
Malam itu Elea terpaksa tidur sekamar dengan Alfa. Meskipun ranjangnya cukup besar untuk digunakan dua orang, Elea merasa sesak dan tidak bisa tidur.
“Aku akan pindah ke sofa kalau kamu ngerasa ngga nyaman.”
“Jangan, Mas! Nanti Kak Tara marah lagi.”
“Tara memang seperti itu. Dia tidak bisa seharipun tidak marah. Tobi pasti menderita punya ibu seperti dia.”
Elea terkekeh mendengar perkataan Alfa dan ia merasa sedikit lebih baik.
“Mas, emang Meca itu siapa sih?”
“Mantan pacar aku.”
“Oh, terus kenapa Mas Al ngga mau nanganin kasusnya Meca?”
“Karena dia adalah orang yang paling tidak bisa menghargai orang lain. Sebaik apapun aku bekerja, dia akan selalu punya alasan untuk menyalahkan dan menjadikan kita orang yang paling tidak berguna.”
“Tapi kan kali ini kasusnya beda Mas. Dia butuh bantuan dan Mas Al butuh pekerjaan. Kalau dia orang yang seperti itu, mungkin dengan hasil yang Mas tunjukkan kali ini, dia bakal berubah pikiran dan bisa melihat bahwa Mas Al yang sekarang bukan lagi Mas Al yang dulu.”
“Apa kamu ngga keberatan kalau aku bekerjasama dengan Meca?”
“Lah, kenapa harus keberatan?”
*****
Sementara itu di kamar lain..
“Sayang, apa ngga terlalu berlebihan membiarkan mereka tidur dalam satu kamar?”
“Alfa harus tahu apa artinya pernikahan. Dia ngga bisa seenaknya mengucapkan saya terima nikahnya tanpa tahu konsekuensinya.”
“Tapi sayang, meskipun Elea masih anak-anak tapi Alfa itu pria normal. Bagaimana jika Elea tiba-tiba hamil?”
“Jangan konyol! Kamu pikir Alfa akan seceroboh itu? Dia bertekad mempertahankan dan menyembunyikan Elea dari kedua orang tuanya, ia pasti sudah mempertimbangkan semua kemungkinan. Jadi dia tidak akan bertindak bodoh hanya karena nafsu. Dan lagi aku harus memastikan satu hal.”
“Apa kau yakin? Apa itu?”
***
Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari dan Tara mendengar suara dari arah dapur. Ia bangun untuk memeriksa. Dan benar saja, Alfa sedang menghabiskan air mineral di lemari esnya.
“Ngangetin aja lo, Tar!”
“Kenapa lo minum sebanyak itu? Kepanasan?” goda Tara.
“Gila lo ya? Maksud lo apa sih nyuruh gue tidur sekamar sama Elea?”
“Lah, kan kalian sudah nikah? Apa salahnya?” jawab Tara santai.
“Tar –“
Alfa mengurungkan niatnya untuk berbicara lebih banyak dengan Tara. Lalu bergegas untuk pergi ke sofa tapi Tara menahannya.
Tara menarik lengan Alfa, memperhatikan wajah Alfa yang berkeringat dingin lalu turun ke bawah sana, sesuatu tampak membesar dan menonjol dari balik celana tidur Alfa.
Alfa kesal dengan kelakuan kakaknya itu. Tapi Tara justru sebaliknya, sekarang ia tahu bahwa Alfa menikahi dan mempertahankan Elea bukan tanpa alasan.
****
Pagi itu Elea terbangun dengan Alfa yang masih terlelap di sampingnya. Ia merasa lega karena semua baik-baik saja dan tidak terjadi apapun di antara mereka.
Setelah mandi, Elea keluar untuk membantu Tara menyiapkan sarapan dan mengurus Tobi yang baru bangun tidur dan sedang bermalas-malasan di depan televisi.
“El, bantu mandiin Tobi aja yah? Biar aku yang siapin sarapannya.”
“Oke, Kak.”
Elea menghampiri Tobi tapi Alfa lebih dulu menyerobot dan bergulat dengan keponakannya yang baru berusia lima tahun itu di depan tivi.
“Tobi, mandi dulu, yuk?”
“Ngga mau, Kak. Aku mau main sama Om Al aja.”
“Mandi dulu yuk! Nanti habis mandi kita main lagi sama Om Al.”
“Ngga mau!”
Keduanya kembali bergulat dan berguling-guling di atas karpet.
“Mas, bantuin bujuk Tobi, kek! Kak Tara suruh aku mandiin Tobi.”
“Kamu duduk aja lihatin Tara masak. Biar aku yang urus Tobi!”
“Ngga ah, ntar Kak Tara marah.”
“Kalau gitu kamu liatin aku mandiin Tobi aja.”
“Deal!”
Alfa membopong bocah cubby itu lalu membawanya ke kamar mandi, “Kalau gitu biar Om Al yang mandiin yah?”
“Horeeee!”
Elea mengekor saja menyaksikan ketelatenan Alfa memandikan, memberikan minyak dan bedak lalu memakaikan baju untuk keponakannya itu.
‘Meskipun galak, tapi Mas Al telaten juga sama anak kecil’
“Kamu kenapa senyum-senyum gitu?”
Elea kembali tertangkap sedang melamunkan hal memalukan. Tiba-tiba saja ia merasa wajahnya terbakar karena malu.
“Ngga kenapa-kenapa.” Elea bergegas pergi meninggalkan Alfa.
Ia mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Sejak semalam jantungnya berdetak tidak karuan.
‘Apa mungkin itu pertanda bahwa aku harus segera mendatangi dokter jantung? Atau mungkin malah dokter jiwa?’
***