
“Aku tahu Al ngga bakalan ngelakuin hal itu buat sembarang orang. Jadi kamu ini siapanya Al?”
“Aku?” Elea tersenyum, “Bukan siapa-siapa.”
“Jangan bohong!”
“Kami sudah menikah, jadi saat ini bisa dibilang aku istrinya Mas Al.”
“Apa? Istri?”
Elea mengangguk. “Tapi sepertinya ngga akan lama lagi.”
“Maksud kamu apa, El?”
******
Menyadari situasi yang dihadapainya, Elea memutuskan untuk mengurus dirinya sendiri. Siang itu sebelum Nasya pulang kerja, Elea membereskan barang-barangnya dan meninggalkan sebuah surat untuk Nasya.
Ketika tiba di apartemennya, Nasya langsung membuat keributan setelah membaca surat dari Elea. Ia menghubungi Alfa dan juga mamanya. Semau orang panik menghubungi Elea tapi ponselnya dimatikan sehingga Alfa dan Arka tidak bisa melacak keberadaannya.
Hari berlalu dan Alfa membuat laporan orang hilang di kantor polisi, tapi Elea belum juga dapat ditemukan. Alfa bahkan pergi ke Jogja untuk mencari keberadaan Elea tapi nihil. Baik Beni maupun bibinya juga tidak melihat keberadaan Elea disana.
Beberapa minggu kemudian, Alfa mendapat surat pemberitahuan gugatan cerai yang dilayangkan Elea melalui pihak pengadilan agama. Alfa tidak percaya bahwa Elea akan mengambil tindakan sejauh itu. tidak hanya menghilang, gadis itu bahkan berhenti kuliah dan juga tidak pernah menemui sahabat-sahabatnya sekalipun.
Alfa benar-benar merasa terpuruk dan putus asa. Begitu pun dengan Arka. Meskipun ia tahu bahwa Elea ternyata adalah kakak iparnya, tapi ia ingin bertemu dan bicara dengan Elea. Ia ingin memastikan sesuatu sebelum melangkah lebih jauh.
Setelah tahu bahwa Elea akhirnya memutuskan untuk bercerai dengan Alfa, Arka semakin gencar untuk mencari Elea tapi sia-sia. Gadis itu seperti hilang ditelan bumi.
Elea bahkan tidak hadir dalam sidang mediasi. Harapan Alfa untuk menemui Elea kian tipis hingga akhirnya putusan cerai resmi diketuk palu olah hakim.
******
Arka yang sudah lama berseteru dengan Alfa karena Elea akhirnya memutuskan untuk kembali ke Amerika dan melanjutkan kuliahnya yang sempat tertunda. Sementara Alfa lebih seperti orang depresi yang sangat memprihatinkan.
Hari itu, Alfa kembali tidur di kantor ketika Handoyo hendak pamit pulang. “Al, lo ngga pengen pulang? Mau sampe kapan lo tinggal di kantor kaya gini?”
“Kalau mau pulang, pulang aja, Han! Jangan lupa tutup pintunya!”
“Al, lo ngga risih tinggal disini? Dimana Alfa yang selalu tampil rapi dan bersih? Coba lo ngaca! Lo mirip gembel yang ngga punya harapan hidup.”
Alfa menarik jasnya dan menutupkannya ke telinga.
******
Keesokan paginya, Handoyo datang lagi ke kantor bersama Tara. Mereka membawa banyak makanan kesukaan Alfa. Dan mereka dibuat terkejut karena Alfa sudah duduk di mejanya dan sibuk dengan pekerjaannya padahal jam masih menunjukkan pukul tujuh pagi.
Ketika Handoyo datang, Alfa menyerahkan tumpukan dokumen yang sudah diperiksanya dengan teliti kepada Handoyo. “Ini semua tugas gue.”
“Al, lo ngga tidur semalaman?” Handoyo tidak menyangka bahwa tumpukan dokumen yang sempat terbengkalai berbulan-bulan di meja Alfa bisa selesai dalam semalam. Dan itu membuat Handoyo semakin khawatir dengan keadaan Alfa.
“Al, gue udah masakin sarapan buat lo. Anggep aja imbalan karena lo udah kerja keras semalaman.” Tara membuka semua bekal yang dibawanya dan meletakkannya di atas meja Alfa.
Alfa hanya mengabsen mereka satu per satu. “Nasi goreng, tumis ayam jamur, koloke –“ tidak ada satupun yang menarik minatnya.
“Tar tolong buatin gue mi instan tapi pake microwave ya?” pinta Alfa sebelum pergi mandi.
