
Malam itu Alfa tidak bisa tidur. Ia tidak tahu kenapa Elea mengambil keputusan tanpa berdiskusi dengannya terlebih dahulu. Setelah lama berguling-guling di ranjangnya, Alfa memutuskan bangun dan menemui Elea di kamarnya karena gadis itu sama sekali tidak menjawab puluhan panggilan telepon maupun chat yang dikirimnya.
Ia mengetuk pintu kamar Elea yang terkunci rapat, namun tak juga ada jawaban. Ia yakin gadis itu sengaja menghindarinya.
Alfa menunggu semalaman hingga tertidur di sofa ruang tengah di depan kamar Elea.
“Den! Bangun Den! Den Al..”
“Eh, Bik?”
“Sudah pagi, Den. Den Al ngga ngantor?”
“Iya.” Alfa bergegas bangun. “Oh ya, Bik. Elea sudah bangun?”
“Non Elea sudah berangkat dari pagi.”
“Berangkat? Kemana?”
“Ke kampus lah..”
‘Sial!’
Alfa bergegas mengecek kamar Elea. Pakaian dan barang-barang pribadinya masih lengkap. Kopernya juga masih tersusun rapi di tempatnya. Ia hanya pergi membawa tas sekolahnya saja dan itu membuat Alfa sedikit lega. Ketika hendak keluar dari kamar Elea, Alfa sempat melihat tempat sampah yang penuh dengan tisu.
‘Dasar bocah! Sok-sokan berlaga kuat.’
*****
Elea kaget melihat ada seseorang yang tiba-tiba saja berdiri di sampingnya.
“Mas Al? Kok Mas Al tahu aku ada disini?”
Alfa meletakkan kantong berisi makanan yang dibelinya dari toko langganan Elea lalu duduk di lantai rooftop apartemen bersama Elea.
“Jangan! Nanti celananya Mas Al kotor.”
“Hari ini ngga ada meeting jadi ngga masalah kalau sedikit kotor.”
“Ada kursi disana. Mas Al duduk sana aja.” Elea menunjuk sebuah kursi yang terletak tidak jauh dari tempatnya.
“Oke kalau kamu memaksa.”
Elea hafal betul kelakuan suaminya itu. ia tidak akan pernah melupakan bahwa penampilan sempurna adalah hal yang sangat penting. Karena itu, ia tahu persis bahwa duduk di tempat kotor dengan setelan rapi dan bersis seperti itu akan menjadi siksaan batin bagi Alfa.
“Nih, makan dulu!” Alfa menyodorkan wafel kesukaan Elea dan gadis itu langsung menyambarnya.
Ia kelaparan parah karena nyaris belum makan apa-apa sejak semalam. Ia bahkan sudah menghabiskan cadangan energinya untuk menangis semalaman.
Alfa juga menyodorkan botol jus yang sudah dibukakan tutupnya kepada Elea.
“Darimana Mas Al tahu kalau aku disini?”
Alfa menunjukkan ponselnya.
“Jadi Mas Al masang aplikasi pelacak di hp aku?”
Alfa mengangguk tenang.
“Wah! ini pelanggaran privasi namanya.”
“Apa kira-kira pengacara bakal tetap membenarkan tuduhan kamu kalau tahu bahwa penyadap itu adalah suami kamu yang selalu khawatir dengan kabar dan keberadaan kamu. Terlebih lagi sejak kejadian beberapa hari yang lalu.”
Elea menenggak habis botol jusnya dan meletakkan sisa wafel kembali di bungkusnya.
“Mas Al tahu kan aku bisa jaga diri sendiri?”
“Dan berakhir pingsan di pinggir jalan?”
“Itu karena mereka main keroyokan.”
“Lalu apa lain kali kamu akan memohon agar mereka main satu lawan satu?”
“Itu –“ Elea kehabisan alasan.
“Jadi apa rencana kamu sekarang?”
Elea terdiam sebentar. “Aku akan tinggal di rumah induk untuk sementara waktu.”
“Apa kamu yakin?”
“Oke. Kalau gitu aku juga akan pindah kesana.”
“Ngga bisa. Jangan! Aku ngga mau tante Lita dan yang lainnya curiga.”
“Aku ngga peduli. Aku ngga akan ngebiarin kamu tinggal disana sendirian. Kamu tahu kan bahwa tempat yang paling aman buat kamu adalah disamping aku.”
