
Ketika bangun keesokan paginya, Elea sudah ada di rumah Handoyo. Pakaiannya sudah tersusun rapi di atas meja dan Alfa sudah menunggunya bersama Tara, Handoyo dan Tobi di meja makan.
“Pagi El! Gimana tidurnya semalem?” sapa Tara ketika melihat Elea keluar kamar dengan seragam sekolahnya.
“Sepertinya sih nyenyak banget, sampai-sampai aku ngga tahu kalau ada di sini.”
Tara tersenyum hangat lalu meminta Elea duduk di sebuah kursi kosong di samping Alfa. “Semalam mereka berdua ada urusan mendadak, jadi Alfa terpaksa bawa kamu kesini.”
“Oh...” Elea mengulas senyum tipis dan berlagak paham dengan apa yang Tara katakan.
Ia lalu menarik Alfa sedikit menjauh dari Tara dan Handoyo. “Apa semalam kita tidur bareng lagi?”
“Kenapa ngga? Kita kan udah nikah? Apa yang salah?” Jawab Alfa santai
“Iiiihhh.. Mas Al apa-apaan sih?” Elea memukuli Alfa.
“Aduh! Sakit El.”
Brak!
Pintu ruang tamu Tara tiba-tiba saja terbuka dan Arka datang dengan nafas tersengal-sengal.
“Lo kenapa sih Kak? Ngga ngasih tau gue kalau lo bawa Elea kesini semalem?”
“Emang harus banget gue bilang sama elo?”
“Iyalah.. Gue kan khawatir banget. Lagipula lo ada urusan apa sih sampai bawa Elea segala?” Arka terlihat benar-benar khawatir.
“Bukan masalah besar. Cuma perlu sedikit diskusi sama Handoyo soal kasusnya Roni Wijaya.” Ujar Tara sambil menghampiri dan menenangkan Arka yang tampak gelisah.
“Terus kenapa lo bawa Elea?”
“Karena dia ngorok di mobil gue. Lo pengen gue seret dia ke kamarnya?”
“Maaf, Mas. Aku kalau udah tidur emang suka gitu. Susah banget dibangunin.” Sela Elea.
“Nah..... itu.” Alfa senang Elea mendukungnya.
“Tapi kamu ngga papa kan, El?”
“Ngga papa kok Mas. Aman.”
Arka menyeret tangan Elea, “Ya sudah. Sekarang aku antar kamu ke kampus yah?”
“Tapi Mas –“
Dan entah kenapa sikap berlebihan Arka itu membuat Alfa kesal.
“Al, botol saos gue.” Tara berusaha mengambil botol saos yang sudah penyok di tangan Alfa. “Ya udah sih, kan lo sendiri yang milih buat ngerahasiain hubungan lo sama Elea. Jadi lo harus terima konsekuensinya.”
Alfa bangun dari kursinya, menyambar jasnya di sofa dan membawa semua barang-barangnya pergi dari rumah Handoyo.
“Al, tunggu gue!” Handoyo bergegas mengejar langkah sepupunya itu.
******
Malam itu, setelah Alfa membawa Elea pergi meninggalkan Garden Resto, Elea tiba-tiba saja tertidur karena kelelahan mengomeli Alfa yang sengaja mendiamkannya karena kesal. Bisa-bisanya seorang wanita yang sudah menikah bermesraan dengan adik iparnya sendiri di depan suaminya.
Karena itu juga Alfa sengaja meninggalkan Arka sendirian di resto. Ia tidak bisa memberi tahu Arka bahwa wanita yang sedang didekatinya itu adalah kakak iparnya sendiri. Tapi ia juga tidak tahan berdiam diri melihat adiknya terpesona oleh keluguan Elea.
Jadi ia memacu mobilnya dengan kencang membelah keramaian malam yang menggambarkan suasana hatinya yang sedang kacau.
Ketika tiba di halaman rumah, Elea masih tertidur pulas dan Handoyo menelepon Alfa terkait kasus Roni Wijaya.
“Gue nemuin saksi yang mungkin bisa membantu kita.” Ujar Handoyo di telepon.
“Oke, gue kesana sekarang.”
Mengingat Arka dan rumahnya, Alfa langsung memutar balik mobilnya dan membawa Elea ke rumah Handoyo. Ia membiarkan gadis itu menginap disana. menurutnya lebih baik daripada meninggalkannya di rumah bersama Arka.
Lalu Alfa pergi semalaman bersama Handoyo untuk mengumpulkan beberapa informasi penting yang sangat dibutuhkannya saat ini.
