My MicroWife

My MicroWife
Sekolah Pilihan



Beberapa hari sebelumnya, Elea dan Niken tidak bisa keluar dari SMA Harapan karena security tiba-tiba saja mengunci pintu gerbang tanpa pemberitahuan. Karena tidak tahu cara keluar dan tidak bisa memanjat gerbang dari dalam tanpa bantuan, Niken dan Elea akhirnya memilih untuk kembali ke taman di depan ruang musik.


"Loh kalian masih disini?" tanya Davian yang mirip Andre de Silva yang baru keluar dari ruang musik.


"Siapa Dav? Lo kenal sama mereka?" tanya salah seorang teman yang mengikuti di belakangnya.


"Itu tadi kan cewek-cewek yang ngintipin kita latihan?" timpal salah seorang teman Davian yang bernama Gilang.


"Kami ngga bisa keluar karena pagarnya dikunci sama satpam." jawab Elea lugas.


"Ck, kebiasaan tu satpam. Ngga pernah ngecek dulu sebelum nutup gerbang." desis Davian kesal.


"Yaudah sih, kan bisa lewat belakang." jawab Gilang.


"lewat belakang?" teriak Elea dan Niken bersamaan.


Mereka senang karena akhirnya bisa menemukan jalan pulang.


Dan ternyata jalan belakang yang mereka maksud adalah tembok pagar bagian belakang sekolah yang terbilang lebih rendah dari gerbang sekolah.


Aldi dan Coki sudah berhasil menyebrangi pagar dengan mudahnya. Sekarang tinggal Niken, Elea, Gilang dan Davian.


"Lang, lo naik dulu. Bantu mereka dari atas. Biar gue yang naikin dari bawah." perintah Davian kepada Gilang.


Gilang kemudian naik dan duduk di atas dinding pagar menunggu uluran tangan dari bawah.


"Biar aku aja." Elea membopong Niken sampai tangannya bisa meraih dan ditarik dari atas oleh Gilang.


"Sekarang giliran kamu." Davian berjongkok dan membungkuk di bawah dinding agar Elea bisa naik ke punggungnya.


Elea tidak punya pilihan lain. Menggunakan kemampuan melompat yang dipelajarinya di taekwondo mungkin tidak akan mampu membuatnya mencapai ketinggian dinding pagar. Tapi toh ia harus mencobanya.


****


Sementara itu ketika mereka kembali ke bagian depan sekolah, ternyata mobil Alfa sudah terparkir di sana lagi dan gerbang sekolah kembali terbuka.


"Kok, kalian sudah ada di luar? Lewat mana?" tanya satpam yang mengunci gerbang tadi.


"Bapak sendiri kenapa ada disini? Bukannya tadi sudah pulang?" tanya Niken.


"Pak Al nyari Bapak dan minta Bapak balik kesini karena katanya masih ada orang di dalam sekolah."


"Yassalam...."


****


Malam itu, Elea menghampiri Alfa yang sedang sibuk di ruang kerjanya. Ia menunjukkan sebuah gambar salah satu sekolah yang mereka datangi beberapa hari yang lalu.


“Apa ini?”


“Aku memilih sekolah itu.”


Alfa mengingat-ingat tampilan yang ada di gambar Elea.


“Apa ini SMA Harapan?”


Elea mengangkat kedua bahunya. Ia menggambarkannya karena tak ingat persis nama sekolahnya. Terlalu banyak sekolah yang mereka datangi kemarin sehingga Elea lupa namanya satu per satu.


“Kenapa kau menggambar bagian ini?”


Alfa cukup penasaran karena Elea tidak menggambarkan penampakan depan sekolah itu melainkan sebuah kursi di bawah pohon rindang di taman kecil di bagian tengah bangunan sekolah.


Alfa jadi butuh waktu lebih lama untuk menebak dan mengingat-ingat di sekolah mana bagian taman itu berada.


“Soalnya itu adalah tempat yang paling menarik bagiku.”


Tidak sepenuhnya benar. Karena Elea sudah membayangkan bahwa tempat itulah yang akan paling banyak dikunjunginya ketika ingin melihat Davian.


“Kenapa kamu tidak memilih sekolah seni SH? Kau sangat berbakat dan kau pasti bisa berkembang pesat disana.”


Elea menggeleng. “Aku sudah cari informasi di internet dan katanya itu lebih mirip sekolah eksklusif yang kebanyakan berisi orang-orang dari keluarga kaya.”


“Apa benar seperti itu? Lalu apa kau takut aku tidak mampu membiayai sekolahmu?”


“Bukan seperti itu! Aku ngga butuh teman-teman resek yang bisanya cuma ngeremehin kaum minoritas. Masa SMA itu masa paling indah yang datangnya sekali seumur hidup. Jadi aku pengen nikmatin masa itu dengan nyaman.”


Elea kembali menggeleng. “Bukan karena Mas Al. Tapi karena aku. Mas Al lupa kalau aku hanya anak yatim piatu dari desa?”


