My MicroWife

My MicroWife
Kasus Meca (1)



Hari minggu tiba dan Alfa mengajak Elea ke sebuah resto yang juga memiliki fasilitas privat pool di kawasan Koja, Jakarta Utara. Ia sudah menyiapkan semua perlengkapan renang termasuk baju renang dan pelampung untuk Elea.


“Mas, kapan Mas Al beli ini?”


“Online.”


Elea tidak yakin dengan apa yang Alfa katakan karena setahu Elea, Alfa bukan tipe orang yang suka membeli hanya karena tertarik dengan gambar.


‘Bagaimana jika dia diam-diam sengaja membelikannya di toko untukku? Bagaimana dia tahu ukuranku?’


“Kenapa muka kamu merah gitu?”


“Hah?!” Elea memegang pipinya yang menghangat, “Itu..... ah, bukan apa-apa.”


‘Kamu mikir opo to El?’


Elea memakai baju renang barunya yang ternyata sangat pas di tubuhnya. Ia lalu bersiap menunggu Alfa di kolam yang benar-benar privat itu. hanya ada dia di sana.


‘Apa seperti ini rasanya punya kolam renang pribadi?’


“Sudah siap El?”


Elea menoleh ke arah datangnya suara. Alfa datang dengan celana renangnya yang super seksi. Mata Elea tidak bisa beralih dari roti sobek yang melekat di perut Alfa.


Elea tidak pernah menyangka bahwa pria yang tinggal bersamanya selama ini ternyata memiliki keindahan tubuh seperti itu.


“Yuk!”


Alfa meraih tangan Elea lalu membimbingnya masuk ke kolam. Alfa dengan telaten dan serius melatih Elea bernafas dan mengepakkan kaki di dalam air. Sementara Elea tidak bisa fokus belajar karena pikirannya terus saja terganggu oleh pesona Alfa yang seperti menghipnotisnya.


Tetesan air yang jatuh dari wajah dan anak rambut Alfa ketika kepalanya keluar dari kolam membuat jantung Elea berdegup tak karuan.


“El! Halo!.... El!”


“Ah, iya. Maaf, mas.”


“Kamu kenapa sih El? Dari tadi ngga fokus gitu?”


Elea nyengar-nyengir tidak jelas karena ketahuan sedang melamun oleh Alfa.


“Ya sudah, kalau gitu kita istirahat dulu aja.” Alfa melempar handuk kepada Elea. Lalu mengangkat ponselnya yang terus saja berdering.


“Ya Han?”


“Lo kemana aja sih Al. Ada klien penting. Penting banget yang ngga boleh lo tolak dan harus lo temuin sekarang juga.”


“Sekarang? Tapi kan –“


“Buruan shareloc biar dia nyamperin lo sekarang. Kalau ngga gue bakal suruh dia dateng ke apartemen lo!”


Seperti itulah Handoyo, selalu semena-mena dan yang lebih menyebalkan adalah bahwa Alfa tidak pernah bisa menolak diperlakukan semena-mena oleh sepasang suami istri itu.


“El, latihannya udahan dulu ya? Aku ada kerjaan mendadak.”


Alfa bergegas menuju kamar mandi dan bersiap menemui klien yang dimaksud Handoyo.


“Emang siapa sih Mas yang tiba-tiba ngajak ketemuan?” tanya Elea di tengah perjalanan menuju salah satu resto yang tidak jauh dari tempat mereka berlatih renang.


“Ada klien penting kata Handoyo. Aku juga belum tahu siapa orangnya.”


Alfa memarkir mobilnya di depan pintu masuk resto.


“Yuk, El. Ikut masuk aja.”


“Mas duluan aja deh.. Ntar aku nyusul.”


Alfa turun dari mobil lalu masuk ke dalam resto dan seorang wanita cantik berambut pirang menghampiri Alfa lalu mencium pipi kiri dan kanan Alfa seakan mereka sudah sangat dekat satu-sama lain.


‘Siapa perempuan itu?’


‘Sial! Kenapa mereka masuk ke ruang VVIP sih?’


Karena sudah terlanjur masuk, Elea terpaksa mencari tempat duduk dan memesan minuman sambil menunggu.


“Nice to meet you Al.. lama ngga ketemu. Gimana kabar lo, Al?”


“Baik.”


“Lo beda banget yah? Beda dari Alfa yang gue kenal dulu. Btw, sumpah gue kangen banget sama lo, Al.”


