My MicroWife

My MicroWife
Si Ramah Arkana (3)



Siang harinya, Arka juga mengabari Alfa bahwa dia juga akan menjemput Elea dan mengajaknya jalan-jalan karena kebetulan hari itu Elea sedang libur kerja.


Mereka tiba di salah satu restoran cepat saji. Elea memesan menu kesukaannya, paket ayam krispi, burger dan kentang goreng serta es krim coklat sebagai penutup.


“Mas Arka mau pesen apa?”


Arka menggeleng. “Gue ngga bisa ngebiarin junk food masuk ke perut gue.”


“Kalau Mas Al pasti bakal pesen kentang goreng sama air mineral. Itupun makannya lama banget dan ujung-ujungnya ngga habis juga.”


“Emang kamu pernah ajak Kak Al kesini?”


“Pernah, beberapa kali malah. Tapi dulu waktu aku belum tahu kalau dia ngga suka fast food.”


“Beberapa kali?”


Elea mengangguk, “Lagian dia ngga pernah bilang kalau ngga suka makanan cepat saji. Jadi yah bukan salah aku kan?”


“Iyalah, salah dia yang ngga mau jujur. Iya kan?”


“He’eh.. bener banget itu.”


Tak lama kemudian Erika datang bersama dua orang temannya, memesan makanan lalu pergi.


“Kenapa, El? Kamu kenal sama mereka?”


Elea mengangguk, “Mereka teman sekolah aku."


Elea kemudian menceritakan bagaimana tragedi kolam renang yang pernah dialaminya dulu dan bagaimana Alfa bersikap berlebihan.


“Jadi itu emang ngga disengaja?”


“Ngga, Mas. Beneran kecelakaan. Tapi Mas Al malah ngamuk-ngamuk dan ngancam mereka segala.”


“Lebay banget emang tu orang.”


“Bener kan? Akhirnya ada juga yang setuju sama pendapat aku. Mas Al malah makin marah waktu aku bilang kalau dia lebay.”


Elea senang karena akhirnya bisa menemukan teman yang sefrekuensi dengannya.


“Dia pasti ngga tahu gimana canggungnya kamu kalau ketemu mereka setelah kejadian itu gara-gara aksi sok pahlawannya.”


“Iya, itu dia... bener banget. Aku sempat menghindari mereka karena malu.”


“Oh ya?”


“Belakangan aku baru tahu kalau Mas Al bersikap seperti itu bukan hanya karena dia seorang pengacara penggaris kayu tapi karena sebenarnya dia tahu bahwa Kak Davian itu sudah dijodohkan sama Kak Erika dan bahwa Kak Davian terobsesi sama aku hanya karena menganggap aku mirip sama Kinara Gunawan.”


Arka tiba-tiba saja tersedak, “Apa? Siapa?”


“Kinara Gunawan. Itu loh pelukis muda berbakat yang terkenal dengan lukisan "Hope". Kabarnya lukisan itu harganya sangat mahal dan dibeli anggota kerajaan inggris untuk dijadikan salah satu koleksi di galeri kerajaan.”


“Kamu kenal sama pelukis itu?”


“Ngga sih, Kak. Aku ngefans banget sama dia. Inspiratif banget. Banyak lukisan aku yang berkiblat sama dia. Aku pengen kaya dia. Tapi aku belum pernah ketemu sama orangnya.”


“Wah, baru seusia ini tapi kamu sudah punya cita-cita besar. Hebat loh! Semangat ya!”


Padahal jauh di lubuk hatinya, Arka berharap keduanya tidak pernah bertemu.


Setelah keluar dari rumah makan cepat saji, Elea mengajak Arka mampir ke sebuah food truck jauh dari sana.


“Aku mau beli wafel dulu buat Mas Al.”


“Sejak kapan Kak Al suka jajanan manis?”


Elea mengangkat kedua bahunya, “Aku pernah mengajaknya kesini untuk makan es krim. Dan setelah mencoba wafel disini dia jadi ketagihan.”


Karena penasaran Arka mencoba kue wafel yang direkomendasikan Elea dan dia benar-benar tidak percaya bahwa kakaknya benar menyukai makanan seperti itu.


***


Malam harinya, Alfa mengajak Arka dan Elea berkunjung ke rumah Handoyo. Sejak kembali dari Harvard Arka belum pernah mampir kesana.


Melihat Alfa yang berjalan mendahului Arka dan Elea, Tara langsung paham situasinya.


Ia langsung menyambut Arka dengan hangat, memeluk dan mencium pipi bocah menggemaskan itu.


“Gue udah mau jadi dokter dan lo masih aja nyiumin gue kaya anak kecil. Gimana Elea bakal suka sama gue?”


“Lo tu ngga berubah, Ka. Masih aja suka becanda dan bikin gemes. Masuk yuk! Tobi pasti seneng banget ketemu lo.”