“Tapi –“


“Sekolah itu terlalu mewah untuk anak sepertiku. Lagi pula disana tidak ada taman seperti ini.” Elea menunjuk sketsa yang dibawanya tadi sembari tersenyum.


“Aku tidak bisa mengatakan kamu bodoh, tapi juga belum cukup untuk dikatakan pintar. Memilih sekolah yang tepat itu penting. Dan akses terhadap pendidikan adalah hak asasi semua anak. Kamu tidak perlu memikirkan soal biaya karena itu adalah tanggung jawabku sebagai suami."


"Cukup Mas! bukankah aku yang akan bersekolah? Jadi tolong biarkan saja aku yang memilih dimana aku akan bersekolah."


"Dasar keras kepala!" Alfa hampir saja memberitahu Elea bahwa sekolah seni terbesar di kota itu adalah miliknya, tapi ia berusaha menahannya. Untuk saat ini, ia tidak ingin Elea tahu tentang latar belakangnya lebih jauh lagi.


Elea pergi meninggalkan Alfa dengan perasaan kesal. Meskipun terdengar cerdas dan berbobot, tapi semua yang Alfa katakan selalu seperti kuliah hukum dan curhat dengannya selalu terasa sedang dihakimi di meja hijau.


"Mas Al tenang aja, menikahi anak SMA tidak memerlukan biaya nafkah sebesar itu. Jadi Mas Al adalah pria yang beruntung."


Elea mengedipkan sebelah matanya lalu masuk ke kamarnya.


Ia membuka tasnya, mengambil brosur sekolah seni SH yang sudah kumal karena terlalu lama disimpan dan dibawanya kemana-mana. Ia kemudian *******-***** dan membuangnya ke tempat sampah.


“Maafin El ya Pak? El akan cari cara supaya El bisa sekolah di sana tanpa membebani siapapun. Doain El ya Pak? Elea bakalan belajar lebih giat supaya bisa masuk akademi seni SH setelah lulus SMA nantu.” gumam Elea sembari memandangi sketsa wajah ayahnya.


***


Pagi itu Elea sudah siap menyerahkan formulir pendaftaran online yang sudah dicetaknya ke SMA Harapan. Ia memilih untuk kembali melihat ruang musik sembari menunggu Alfa mengurus pendaftaran untuknya.


Guru yang ada di loket pendaftaran mengecek isian formulir dan memastikan kelengkapan dokumen milik Elea.


“Jadi Ananda Elea yatim piatu?”


Alfa mengangguk.


“Anda?”


“Saya walinya, Bu.”


Guru itu memandang Alfa penuh selidik, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Alfa merasa tidak nyaman menerima tatapan seperti itu.


“Apa ada masalah, Bu?”


“Apa hubungan Anda dengan Ananda Elea?”


“Saya kakak Elea.”


“Kakak? Disini tertulis bahwa Ananda Elea anak tunggal.”


“Saya kakak sepupunya, Bu. Saya adalah satu-satunya kerabat yang Elea miliki di sini. Apa ada masalah dengan itu?”


Guru itu terlihat belum puas, tapi beliau kemudian menyerahkan tanda terima dokumen pendaftaran beserta rincian biaya pendaftaran yang harus dibayar. Alfapun langsung melunasi biaya tersebut.


Ketika melewati sebuah pintu kaca, Alfa kembali memandangi pantulan penampilannya di kaca. Ia tidak percaya guru tadi meragukannya sebagai kerabat Elea. Ia ingin memastikan bahwa hari itu penampilannya tidak terlihat seperti pria jahat yang mencurigakan.


“Pak! Tunggu Pak!” guru yang tadi ditemui Alfa mengejar Alfa untuk menyerahkan sebuah bungkusan. “Ini seragam milik Ananda Elea. Maaf tadi saya masih menyiapkan ini tapi tiba-tiba saja Bapak menghilang.”


“Oh, maaf. Saya tidak tahu kalau akan langsung diberi seragam seperti ini.”


“Tapi, Pak, apa Anda yakin bahwa Anda adalah Kakak Elea? Bukan Paman atau Ayah angkatnya?” tanya Guru itu dengan polosnya.


Alfa mengingat-ingat nama yang tertulis di dada kanan segaram guru tersebut. Rosita. Ia akan mengingat nama itu dengan baik. Ia berharap bahwa bukan guru itu yang akan menjadi wali kelas Elea nantinya.


***


Sementara itu, sembari menunggu Alfa menyelesaikan pendaftaran, Elea kembali mengunjungi ruang musik dan bak pucuk dicinta ulampun tiba, lagi-lagi Elea melihat Davian sedang berlatih band di ruang musik.


Elea segera mengambil selembar kertas dan pensil yang selalu dibawanya di dalam tas, lalu menggambarkan sketsa wajah dan penampilan keren Davian ketika sedang bernyanyi.


“El, ayo!”


“Oh, udah selesai, Mas?”


Elea bergegas melipat hasil sketsanya dan menyimpannya kembali ke dalam tas.