My MicroWife

My MicroWife
Materi Terakhir



Tara sengaja menyiapkan baju tidur tipis di lemari dan beberapa varian ****** di laci kamar tamu yang akan ditempati Alfa dan Elea.


Sebelum tidur, Tara mengajak Elea ngobrol sebentar di balkon lantai dua.


“Nah, El. Tugas istri berikutnya adalah manak.”


Elea menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.


“Kamu pasti tahu apa alasan utama orang menikah. Yup! Nafsu. Karena mereka memiliki nafsu yang harus disalurkan dengan cara yang benar. Alfa adalah pria normal. Pasti sangat sulit baginya menahan diri selama satu tahun lebih ini. Dan perlu kamu tahu bahwa melayani suami adalah tugas utama seorang istri, termasuk melayani di atas ranjang.”


Elea menutup wajahnya yang mulai memerah.


Tara membuka tangan yang menutup wajah Elea, “Jangan malu. Aku juga pernah mengalami ketakutan yang sama. Takut tidak bisa melakukannya, takut dia akan kecewa, takut –“


“Hamil. Aku ngga akan pernah bisa kuliah kalau sampai hamil, Kak.”


Tara tersenyum, “Itulah kenapa para ahli menciptakan alat kontrasepsi. Jangan takut, Alfa pasti tahu bagaimana caranya agar kamu tidak sampai hamil.”


Wajah Elea seperti terbakar karena malu. Ia tidak menyangka akan membicarakan hal yang sangat tabu baginya itu dengan Tara.


“Apa aku juga harus melakukannya?”


Tara mengangguk perlahan, “Jika kamu memang mencintai Al. Tapi jika tidak, kamu tidak perlu melakukannya.”


***


Sementara itu di ruang tengah Handoyo sedang menemani Alfa menonton pertandingan bola. Handoyo kemudian menyuruh Alfa minum minuman yang sudah disiapkan istrinya.


“Teh apa ini? Rasanya aneh banget.”


“Biasalah Al, semua yang Tara buat pasti rasanya aneh, kecuali Tobi. Dia paling jago kalau soal membuat anak.”


“Apaan sih lo!”


Melihat istrinya sudah turun, Handoyo langsung mematikan tivi lalu mengajaknya masuk ke kamar yang ada di sebelah kamar tamu.


“Kalian tidur disitu?” tanya Alfa.


“He’em.. Tobi sudah ketiduran di atas. Kasihan kalau harus dipindah-pindah.”


“Oh..”


Menunggu Elea yang tidak turun-turun, akhirnya Alfa berinisiatif untuk menyusulnya ke atas.


“El, lagi ngapain?”


Elea buru-buru memasukkan sesuatu ke sakunya. “Ngga ngapa-ngapain, Kak. Cuma cari udara segar.”


“Dingin, El. Masuk yuk!”


“Hah? Apa?”


“Ayo masuk!”


Elea buru-buru masuk lebih dulu untuk mengambil air minum di dapur. Ia merasa jantungnya berdetak tak karuan dan ia cemas dengan apa yang akan Al lakukan.


Ia kemudian hendak masuk ke kamar tamu. Ketika melewati kamar Tara, langkahnya sempat terhenti ketika mendengar suara ******* dan lenguhan Tara.


Parahnya lagi, pintu kamar itu tidak ditutup rapat dan sedikit terbuka sehingga Elea bisa melihat bagaimana Tara dan Handoyo beraksi di atas meja belajar Toby.


“Sayang, apa kamu yakin membiarkan mereka melihat kita seperti ini?” Bisik Handoyo di telingan Tara


“Lebih baik mereka menonton langsung daripada menonton film porno.” Jawab Tara di sela-sela sedahan yang agak didramatisir.


Elea menelan salivanya. Keringat dingin mulai bercucuran di dahinya.


Sementara itu, Alfa merasa bahwa tubuhnya mulai kegerahan. Ia yakin Tara sudah memasukkan sesuatu ke dalam minumannya.


Ia segera turun menyusul Elea yang sedang mengintip adegan erotis Tara dan suaminya.


Alfa menghampiri Elea lalu menutup kedua matanya dengan tangan dan membawanya masuk ke kamar.


Menyadari bahwa kedua pasutri itu sudah masuk ke kamar, Tara dan Handoyo pindah ke dekat dinding yang memisahkan kamar mereka. Tara terus saja membuah suara ******* yang keras sembara melempar-lempar barang seolah mereka sedang menggila dan berada di atas awan.


Alfa kemudian menutup kedua telinga Elea yang sedang duduk di tepi ranjang.