“Tu anak pasti bener-bener gila. Gue udah repot-repot masakin makanan sebanyak ini dan sekarang dia minta gue masakin mi instan?”
“Sabar, sayang... namanya juga depresi. Kamu tunggu disini aja, biar aku yang bikinin.”
Tara menggeleng. Ia melenggang dengan lesu menuju pantry untuk membuatkan mi instan permintaan Alfa.
******
Mereka akhirnya sarapan pagi bersama di dalam ruangan kerja Alfa.
“Al, lo ngga pengen ambil cuti? Kita jalan-jalan gitu?” tanya Tara
“Jalan-jalan? Kemana?”
“Terserah. Bali? Jepang? Aussie? Eropa juga boleh.”
“Lo mau gue jadi tour guide buat lo, suami dan anak lo?”
“Kalian pergi sendiri aja. Gue sibuk.” Alfa menyudahi sarapannya, mengambil jas, kacamata dan kunci mobilnya lalu meniggalkan Tara dan Handoyo begitu saja.
Alfa pergi tanpa tujuan. Ia hanya mampir sebentar ke apartemen, minum di rooftop lalu pergi ke kedai wafel. Ia juga mengunjungi Ruri yang membuka kafe kecil-kecilan di pinggir kota.
“Kak Al masih aja mikirin Elea?”
“Gue kangen banget sama dia, Ri.” Sahut Alfa sambil terus menatapi cangkir kopi di hadapannya.
Ruri tahu betul bagaimana perasaan Alfa. “Tapi Kak Al ngga bisa terus-terusan kaya gini.”
“Kemana gue mesti cari dia?”
“Kita semua ngga ada yang tahu, Kak. Tapi Elea pasti sudah mempertimbangkan semuanya dan gue yakin dia pasti baik-baik saja sekarang.”
“Gimana gue bisa yakin, Ri? Gue harus ketemu dan lihat sendiri supaya gue bisa yakin. Gue kangen banget sama dia.”
Ruri hanya bisa menepuk pundak Alfa perlahan. Ia tidak tahu lagi bagaimana bisa membantu pria yang pernah sangat berjasa dalam hidupnya itu.
“Selamat datang, silakan masuk!” sapa Ruri kepada salah satu pelanggan yang baru saja tiba di kafenya.
“Alfa?”
Alfa menatap arah datangnya suara. “Kamu manajernya Elea kan?”
“Jadi lo masih belum bisa ngenalin gue, Al?”
Alfa kembali menatap gadis itu. lalu kembali menenggak kopinya.
Sikap Alfa yang jelas-jelas tidak mengenalinya membuat Nita geram. “Gue Nita. Lo ngga inget gue, Al?”
“Nita?”
“Lo inget ibu gue tapi lo ngga ngenalin gue, Al?”
“Ibu?”
“Bu Santi, Al!”
“Hah! Lo beneran Nita? Nita anaknya Bu Santi?”
“Sialan lo Al!”
“Sori, Nit. Lo beda banget sama waktu kecil dulu.”
Mereka kemudian bercerita panjang lebar tentang kehidupan dan masa lalu mereka sampai Nita menceritakan tentang pertemuan terakhirnya dengan Elea.
“Dia bilang kalau dia istri lo. Tapi dia juga bilang kalau itu ngga lama lagi. Jadi waktu itu, dia pasti sudah berencana buat nyeraiin lo, Al.”
“Jadi itu juga gara-gara nyokap gue?”
“Gue ngga tahu apa masalahnya. Tapi malam itu gue lihat dia begitu putus asa. Elea anak baik, Al. Dia bekerja keras karena ingin terus belajar dan jadi pelukis hebat. meskipun dia sudah menikah dan punya suami tajir kaya elo, dia ngga pernah ngeluh dapet pekerjaan berat, apalagi aji mumpung.”
Alfa kembali bersedih. “Gue kangen banget sama dia, Nit. Gue ngga bisa ngelupain dia.”
“Ini sudah satu tahun lebih, Al. Lo ngga bisa terus-terusan hidup kaya gini. Oh ya, gue udah nikah dan sekarang tinggal sama suami gue. Ini alamat rumah baru gue. Kalau ada waktu, mampir yah?”
Alfa menerima kartu nama yang diberikan Nita kepadanya.
“Kalau gitu, gue pergi dulu ya, Al? See you!”
“Jadi kalian berteman?” tanya Ruri.
“Temen kecil gue. Gue bahkan udah pernah ajak El ke rumahnya dan kenalan sama ibunya Nita yang dulu ngerawat gue pas masih kecil.”
“Terus kenapa Kak Al ngga undang dia buat dateng ke acara tunangan Kak Al?”
“Ngga penting.”
*****