My MicroWife

My MicroWife
Bintang Pengganti



(Dua tahun kemudian)


Elea menemani Jack untuk menghadiri sebuah pameran di salah satu bintang lima di ibukota. Ia mengenakan gaun panjang berwarna hitam one shoulder off yang sudah lama ia persiapkan tapi sepertinya malam itu ia kurang beruntung karena bertabrakan dengan pria yang malah menumpahkan minuman ke gaunnya.


Elea berdiri di depan cermin di toilet wanita. Ia membersihkan gaunnya dengan tisu. Meskipun tidak terlalu kentara tapi tetap saja gaun itu tidak nyaman dipakai karena basah dan dingin.


Karena pameran akan segera dimulai, Elea bergegas keluar dari toilet hendak menuju ke ballroom. Tapi sepertinya kesialannya hari itu belum berakhir. Ia kembali bertabrakan dengan pria yang buru-buru menuju toilet sambil berbicara di telepon.


“Au!”


“Maaf, maaf. Saya ngga sengaja.” Ujar pria itu.


“Iya ngga papa.” Elea terpaksa mengalah. Ia capek kalau harus marah-marah lagi malam itu.


“Elea?”


“Mas Arka?!”


“Kok lo bisa ada disini, El. Tunggu! Jangan kemana-mana! Gue mau ke toilet dulu.”


Ketika keluar dari toilet, Elea sudah tidak ada disana.


‘Sial!’


Arka sudah mencari Elea kemana-mana tapi tidak juga berhasil menemukannya. Jadi, ia terpaksa kembali ke tempat pameran sebelum Mamanya benar-benar marah karena kesal menunggunya.


“Ma, kok belum dimulai? Udah lewat waktunya loh.”


“Nara belum datang. Hpnya juga ngga bisa dihubungi."


“Tapi kita ngga bisa nunggu gini terus, Ma. Tuh lihat orang-orang sudah pada gelisah. Kalau lebih lama lagi, mereka semua bisa pada keburu kabur.”


“Ya, mau gimana lagi? Nara masih ngga bisa dihubungin.”


Arka buru-buru menghampiri Alfa dan membisikkan sesuatu. Mereka bergegas pergi ke ruang pengamanan dan mengecek rekaman cctv.


Alfa bergegas pergi menemui Elea yang sedang menyendiri di rooftop hotel. Jantungnya berdegup tak karuan, bukan karena kelelahan menaiki ratusan puluhan anak tangga, tapi karena akhirnya bertemu dengan orang yang sangat dirindukannya selama ini.


“Lagi ngeliatin apa, El?”


“Mas Al? Kok Mas Al bisa ada disini?”


“El, aku butuh bantuan kamu.”


“Bantuan?”


*****


Elea sudah duduk di depan kanvas yang pada awalnya disediakan untuk Kinara Gunawan. Para pengunjung yang hadir sudah tidak sabar untuk menyaksikan aksi tangan-tangan lentik Elea menari diatas kanvas itu dengan gemulai.


Meskipun enggan dan sempat debat kusir dengan Alfa, Elea akhirnya menerima permintaan tolong Alfa dan Arka demi melancarkan acara pameran yang dihadiri ratusan tamu penting malam itu.


Elea akhirnya berhasil menyelesaikan lukisannya dengan susah payah. Duduk berjam-jam di depan kanvas membuat Elea merasa sangat lelah. Jadi ia memilih menyelinap di tengah kerumunan yang memuji lukisannya dan juga keluarga Erlita, kembali menuju rooftop yang nyaman dan tenang.


“Terima kasih, El. Kamu menyelamatkan kami sekali lagi.” Ujar Alfa sambil menyodorkan segelas minuman kepada Elea. “Kamu apa kabar?”


“Baik, Mas.”


Alfa melepaskan jasnya dan memakaikannya kepada Elea karena ia melihat gadis itu mungkin kedinginan mengenakan pakaian sedikit terbuka di udara rooftop yang sangat dingin malam itu.


“Lukisan kamu luar biasa, El. Ngga nyangka kamu bisa menguasai banyak tehnik melukis secepat itu dan melakukannya dengan sangat baik. Liat aja gimana orang-orang itu memuji dan mengelu-elukan kamu.”


