
Malam harinya Alfa menghabiskan waktu untuk meratapi nasib malangnya di rumah Tara. Ia sudah membaca dan mendengar semua informasi yang Tara kumpulkan tentang Elea. Dan ia bersikap seperti anjing malang yang tidak henti-hentinya merancau semalaman.
“Al, mendingan lo balik aja ke apartemen lo. Berisik tau!” ujar Handoyo
Tapi Alfa sama sekali tidak peduli sekalipun Tara dan Handoyo berulang kali mengusirnya. Ia sedang butuh teman bicara dan rumah Handoyo menjadi tempat yang tepat untuknya malam itu.
“Mau sampe kapan lo bertindak menyedihkan kaya gini, Al? Berbuat sesuatu yang berguna, kek. Lo ngga tahu apa kalau dunia terus berputar sementara lo berisik disini. Elea mungkin sedang tiduran di lengan Jack di dalam pesawat, lalu mereka sedang membicarakan rencana pernikahan dan bulan madu mereka dua bulan lagi. Who knows?”
“Sayang, kenapa malah ngomong kaya gitu sih? Yang ada dia makin gila.” Ujar Handoyo.
“Biarin aja. Sekalian gila mungkin lebih baik. Nara jadi ngga perlu repot-repot nikahin cowok ngga punya prinsip kaya dia.”
“Apa lo bilang?” tanya Alfa tiba-tiba.
“Ada yang salah?”
“Gue bakal tunjukin kalau gue cowok berprinsip yang layak diperjuangkan siapa aja.”
“Al?”
“Al! Lo mau kemana?” Handoyo benar-benar khawatir kali ini. “Kamu juga sih, ngapain tadi ngatain Al kaya gitu.”
*******
Ketika mendarat di Milan keesokan harinya, Elea menyalakan ponselnya dan melihat beberapa pesan masuk, yang salah satunya berasal dari Tara.
Elea membukanya, lalu tersenyum melihat foto yang Tara kirimkan. Bagaimana tidak, seorang Alfa yang sangat peduli dengan penampilannya pergi ke bandara yang begitu ramai hanya degan mengenakan baju tidur yang dilapisi jaket, dengan sandal rumah dan rambut acak-acakan. Elea yakin Alfa pasti tidak sempat cuci muka karena terburu-buru.
“Dasar Kak Tara!”
“Kenapa, El?”
“Oh, ngga. Ngga papa kok.” Elea memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantong.
Sepanjang perjalanan menuju rumah dari bandara, Elea tidak henti-hentinya memikirkan Alfa. Sebuah foto saja membuat hatinya goyah tak karuan, apalagi jika ia harus bertemu dan berhadapan langsung dengan Alfa. Ia tidak bisa menjamin bahwa hatinya akan kembali sama seperti saat ia belum bertemu kembali dengan Alfa.
“El, kok kamu diem aja?” tanya Jack ketika melihat Elea melamun sepanjang jalan.
“Oh, ngga. Aku Cuma ngga nyangka aja udah balik ke sini lagi.”
“Emang kamu masih pengen berlama-lama disana?”
“Aku lahir dan besar di Jogja, tapi kemarin belum sempat mampir kesana. Jadi rasanya masih ada yang kurang.”
“Mau balik lagi?”
“Nggaklah. Ini kan ngga seperti kita bepergian dari Milan ke Roma, Jack.”
“Hahaha.. thats right.”
******
Ketika tiba di kembali di rumah Jack kedua orang tua Jack menyambut mereka dengan hangat. Menghidangkan aneka makanan dan Risotto khas keluarga Natta favorit Elea.
Merasa moodnya kurang bagus, Elea memilih untuk bergegas pamit dan pulang ke apartemennya. Hari itu ia memutuskan untuk menyendiri di dalam kamar dan memikirkan banyak hal.
Ia kembali membuka foto Alfa yang dikirim Tara kepadanya. Ia tidak bisa memungkiri betapa ia sangat merindukan pria malang itu. setelah sekian lama, ia juga belum bisa melupakan pria yang pernah menikahinya dan membuatnya merasakan cinta pertama itu.
Elea akhirnya terlelap karena kelelahan sambil memeluk foto Alfa di dalam ponselnya.
*****
Keesokan harinya, Elea merasa perlu melakukan aktivitas yang bisa mengembalikan kesegaran otaknya. Jadi ia sengaja pergi ke alun-alun di tengah kota Milan untuk melihat kemagahan Katedral Milan. Disanalah ia banyak mendapat inspirasi untuk lukisannya.