Arka langsung masuk ke kamar Tobi dan bermain cukup lama dengan keponakannya itu. Sementara Elea membantu Tara menyiapkan minuman untuk mereka dan Alfa ngobrol bersama Handoyo di ruang tamu.


“Jadi lo masih mau terus ngelanjutin penyelidikan lo?”


“Han lo tahu kan kalau gue ngga bakal pernah mundur kalau sudah memutuskan?”


“Gue tahu, Al. Tapi ini terlalu beresiko.”


“Kalau takut mengambil resiko, gue ngga bakal milih jadi pengacara, Han. Gue bakal lebih milih duduk di belakang meja kerja bokap gue sambil ngawasin orang-orang kerja dan membungkuk sama gue.”


Handoyo membenahi posisi duduknya.


“Apa lo tahu kalau Roni Wijaya selama ini tinggal di Amerika?”


“Roni Wijaya?” Arka tiba-tiba saja datang dan memotong pembicaraan mereka.


Handoyo menjelaskan tentang kasus hukum yang sedang ditangani Alfa kepada Arka.


“Roni Wijaya?” Arka tampak mengingat-ingat.


Arka lalu membuka ponselnya dan tampak mencari-cari sesuatu. “Apa yang ini orangnya?”


Kebetulan Elea datang dan melihat foto di ponsel Arka, “Iya! Benar itu orangnya.”


“Lo kenal?” tanya Alfa memastikan.


“Gue pernah beberapa kali ketemu dia di bar. Dan sebagai sesama orang Indonesia yang minoritas disana, ngga susah buat saling mengenali.”


“Apa lo tahu sesuatu tentang dia?”


“Dia salah satu pasien di Massachusetts General Hospital. Dan gue kenal sama dokter yang nanganin dia.”


***


Setelah puas membahas tentang kasus pembunuhan yang sedang diselidikinya, Alfa pergi ke balkon untuk menghirup udara segar.


Arka kemudian menyusulnya sembari membawa dua cangkir kopi.


“Jadi lo udah siap buat jadi pengacara kriminal?”


“Gue malah baru tahu kalau lo berubah haluan dari dokter forensik ke dokter bedah plastik.”


Keduanya tertawa. Mereka sudah lama tidak bertemu dan tidak terbiasa untuk saling menyapa satu sama lain melalui pesan maupun panggilan telepon.


“Kak, kalau lo mau pulang dan nemuin mama, gue bakal bantu lo buat nyelidikin Roni Wijaya.”


Alfa menoleh kepada Arka, “Jadi kali ini juga bukan kunjungan cuti kuliah tapi utusan untuk ngebawa gue pulang?”


“Kak, Mama pengen banget ketemu elo. Papa sudah berkali-kali hubungin lo tapi lo tetep aja keras kepala. Mau sampai kapan, Kak?”


“Sampai mama berhenti ngatur-ngatur hidup gue.”


“Lo pikir dengan cara lo lari kaya gini, Mama bakal berhenti? Ngga kak. Lo bakal tahu bahwa Mama justru sudah mengatur semuanya sampai suatu saat nanti lo ngga punya pilihan lain selain nerima.”


Alfa tersenyum sinis, “Apapun yang Mama siapin buat gue bakal sia-sia. Dia hanya akan semakin kecewa sampai akhirnya menyerah.”


“Kak, lo tu kenapa sih? Apa Mama sama Papa pernah berbuat jahat sama elo? Bahkan Papa diam-diam selalu berusaha nutupin keberadaan lo sekarang. Sejak lo pindah ke apartemen itu, Mama selalu berharap bisa ketemu lo. Mama sudah menyesali perbuatannya dulu, apa itu belum cukup buat lo maafin mama?”


Alfa menyeruput kopinya, “Gue ngga pernah nyalahin Mama jadi gue ngga perlu maafin juga. Gue cuma ngga suka dipaksa ngelakuin apa yang ngga gue suka.”


“Tapi itu demi kebaikan lo, Kak. Demi masa depan Kusumo Group.”


“Kebaikan gue? Kusumo Group? Kenapa harus gue? Kenapa Mama ngga keberatan lo milik kuliah kedokteran dan bukannya bisnis?”


“Karena lo yang terpilih, Kak. Lo anak laki-laki pertama yang lebih berhak buat mengelolah mereka. Gue bukan orang yang tepat.”


Alfa kembali tertawa sinis, “Kalau dengan alasan itu gue juga bisa bebas nentuin pilihan gue kaya elo, maka gue juga bakal pilih alasan yang sama. Gue bukan orang tepat.”


Alfa meninggalkan balkon, meletakkan cangkir di meja lalu mengajak Elea kembali ke apartemen. Malam itu Arka tidak punya pilihan selain mengekor kepada kakaknya yang sepertinya sedang marah besar.