****
Waktu berlalu dan sekolah mulai sepi, namun Arka belum juga datang menjemputnya. Karena sudah berjanji, maka Elea tetap memilih untuk menunggu Arka disana.
Tapi tiba-tiba tiga orang pria turun dari mobil dan berusaha untuk menculik Elea. Dengan sekuat tenaga Elea berusaha melawan dan berlari dari kejaran ketiga pria asing itu.
Sambil berlari, Elea mengirim live location dan pesan berisi ‘SOS’ kepada Alfa. Sayangnya, ketiga pria itu cukup gigih mengejar Elea sehingga mereka akhirnya berhasil menghentikan Elea di pinggir jalan yang agak sepi.
“Mau lari kemana kamu?” tanya salah seorang pria.
Elea tidak bisa berlari lagi karena sudah terkepung. Ia tidak punya pilihan lain selain melawan. Jadi ia memberanikan diri untuk melawan ketiga pria asing itu dengan segenap tenaga.
Elea berusaha bertahan, menangkis serangan demi serangan yang dilayangkan kepadanya. Dengan kemampuan taekwondonya yang cukup mumpuni, Elea berhasil mengalahkan pria pertama. Ia mengambil lompatan cukup tinggi lalu menendang ************ pria itu hingga tersungkur.
Tersisa dua pria asing yang tengah marah karena salah satu temannya telah dikalahkan oleh seorang gadis kecil.
“Mau coba?” ledek Elea.
Lalu salah satu dari dua pria itu mulai meninju dan berusaha menjatuhkan tubuh Elea. Tapi Elea cukup gesit dan berhasil menghindar berkali-kali. Namun, kemudian pria kedua ikut menyerang Elea dan membuat gadis kecil itu terjerembab di tanah.
Beruntung Elea menemukan sebatang kayu yang kemudian ia gunakan untuk melawan kedua pria itu. Meskipun telah berusaha maksimal tapi Elea tetap saja tidak bisa menandingi kekuatan tiga pria yang jelas lebih kuat darinya sekaligus.
Ia kehabisan tenaga dan mulai terkena pukulan beberapa kali sampai akhirnya salah seorang pria mengambil kayu yang dipegang Elea dan berusaha memukulkannya ke kepala Elea.
******
“El, lo udah sadar?”
“Mas Arka?”
“lo baik-baik aja kan?” tanya Arka lagi.
Elea merasakan nyilu di beberapa bagian tubuhnya tapi itu bukan hal besar. Fakta bahwa ia masih hidup dan lolos dari ketiga pria asing itu lebih penting baginya.
Tak lama kemudian Alfa masuk. “El, kamu sudah bangun?”
Elea cukup kaget dengan Alfa yang tiba-tiba saja memeluknya di hadapan Arka. “Aku ngga papa, kok. Loh Mas Al kenapa?”
Alfa berusaha menyembunyikan lebam dan bekas sobekan kecil di sudut bibirnya. “Syukurlah kamu ngga papa. Kamu tahu siapa orang-orang itu?”
Elea menggeleng. “Mereka tiba-tiba datang dengan mobil dan memaksa aku masuk ke dalam mobil mereka.”
“Kamu ingat jenis dan warna mobilnya? Nopolnya?”
“Kak, apa perlu lo tanya sedetail itu padahal El baru aja selamat dari maut?” potong Arka.
Alfa bangun dan menghampiri Arka yang berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk. “Semua ini gara-gara lo!”
“Berapa kali harus gue bilang kalau gue ngga bermaksud buat telat jemput. Tadi mama –“
“Stop! Penjelasan lo sudah ngga berguna lagi sekarang. Mulai sekarang gue yang bakal antar dan jemput Elea ke kampus, tempat kerja dan urus semua urusan El.”
“Tapi –“
“Mas!” tukas Elea
“Kenapa?” lanjut Arka.
“Karena –“
“Mas!” Elea tidak ingin Alfa salah bicara.
“Karena Elea adalah saksi kunci dalam kasus gue. Jadi gue berkewajiban untuk menjaga dan melindungi dia sampai kasus ini tuntas.”
Elea akhirnya bisa bernafas lega.
“Dan kalau lo pengen bantu Elea supaya bisa segera bebas dari preman-preman itu, sebaiknya lo bantu gue buat nemuin bukti yang dibutuhkan, pisau yang digunakan Roni untuk menikam korban.”
Arka meninggalkan kamar Elea tanpa sepatah katapun. Alfa hafal betul bahwa adik semata wayangnya itu pasti sedang sangat kesal sekarang.
*****