
Saat kembali dari toilet, Meca kembali menyambut Alfa yang masih memegangi perutnya yang bergejolak.
"Kamu ngga papa, Al?" tanya Meca penuh perhatian.
“Meca, bisa ngga bersikap biasa aja?” bisik Alfa kepada Meca.
“Kenapa sayang? Ngga usah canggung. Ngga ada wartawan disini. Aku sudah memesan tempat yang sangat menjaga privasi.”
“Baguslah kalau begitu.”
Alfa bangun dari kursinya lalu menarik tangan Elea. “Tempat ini menjunjung tinggi privasi, jadi sebaiknya kita memilih tempat yang lebih nyaman.”
Elea mengikuti saja kemana Alfa membawanya dan mereka akhirnya duduk di sebuah meja kecil yang hanya memiliki dua kursi di ujung meja sambil menikmati seporsi es krim gelato berdua.
Meca merasa sangat kesal dengan sikap Alfa. Hampir saja ia menggerakkan jarinya untuk membeberkan hubungan Alfa dengan gadis ingusan itu, tapi Tara dengan sigap mencegahnya.
“Ternyata Alfa benar. Lo masih sama, mudah terpancing meskipun terlihat stabil dan elegan.”
“Maksud lo apa, Tar?” tanya Meca dengan nada emosi.
“Alfa sengaja memanfaatkan anak itu untuk ngebuat lo cemburu dan yakin bahwa dia sudah bisa move on dari masa lalunya. Dan dia berhasil.”
“Jadi maksud lo, itu cuma setingan?”
Tara mengangguk sembari melonggarkan genggamannya terhadap tangan Meca yang berusaha meraih ponselnya.
Meca merasa senang mendapat bocoran informasi dari Tara. Dengan lugunya Meca meyakini bahwa Alfa masih memiliki perasaan kepadanya dan sengaja memanfaatkan Elea untuk memancing kecemburuannya.
‘So sweet banger sih lo Al? Itu yang bikin gue ngga pernah bisa move on dari lo.’ Batin Meca
Sementara itu, di sudut lain resto itu, Alfa berusaha menenangkan Elea dengan segelas es krim kesukaannya.
"Udah, El. Aku ngga papa kok. Sudah minum obat juga."
"Kenapa Mas Al ngga bilang kalau Mas Al ngga bisa makan makanan pedas?"
"Bukan ngga bilang. Yah belum sempat aja."
"Dan kenapa Meca punya obat yang Mas Al butuhin di tasnya?"
"Kalau soal itu kamu bisa tanya langsung sama yang bersangkutan." Jawab Alfa diplomatis.
“Well, karena kita sudah bekerja keras, bagaimana jika kita mengabadikan momen ini dengan berfoto bersama?” Handoyo berusaha mencairkan suasana yang mulai terasa canggung.
“Setuju!”
Alfa dan Elea kembali bergabung bersama yang lain dan mereka semua mengambil posisi lalu meminta salah satu staf resto untuk membantu mengambil foto mereka.
“Tunggu!”
Alfa mencari Elea yang sengaja bersembunyi di belakangnya. Alfa kemudian menyeretnya ke sampingnya.
“Satu, dua, tiga!”
Alfa melingkarkan tangannya di atas bahu Elea dan mengacuhkan Meca yang memeluk tangan kirinya.
****
Tara mengamati foto mereka dengan seksama.
“Sayang, kamu ngga capek apa mantengin tu foto terus-terusan?”
“Aku masih penasaran. Coba kamu lihat.”
Tara menunjukkan foto Alfa sedang merangkul leher Elea.
“Emang kenapa?”
“Kalau aku ngga kenal Alfa, aku pasti mengira mereka pacaran. Lihat aja, Alfa si penggaris kayu yang paling anti sama cewek tiba-tiba aja menghentikan sesi foto, mencari Elea lalu membawanya ke depan dan memeluknya seperti ini.”
“Ya kan mereka suami istri. Apanya yang aneh?”