Ia berjalan-jalan sendiri untuk menyaksikan kemegahan arsitektur gereja tua itu yang selalu berhasil membuatnya berdecak kagum meskipun sudah ratusan kali menyaksikannya.
Ketika keluar dari gereja, ia melihat begitu banyak orang sedang berjalan-jalan, berfoto dan menikmati pemandangan dengan berbagai macam ekspresi. Diantara sekian banyak orang, ia melihat seseorang yang ia kenal.
Awalnya Elea merasa ragu dengan apa yang dilihatnya. Ia pasti sedang berhalusinasi. Jadi Elea kembali menajamkan pandangannya dan kembali menyapu puluhan orang yang lalu lalang di hadapannya.
Seseorang tampak berjalan ke arahnya. Ia tahu bahwa ia tidak sedang berhalusinasi. Pria itu benar-benar menghampirinya.
“Mas Al?!”
Elea tanpa sadar berlari menghampiri Alfa yang sudah berdiri dengan jarak beberapa meter di hadapannya, lalu memeluknya erat. Ia merasa rindunya terbayarkan sudah.
Alfa membiarkan gadis itu memeluknya begitu lama sampai akhirnya ia juga yang melepaskan pelukannya dari tubuh Alfa.
“Mas Al ngapain disini?”
Elea tampak bingung dengan reaksi Alfa karena ia sama sekali tidak merasa ada yang salah dengan pertanyaannya.
“So?”
Alfa kembali memeluk tubuh Elea erat-erat. “Tidak ada alasan lain aku nyamperin kamu kalau bukan karena kangen El.”
Elea kembali melepaskan pelukan Alfa. “Tapi ini Milan, Mas. Bukan Jakarta. Wajar dong aku nanya ngapain Mas Al ada disini?”
Dan jawabannya akan tetap sama, “Aku kangen sama kamu.”
Alfa kembali memeluk tubuh Elea dan gadis itu memilih untuk membiarkannya karena ia juga sangat menginginkan pelukan itu.
“Laper?”
Alfa mengangguk dan Elea membawanya ke sebuah restoran kecil yang menyediakan masakan khas asia tidak jauh dari tempat mereka bertemu.
“Jadi, kapan Mas Al dateng?”
“Tadi pagi.”
“Dan darimana Mas Al tahu kalau aku ada disini?”
*******
Malam itu, setelah pulang dari rumah Tara, Alfa akhirnya menyadari bahwa Tuhan mungkin ingin memberinya kesempatan kedua. Jadi ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatannya kali ini.
Pagi harinya, ia membeli tiket menuju Milan. Ketika tiba di sana ia baru menyadari bahwa keluarga Jack cukup terkenal di kalangan masyarakat kota. Jadi tidak sulit bagi Alfa untuk menemukan kediaman keluarga Natta.
“Jack?”
“Anda?”
“Alfa. Kita pernah bertemu di rooftop hotel.”
Jack terlihat tidak begitu ingat. Jadi Alfa mencari cara untuk membuatnya ingat.
“Jas. Jas yang dikembalikan Elea.”
“Oh ya. Aku ingat.”
Mereka akhirnya bertemu dan bicara dengan akrab. Jack ternyata pria yang baik dan ramah. Ia sangat terbuka ketika Alfa mengatakan bahwa ia adalah kerabat Elea.
Setelah bicara panjang lebar, Jack akhirnya memberikan alamat apartemen Elea dan juga tempat-tempat yang biasa dikunjunginya di sekitar Milan.
******
Setelah makan malam, Elea mengantar Alfa untuk mencari penginapan yang tidak jauh dari apartemennya. Lalu Alfa mengantar Elea pulang kembali ke apartemennya.
“Kamu tinggal sendiri, El?”
Elea menggeleng, “Ada roommate, namanya Alexa dari Singapur.”
“Oh.. kalau gitu selamat malam, El. Have a nice dream.”
“Mas Al juga.”
Malam itu Elea tidak bisa tidur saking bahagianya. Alexa yang baru pulang dari berlibur sampai heran melihat tingkah aneh Elea.
“Are you okay?”
“Lo tahu ngga Lex. Dia akhirnya datang juga.”
“Dia?”
“My Ex.”
“Ah.. Mister Ex. Ngapain dia kesini?”
“Katanya sih kangen.” Jawab Elea dengan wajah merona.
“Lo masih cinta sama dia?”
Elea mengangkat kedua bahunya. “Gue Cuma ngerasa bahagia dan nyaman setiap kali ada dia di deket gue.”
“Have a nice love trip.” Goda Alexa sambil mengedipkan sebelah matanya.
*******