“Meca, bisa kita langsung ke intinya? Sori tapi gue ngga bisa lama-lama. Gue ada janji lain.”


Meca sedikit tersinggung dengan perkataan Alfa. Tapi ia berusaha menahan diri karena yakin bahwa Alfa masih kecewa terhadapnya.


“Oke, Al. Gue yakin Handoyo dan Tara sudah cerita soal maksud dan tujuan gue nemuin elo.”


“Tara?”


“Dia salah satu anggota di fans club gue dan dia ngrekomendasiin elo buat ngebantu nanganin kasus gue. Dan belakangan gue baru tahu kalau dia istrinya Handoyo.”


“Kasus? Sori tapi Tara belum cerita apapun soal elo ke gue.”


“Jadi gini” Meca menyerahkan tabnya kepada Alfa, “Gue dituntut ganti rugi gara-gara gue posting hasil pemeriksaan gue yang menyatakan bahwa gue mungkin aja alergi terhadap salah satu bahan yang ada di produk mi instan yang gue bintangi. Gue ngga nyebut merk, tapi pihak produsen menuntut gue karena nyebut kata mi instan dalam postingan gue. Dan mereka mengaku dirugikan milyaran rupiah gara-gara postingan gue.”


Alfa mengembalikan tab kepada Meca.


“Yusar Group? Kenapa mesti gue?”


“Kan sudah gue bilang, Tara yang ngerekomen elo ke gue.”


“Anggep aja Tara salah, jadi lo bisa coba cari pengacara lain.”


“Al, Gue yakin kalau lo bisa bantuin gue. Plis, bantu gue. Gue pilih lo karena Cuma elo yang bisa gue percaya.”


“Sori, Me. Tapi gue belum pernah nangani kasus seperti ini dan gue juga lagi banyak kerjaan. Jadi untuk saat ini sepertinya gue ngga bisa bantu elo.”


“Bukannya firma hukum lo baru aja dibuang sama Yusar? Emang lo ngga pengen bales mereka?”


‘Sial! Kenapa sih mulut Tara selalu saja ember?’


“Seharusnya Tara juga kasih tahu lo kalau karjaan gue bukan cuma ngurusin kasus orang lain. Gue juga punya kehidupan pribadi yang jauh lebih penting buat gue urusin.”


“Tunggu Al! Al, gue minta maaf kalau lo masih marah sama gue soal kita putus dulu. Tara juga sudah bilang ke gue kalau lo masih belum bisa move on dari gue. Tapi ini soal beda, Al. Ini hubungan profesional antara artis yang sedang tersandung kasus dengan pengacara.”


Alfa tidak menggubris dan tetap melangkah meninggalkan ruang VVIP dan menghampiri Elea yang sedang meminum jus jeruknya sambil memainkan ponselnya.


“Yuk, El!”


Elea kaget karena tiba-tiba saja Alfa datang dan menyeretnya.


“Mas! Apa apa sih?”


“Alfa!!”


Sepertinya Meca tidak mau menyerah. Melihat Alfa menghampiri gadis lain membuatnya semakin meradang. Meca mendekati Alfa dan Elea yang terpaksa berhenti karena panggilannya.


“Well, Al. Gue sudah berusaha memohon sama elo, tapi lo tetep aja nolak gue. Lo tahu persis kan kalau gue paling ngga suka ditolak?”


Meca mengamati penampilan Elea yang ia yakin jauh dari kriteria cewek idaman Alfa.


“Jangan bilang lo mau ngejadiin anak ini tameng supaya gue percaya kalau lo sudah punya pacar. Coba lo pikir, gimana jadinya kalau besok pagi tiba-tiba aja gue muncul di infotainmen lalu gue bilang kalau Alfa Sandi Cokrokusumo, mantan pacar gue frustasi lalu pacaran sama anak ingusan?”


Alfa menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya kasar. Gadis itu benar-benar sedang menguji kesabarannya. Ia berbalik lalu mendekati Meca yang sedang berdiri sambil mendekap kedua tangannya.


“Sepertinya ada yang perlu diluruskan. Gadis ingusan itu bukan pacar tapi istri gue. Sepertinya berita itu cukup buat nutupin skandal mi instan lo. Gimana?” Alfa menyungging senyum penuh kemenangan lalu membawa Elea pergi meninggalkan Meca.