
Elea membuka pintu apartemen dan Alfa bergegas membereskan kue ulang tahun dan beberapa kaleng minuman yang sudah berjajar rapi di meja ruang tamu.
“Eh, tunggu! Mau dikemanain?” Elea mengambil kue dari tangan Alfa dan meletakkannya kembali ke tempatnya semula. “Apa ini? Kapan Mas Al nyiapin ini?”
Alfa membiarkan Elea merapikan kembali makanan dan minuman di meja ruang tamu sementara ia memilih untuk kembali ke kamar dan membersihkan diri.
Elea merasa sedikit bersalah karena tidak tahu bahwa malam itu suaminya berulang tahun dan pulang cepat untuk merayakan momen pertambahan usianya berdua saja di rumah.
Sudah hampir satu jam Elea menunggu di ruang tamu, dan pukul dua belas malam sudah lewat tapi Alfa belum juga keluar dari kamarnya.
“Mas...” Elea mengetuk kamar Alfa dan tidak ada jawaban.
Elea menduga bahwa Alfa pasti tertidur karena kelelahan. Ia baru saja pulang dari luar kota, menyiapkan semua makanan itu lalu menjemput Elea di rumah Niken.
Tapi melihat kue ulang tahun dan lilin yang masih setia menunggu untuk ditiup dan dimakan membuat Elea merasa perlu memastikan apakah Alfa benar-benar sudah tidur atau hanya sengaja mengerjainya saja.
Jadi ia menerobos masuk kamar Alfa tanpa pemberitahuan lebih dulu. Melalui lampu tidur yang masih menyala di meja, Elea tahu bahwa Alfa sudah memejamkan matanya.
“Mas....” Elea berusaha membangunkan Alfa tapi Alfa masih saja diam tidak merespon.
Elea kembali mengguncang tubuh Alfa dan ia tidak sengaja menyentuh tangan Alfa yang terasa panas. Ia kemudian mengecek dahi Alfa.
“Mas, kamu demam. Kenapa diem aja sih?”
Elea berniat untuk segera mengambil kompres dan obat untuk menurunkan demam Alfa tapi Alfa meraih tangannya dan menahannya tetap di sana.
“Aku ngga papa-papa, El. Cuma kecapean.”
“Ya sudah, Mas Al tidur lagi aja. Biar aku ambilkan obat sama kompres di dapur.”
“Ngga usah. Kamu di sini aja. Apa kamu ngga keberatan kalau kita merayakan ulang tahunnya disini saja?”
Elea langsung menggeleng, “Ngga masalah. Tunggu sebentar! Biar aku ambil kuenya dulu.”
Alfa sudah duduk di sandaran ranjang ketika Elea kembali dengan kue dan lilin yang sudah menyala. Mereka membuat permohonan, meniup lilin dan memakan kue bersama.
“Hadiahnya menyusul ya, Mas? Aku belum sempat cari.”
“Hadiahnya aku simpen aja ya, El? Anggep aja kartu kesempatan. Nanti aku bakal minta kalau butuh sesuatu dari kamu.”
“Deal!”
Elea membiarkan Alfa istirahat di kamarnya. Dan benar saja belum selang beberapa menit, Alfa sudah tertidur pulas. Elea berkali-kali keluar masuk kamar Alfa untuk mengecek suhu tubuhnya yang masih saja tinggi.
Ia bahkan berjaga semalaman untuk mengompres kepala Alfa dan memastikan bahwa suhu ac-nya pas, tidak terlalu kedinginan.
***
Keesokan paginya, ketika bangun kehebohan terjadi karena Alfa menemukan Handoyo tengah tertidur pulas di sampingnya.
“Aaaaaaaa! Han! Bangun! Lo ngapain ada disini?”
“Lo ngapain tidur disini?”
“Kenapa? Lo kecewa? Karena gue yang tidur disini dan bukannya Elea?”
Alfa bangun dan melempari Handoyo dengan bantal.
“Tadi pagi-pagi Elea hubungi gue supaya jagain elo karena pagi ini dia ada ujian. Dan lo masih demam.”
Alfa melihat jam dinding dan ternyata
memang sudah siang.
‘Kalau Handoyo dateng pagi ini, berarti yang nemenin gue semaleman beneran Elea dong?’
“Kenapa lo Al? Senyum-senyum sendiri?” Handoyo buru-buru bangun untuk mengecek suhu kepala Alfa. “Jangan-jangan syaraf lo ada yang rusak gara-gara lo demam.”
“Lo mau bilang kalau gue gila?”
“Gila karena cintaaaa....”
Bruk!
“Aw!”
****
Malam itu ketika Alfa akhirnya bisa tertidur pulas, Elea juga ikut tertidur di kursi di samping ranjang Alfa karena lelah. Ketika sadar waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi dan kening Alfa masih sedikit demam.
Karean harus berangkat ke sekolah pagi-pagi, Elea menghubungi Handoyo dan meminta bantuannya untuk menjaga Alfa saat ia pergi ke sekolah.
Setelah subuh, Handoyo datang masih dengan menggunakan piyamanya ke apartemen Alfa. Elea membuatkan secangkir kopi untuk menghilangkan rasa kantuk yang masih menggelayuti mata Handoyo.
"Diminum dulu, Kak!"
"Makasih, El. Tahu aja kalau mata masih sepet."
"Maaf yah, El jadi ganggu tidurnya Ka Han pagi-pagi buta. Habisnya Mas Al demam dari semalem tapi ngga mau dibawa ke rumah sakit. Sekarang sudah agak mendingan sih, tapi demamnya masih ada."
"Tenang aja, dia cuma kecapean dan kelamaan kena hujan. Bentar lagi juga baikan."
"Tolong jagain Mas Al dulu ya Ka! Aku mau ke sekolah dulu. Karena hari ini aku ada UAN."
"Santai aja, El. Lo fokus aja sama ujian lo! Salah dia juga sih ngga mau nurut sama orang tua."
"Emang kenapa ka?"
"Semalem gue sama anak-anak sengaja ngajak Al meeting di luar kota karena kita lagi nyiapin pesta kejutan buat dia. Eh ngga sengaja si Afgan keceplosan, dia jadi inget kalau dia lagi ulang tahun terus tiba-tiba aja buru-buru pulang. Katanya dia pengen ngerayain di rumah aja. Dia juga ngebawa pulang kue ulang tahun dan semua snack yang udah kami siapin dengan susah payah. Walhasil pestanya bubar dan kami semua memutuskan untuk pulang juga. Dan sepertinya Al kehujanan waktu nyari kamu kesana kemari. Soalnya dia berkali-kali nelpon nanyain tempat yang ada gambar lo sama temen-temen lo." Handoyo menunjukkan foto yang diunggah Niken ke salah satu akun sosmednya.
'Oh, jadi gara-gara ini Mas Al tahu kalau aku lagi nontonin band-nya Kak Davian? Dasar Niken!'