“Justru karena mereka sudah menikah, aku jadi semakin khawatir.”
“Tadinya aku berharap Alfa menikahinya karena ia mirip dengan Electa. Tapi melihat bagaimana Alfa menjaganya membuatku khawatir bahwa ia benar-benar mencintai gadis itu.”
“Bukankah itu bagus? Bocah penggaris kayu itu akhirnya bisa juga jatuh cinta seperti manusia lainnya?” tanya Handoyo dengan polosnya.
Tara menoyor kepala suaminya, “Dasar bodoh! Apa kau pikir Tante Lita bakal ngebiarin Alfa gitu aja?”
“Aish sial. Benar juga. Tante Lita pasti bakal misahin mereka.”
“Aku memang tidak tahu bagaimana keadaan Alfa saat kehilangan Electa. Tapi aku bisa bayangkan jika hal itu terjadi lagi kepdanya karena harus kehilangan Elea. Alfa tidak akan kembali seperti Alfa yang kita kenal.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan?”
“Bagaimana jika kita menyuruh mereka pindah ke luar kota? Atau luar negeri bila perlu? Kemanapun asal Tante Lita dan Om Nafan ngga bakal nemuin mereka.”
“Mereka pasti menolak.”jawab Handoyo yakin.
“Kalau gitu hanya ada satu cara.”
“Apa?”
“Aku akan mengajari mereka cara membangun pondasi rumah tangga yang kuat. Dengan begitu, tidak akan ada satu orangpun yang bisa memisahkan mereka berdua.”
“Ide bagus sayang! Kamu memang paling pinter deh....”
Handoyo menghujani istrinya denga ciuman bertubi-tubi, mereka bergulat lalu berlanjut menuju sesi yang lebih panas.
Sepertinya sang guru harus belajar lebih giat dulu sebelum mengajari calon anak didiknya.
***
Hari masih sangat pagi tapi bel apartemen Alfa sudah berbunyi bertubi-tubi. Tidak ada orang lain lagi. Hanya Tara yang akan membuat keributan konyol seperti itu.
Alfa dan Elea sama-sama baru bangun dan langsung keluar untuk membuka pintu.
“Tar, lo apa-apaan sih? Pagi-pagi dah bikin ribut.”
Tara melempar tasnya ke sofa lalu mengecek kamar Alfa dan Elea.
“Bagus! Jadi kalian masih tidur masing-masing.”
Ia kemudian berpindah ke dapur, kamar mandi, ruang cuci lalu kembali duduk di ruang tamu.
“Gue sudah pikirin baik-baik. Mulai sabtu besok, setiap malam minggu kalian harus menginap di rumah gue.”
“Apaan sih Tar?” Alfa masih sangat mengantuk dan malas berdebat dengan Tara.
“Karena kalian sudah resmi menikah, maka aku akan dengan suka rela menjadi guru dan mengajari kalian cara membangun rumah tangga yang kuat dan kokoh.”
“Tar, lo pasti lagi mabok. Mending sekarang lo buruan balik, gue mau tidur lagi.” Alfa mendorong tubuh Tara sampai ke pintu.
“Kalau nolak, gue bakal kasih keluarga cemara kejutan kecil tentang pernikahan rahasia.”
Alfa sontak mendelik mendengar perkataan Tara.
“Tar, jadi sekarang lo mau ngancem gue?”
“Nggalah, Al. Gue Cuma negosiasi.”
“Lo balik sekarang atau gue panggil security!”
“Ingat, sabtu malam. Gue tunggu!” Tara mengedipkan mata lalu pergi meninggalkan Alfa.
“Mas keluarga cemara siapa sih?”
Elea mendekati Alfa yang terhenyak di sofa.
“Itu rumah keluarga aku. Ada di jalan cemara. Jadi biar gampang mereka nyebutnya keluarga cemara.”
“Ooooh.. terus maksudnya Kak Tara tadi apa sih?”
“Ngga usah dipikirin ya El, Tara emang kaya gitu orangnya. Kacau banget. Suke seenak-enaknya.”