“Entahlah. Mungkin karena sebagian besar mereka mengira aku adalah Kinara Gunawan. Mereka bahkan tidak menyadari perbedaan mendasar dalam tehnik melukis kami dan masih saja memuji seakan mereka sangat memahami Kinara Gunawan.”


“Jadi maksud kamu, mereka pura-pura paham padahal ngga tahu apa-apa soal lukisan?”


“Mungkin juga. Hanya dugaan.”


“El! Kamu disini rupanya.” Seorang pria tampan berhidung mancung datang menghampiri Elea.


“Its ok. No problem. Aku Cuma khawatir sama kamu.”


“Thanks Jack.”


Alfa memandang keduanya bergantian.


“Oh ya, Mas Al kenalin! Ini Jack dan Jack ini Mas Al.”


“Alfa.”


“Jack.”


“Kita balik sekarang?” tanya Jack


Elea mengangguk perlahan. Meskipun sangat ingin tinggal, tapi ia tahu bahwa itu bukanlah saat yang tepat.


“Aku balik dulu, Mas.”


“El, dimana kamu tinggal? Oh, oke, setidaknya tinggalin nomor telepon kamu.”


Elea terlihat berfikir sejenak, namun Jack merasa perlu untuk membantu Elea keluar dari situasi tersebut. Jadi ia langsung menarik lengan Elea dan mengajaknya untuk segera pergi. “Buruan! Keburu telat.”


Elea terpaksa mengikuti Jack, namun ia kemudian berhenti sebentar.


“Sebentar, Jack.”


Elea kembali menghampiri Alfa dan mengembalikan jasnya. “Makasih, Mas.”


******


“El, kamu ngga papa? Kok tumben diem aja?” tanya Jack yang sedikit merasa aneh karena Elea tiba-tiba saja menjadi gadis yang sangat pendiam sejak bertemu Alfa. “Jadi, siapa dia?”


Elea bergeming. Ia masih asyik dengan angannya yang menerawang jauh menembus kegelapan malam dari balik kaca mobil.


“El?!”


“Eh, iya. Kenapa Jack?”


Jack tertawa, “Jadi kamu melamun dari tadi?”


“Sori.”


“So, who is he?”


“Who?”


“Alfa.”


“Oh. Dia. Hmmmm, someone.” Jawab Elea singkat. Ia sendiri tidak tahu bagaimana harus mendeskripsikan Alfa kepada Jack.


“Someone special?”


Elea hanya bisa melempar senyuman yang entah akan diartikan apa oleh Jack. Bagaimanapun juga pria itu telah banyak membantunya selama merantau di negeri orang. Sama seperti Al, Elea juga banyak berhutang budi kepada Jack. Dan ia selalu benci akan hal itu. ia benci berhutang sesuatu yang tidak bisa ia bayar lunas dengan semestinya.


****


Sementara itu, Arka berlari kesana kemari untuk mencari kakaknya yang akhirnya ia temukan sedang termenung di rooftop hotel.


“Kak! Lo udah gila ya? Ngapain lo masih disini sementara tunangan lo sedang nungguin lo di rumah sakit.”


Alfa hanya menatap Arka sesaat lalu kembali tertunduk lesu. Tak ada rasa penasaran maupun khawatir yang ia rasakan kepada Kinara dan ia membenci sikap buruknya itu. Bagaimanapun juga, Kinara sudah menjadi tunangannya tapi hatinya belum juga bisa berpaling dari Elea yang sudah menjadi milik pria lain. Alfa juga membenci dirinya yang tidak bisa melawan dan mempertahankan apa yang ia benar-benar ia cintai.


Alfa menyapu lalu mengacak-acak rambutnya sendiri. Ia menaririk nafas dalam-dalam dan kembali memutuskan untuk pasrah menjadi boneka mamanya.


Arka tahu persis apa yang Alfa rasakan karena ia juga merasakan hal yang sama. Tapi Alfa pasti merasa lebih buruk karena memiliki ikatan yang lebih erat dengan Elea sebelumnya. Parahnya lagi, ada ikatan lain yang kini mencekiknya saat ia akhirnya bisa bertemu kembali dengan satu-satunya cinta di dalam hidupnya.


*****