“Jangan hiraukan mereka! Mereka memang sedikit gila.”


“Mas, pulang yuk!”


****


Sesampainya di kamarnya, Elea masih saja tidak bisa tidur. Perkataan Tara dan apa yang dilihatnya tadi datang silih berganti memenuhi otaknya.


Begitu juga dengan Alfa. Karena obat perangsang yang dimasukkan Tara ke dalam minumannya, ia jadi kegerahan dan tidak bisa tidur. Ia menjadi sangat bersemangat dan tidak kenal lelah.


Tak lama kemudian Elea mengetuk pintu kamar Alfa, membawakan susu hangat dengan mengenakan kimono tipis yang menutupi lingerie yang diberikan Tara kepadanya.


“Susu hangat, Mas?”


“Apa?”


Elea menunduk menyesali kesalahannya dalam memilih kata. Bisa-bisanya dalam situasi seperti itu ia justru menawarkan susu hangat.


“Oh, iya. Makasih ya El.”


Alfa buru-buru meraih segelas susu di tangan Elea lalu bergegas menutup pintu kamarnya. Tapi Elea menahannya.


“Aku ngga bisa tidur, Mas. Boleh aku tidur disini?”


“Apa?! Eh itu –“


Elea sudah masuk dan tidur di ranjang Alfa tanpa menunggu persetujuan. Alfa sempat melihat paha mulus Elea karena bajunya sedikit tersingkap. Ia lalu mengambil selimut dan menutupkannya ke tubuh Elea.


Elea kemudian menarik tangan Alfa. Gadis itu kemudian bangun dan duduk di hadapan Alfa.


“Mas, apa menurut Mas Al, aku pantas menjadi seorang istri?”


Alfa sempat bingung dengan pertanyaan Alfa, tapi melihat tingka Elea ia jadi paham apa yang dimaksud gadis itu.


“Kamu sudah sah menjadi istriku, jadi aku tidak mau lagi menuruhkan hubungan kita ke level pacaran. Dan aku tidak akan pernah menikahi gadis yang tidak pantas untukku.”


Elea langsung mengecup bibir Alfa. Dan Alfa mencegahnya saat hendak melepaskan ciumannya. Ia kemudian membalas ciuman Elea dengan lebih dahsyat.


Tidak hanya berhenti di bibir Elea, bibir Alfa mulai menjamah dagu, leher, dada dan seluruh tubuh Elea. Alfa bermain perlahan namun pasti. Ia dengan sabar mengenal setiap jengkal lekuk tubuh istri kecilnya itu. Membuang semua ragu dan ketakutan Elea.


“Au..au.. geli Mas.” Elea berusaha menahan wajah dan bibir Al yang mulai merajalela di tubuhnya.


Al kemudian mengecup lembut bibir Elea


Elea mengangguk malu-malu.


Elea kemudian menatap mata Alfa, mencari sumber keyakinan yang mungkin akan memberinya keberanian untuk memulainya.


“Aku masukin ya sayang?” tanya Alfa kembali berbisik


“Hah? Kemana?” tanya Elea lugu.“Emang cukup, Mas?"


“Seharusnya sih cukup. Kita coba aja yah?”


Elea malu-malu menyerahkan ****** yang dibawanya dari rumah Tara.


Alfa tersenyum lalu menanggalkan semua pakaiannya dan mengenakan pengaman itu.


“Au.. bukan di situ, Mas.”


“Ups, iya.. Maap yah? Namanya juga perdana.”


Alfa kemudian membenahi posisinya dan kembali menembakkan serangan mautnya.


Elea terdengar sedikit mengerang.


“Sakit sayang?”


Elea mengangguk.


“Aku coba lagi yah?'


“He’eh.. "


Alfa kemudian kembali memasukkan miliknya perlahan. Elea terlihat lebih baik dan bisa menikmatinya. Ia kemudian menggencarkan serangan bertubi-tubi hingga keduanya mencapai puncak kenikmatan bersama-sama.


Mereka bermandikan keringat dan terkulai lemas di atas ranjang yang meninggalkan noda darah milik Elea.


“Akhirnya gol juga, Mas.”


“Yah, meskipun penuh perjuangan ternyata seru juga yah?”


Elea mengangguk, “Aku trisno kamu, Mas.”


Alfa melepas pelukan Elea, “Siapa lagi itu Trisno?”


“Aduh! Cinta, Mas.. Cinta!”


“Oh, suaminya cinta?”


“Wes mbuh Mas, sak karepmu!”


Dan konon kabarnya ritual itu membuat mereka ketagihan lagi dan lagi.