“Mas gimana kalau Tante Lita tahu kalau Mas Al jadi wali aku?”
“Salah mama sendiri menetapkan aturan adanya wali yang harus bertanggung jawab atas siswanya.”
“Mas....”
“Okay. Mari pikirkan cara lain.”
Keduanya terdiam sesaat dan larut dalam pikiran masing-masing.
“Aku ada ide.”
“Apa?” tanya Elea.
“Tante Jihan. Aku akan minta tante Jihan buat gantiin aku jadi wali kamu.”
Elea tersenyum. Sepertinya ide Alfa tidak terlalu buruk. Meskipun Elea tidak merasa bahwa memanfaatkan Jihan adalah hal yang benar tapi ia benar-benar ingin terus kuliah di Akademi seni SH dengan tenang.
“Sekarang habisin dulu makanan kamu. Setelah itu kita pergi ke suatu tempat.”
“Kemana?” Elea berjalan mendekati tempat Alfa duduk.
“Makan dulu!”
“Oke.” Elea tiba-tiba saja duduk di pangkuan Alfa.
“Au!”
Elea reflek kembali berdiri. “Ada apa, Mas?”
Alfa sedikit meringis menahan sakit. “Ngga papa.”
“Jangan bohong!” Elea kemudian melihat ada cairan merembes ke celana Alfa. “Darah?”
Elea langsung membawa Alfa ke apartemen. Sekarang Alfa sudah duduk di sofa hanya dengan menggunakan boxer karena Elea memaksanya untuk melepas celana.
“Kenapa Mas Al ngga bilang kalau paha Mas Al luka?”
“Ini cuma luka kecil. Ngga usah lebay!"
“Kecil? Ini sobek Mas. Luka bekas sayatan gini bisa infeksi kalau dibiarkan terbuka seperti ini.” Elea membersihkan sisa darah yang masih rembes dari luka yang belum mengering sepenuhnya itu. Ia lalu mengoleskan obat dan menutup luka itu dengan kasa dan plester.
“Kita ke rumah sakit aja. Setidaknya harus diperiksa dokter dulu.” Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Elea.
Alfa menarik tangan Elea hingga tubuh gadis itu jatuh ke dalam pelukan Alfa. “Aku ngga papa. Ini sudah hampir mengering dan sebentar lagi sembuh. Aku ngga butuh dokter. Aku Cuma butuh kamu, El.”
Elea membenamkan wajahnya ke dalam dekapan Alfa, “Aku takut, Mas.”
“Aku tahu. Tapi aku akan selalu ada buat kamu. Jangan takut lagi yah?” Alfa mengelus kepala Elea yang mengangguk-angguk di dalam dekapannya. “Anak pintar.”
Elea kemudian menarik dirinya dari Alfa. “Lalu, bagaimana dengan Nara? Apa Mas Al benar-benar akan menikahinya?”
Alfa tersenyum. “Akhirnya kamu ngaku juga kalau cemburu.”
“Apaan sih?”
“Dengar El. Mas belum ada keinginan untuk poligami.”
“Belum?” Elea mendelik.
“Iya maaf. Maksudnya ngga ada. Bukan belum tapi ngga ada keinginan untuk poligami. Jadi kita akan cari cara untuk membuat Nara menyerah tanpa melibatkan mama.”
Alfa meminta Elea duduk di sampingnya dan kembali memeluknya. “Sudah lama banget kita ngga berduaan kaya gini. Gimana kalau kita balik kesini aja?”
Elea menatap Alfa. “Mas Al yang bawa aku pergi dari sini dan sekarang Mas Al tiba-tiba aja mau ajak aku balik kesini lagi.”
“Aku kangen banget sama kamu, El. Aku capek harus terus-terusan berpura-pura di depan semua orang.”
“Tapi itulah yang harus kita lakukan sekarang, Mas. SH adalah satu-satunya harapan aku. Kalau tante Lita tahu kita sudah nikah sekarang, aku pasti akan kehilangan kesempatan lagi untuk bisa kuliah disana. Bukan saja karena aku memberi contoh buruk untuk yang lain, tapi juga karena aku sudah menghancurkan hidup putra kesayangannya.”
Alfa setuju dengan pendapat Elea. Ia tahu betul tabiat mamanya. Jika ia ingin Alfa bersama Nara, maka ia tidak akan segan-segan menyingkirkan siapapun yang berpotensi menjadi penghalang. Dan Alfa sama sekali tidak ingin mamanya melukai istrinya.