-manggut. “Lo harus bisa lindungi Elea gimanapun caranya.”


“Pasti.”


“Kalian lagi ngomongin apa sih? Serius amat?” Elea datang bersama Ruri dan Niken juga Bara, adiknya Ruri dengan membawa banyak makanan dan minuman ke ruang tamu.


Elea kemudian makan dengan lahapnya.


“El, lo laper apa maruk?” tanya Niken. “Emang di kampus lo ngga ada kantin? Ato lo ngga dijajanin sama Kak Al?”


“Ada Ken. Tapi gue ngga sempet makan karen ada cewek rese yang selalu aja gangguin gue.”


“Kalian tahu ngga kalau Elea baru aja diceburin ke kolam lagi?” tanya Alfa.


“Hah?!” semua mata terbelalak menatap Elea.


“Lo ngga papa?” tanya Niken dan Davian bersamaan.


“Ya ngga papalah. Orang dia udah disini dan makan kaya gelandangan kelaparan gitu.” Jawab Ruri ketus.


“Bener, Ri. Aku ngga papa karena kan aku udah bisa renang.”


“Hah? Beneran?” tanya Niken excited.


“Mas Al hebat. bisa juga ngajarin murid bebal kaya dia.” Puji Ruri.


“Kok Mas Al sih Ri. Harusnya kamu muji aku karena udah bisa renang.” Protes Elea.


“Dimana-mana yang hebat dan layak dapat pujian itu gurunya, bukan muridnya.”


“Iya, tapi tadi kamu kok ngatain aku murid bebal sih, Ri?” Elea masih aja protes tapi Alfa kemudian mengambilkan roti lagi dan menyuapkannya kepada Elea agar gadis itu berhenti mengomel.


Paman Ruri tertawa melihat tingkah mereka.


“Mas Al, saya ingin berterima kasih sekali sama Mas Al dan juga Elea dan teman-teman Ruri semuanya karena sudah mau membantu Ruri sampai sejauh ini.”


“Jangan ngomong kaya gitu, Pak. Itu sudah jadi tugas saya. saya harap Ruri bisa segera ikut kejar paket sepaya bisa lulus dan kuliah seperti teman-temannya yang lain."


Hari itu, mereka semua berbahagia karena akhirnya bisa berkumpul kembali tanpa tahu hal lain yang sudah menunggu mereka di depan sana.


******