
Seperti biasa, pagi itu Alfa kembali mengantar Elea ke sekolah. Ia menyerahkan kartu atm kepada Elea.
“Ini adalah uang jajan kamu selama satu bulan.”
Elea terlihat ragu untuk menerima atm tersebut. Sehingga Alfa meletakkannya ke tangan Elea.
“Gunakan untuk membeli keperluanmu dan ingat! Jangan boros!”
“Andai ia tahu bahwa cukup sulit menemukan atm di dekat apartemen maupun sekolah dan bahwa kantin sekolah hanya menerima pembayaran tunai” batin Elea.
“Kenapa lo diem aja? Apa mungkin lo ragu kalau saldonya bakal cukup untuk jajan selama satu bulan?” Batin Alfa
Elea menatap Alfa lalu tersenyum, “Ngga, bukan gitu, Mas. Terima kasih.”
Alfa akhirnya menghembuskan nafas lega mendengar Elea mau menerima pemberiannya.
Saat turun dari mobil, Elea melihat Ruri terburu-buru dan menabrak anak kecil yang berdagangan asongan di depan sekolahnya.
Karena hampir terlambat, Ruri hanya minta maaf lalu pergi meninggalkan anak itu memunguti dagangannya yang tercecer di trotoar depan sekolah.
Elea kemudian membantu pedagang asongan itu hingga barang dagangannya kembali tertata rapi di kotak yang dibawanya.
“Yah, ada yang rusak dek.” Elea memungut beberapa susu kotak yang penyok.
“Ngga papa, Kak. Terima kasih sudah dibantuin.”
“Yang rusak ini biar kakak beli aja ya?” Elea merogoh sakunya.
‘Ah, sial! Aku kan tidak punya uang tunai.’ Elea menunduk lesu.
“Udah ngga papa, kak.”
“Maaf ya, dek. Kakak ngga punya uang tunai.”
Bocah kecil itu tersenyum lalu pergi meninggalkan Elea. Elea bergegas masuk namun sayang gerbang sekolah sudah ditutup. Ia menggedor-gedor gerbang tapi si petugas keamanan yang berjaga tetap bergeming.
Meskipun kesal, Elea tidak mau menyerah. Ia mencari dinding pagar sekolah yang dipanjatnya bersama Niken beberapa hari sebelumnya di bagian belakang sekolah.
Ketika tiba di sana ia bertemu dengan Davian yang sudah bersiap-siap naik ke atas dinding pagar.
“Lo lagi, lo lagi!”
“Kakak juga terlambat?”
“Ngga, lagi ngitungin retak di dinding!”
“Hehehe...”
Pemuda itu memanjat dinding dengan mudah sementara Elea mengulurkan tangannya berharap pemuda itu akan menariknya dari atas.
“Ngapain lo?”
“Minta ditolongin. Aku ngga bisa manjat, Kak.”
Davian seharusnya langsung turun di dalam halaman belakang sekolah lalu bergegas kembali ke kelasnya sebelum guru datang. Tapi melihat Elea memelas di bawah sana, ia tidak tega.
Buuukkkk!
“Makasih yah kak udah ditolongin.” Elea mengulurkan tangannya, “Elea.”
“Gue bisa baca name tag di baju lo”
“Oh iya.” Elea membaca nama di dada kanan Davian, “Kak Davian, sekali lagi makasih yah?”
“Hei! Kalian berdua!”
Seorang guru yang kebetulan lewat mendengar suara Elea dan memergoki mereka berdua.
“Sial! Kenapa yah hidup gue selalu aja sial setiap kali ketemu sama elo?!”
“Davian, sebagai siswa populer di sekolah ini seharusnya kamu memberikan contoh yang baik kepada teman-teman kamu. Dan kamu! Siswa baru seharusnya lebih disiplin. Bukannya terlambat dan manjat pagar seperti kamu.”
“Maaf, Pak.”
“Agar kalian jera dan tidak mengulang kesalahan yang sama, Bapak minta kalian untuk hormat bendera di lapangan sampai jam pelajaran pertama selesai.
***
Erika, siswa kelas dua yang sudah lama menyukai Davian merasa terganggu melihat Elea dekat dan ngobrol ketika di hukum hormat bendera di lapangan.
“Nyebelin banget deh tu cewek!”
“Siapa?” Mona mengikuti arah pandangan Erika. “Kayaknya anak baru deh. Gue belum pernah lihat sebelumnya.”
“Mesti gue kasih pelajaran tuh anak. Supaya tahu siapa Davian dan gue disini.”
“Setuju banget. Anak baru kaya dia kalau didiemin suka ngelunjak.”
***
Jam pelajaran kedua usai dan setelah diintrogasi panjang lebar oleh Bu Rosita, guru matematika sekaligus wali kelasnya, Elea mempersiapkan diri untuk pelajaran geografi.
“Ruri! Ini id card lo.” Elea menyerahkan id card Ruri yang dia temukan sewaktu menolong pedagang asongan tadi.
“Thanks.” Jawab Ruri singkat lalu meninggalkan Elea menuju kamar mandi.
“Apaan sih El?”
“Oh itu, tadi barang Ruri ada yang jatuh di depan gerbang, terus aku temuin dan balikin sama dia. Kayaknya barang penting.”
“Nyebelin banget sih tu cewek. Barang berharganya ditemuin dan dibalikin orang lain tapi dia cuma say thanks dengan wajah datar. Kalihatan ngga tulus banget gitu, El.”
“Ya udah sih, kan yang penting dia dah bilang makasih.”
“Ih, sombong banget tu cewek. Ngeselin!”
“Selamat pagi anak-anak! Hari ini kita akan belajar tentang dasar-dasar pemetaan, pengindraan jauh dan sistem informasi geografi. Tapi sebelumnya, Elea! Bisa bantu ibu ambil globe di perpusatakaan?”
“Baik Bu.”
Ketika kembali dari perpusatakaan, Elea mengambil jalan pintas melewati kolam renang sekolah yang ada di sisi barat kelas dua. Ia berharap bisa lebih cepat sampai karena kakinya sudah sangat lelah dipakai berdiri di lapangan selama setengah jam lebih.
“Oh, jadi ini anak baru yang belagu. Baru berapa hari sekolah udah berani telat aja!”
“Maaf, Kak. Ada masalah apa yah?”
“Situ nanya?” ledek Erika bersama teman-temannya yang kebetulan sedang ada kelas olahraga yang materinya adalah berenang.
“Denger yah anak baru! Davian itu punya gue. Jadi lo ngga usah sok kecentilan deh...”
“Maaf, Kak. Tapi saya sama kak Davian itu ngga ada apa-apa. Cuma kebetulan dihukum bersama karena sama-sama terlambat.”
“Banyak bacot ya lo! Nantangin gue?!” Erika mendorong-dorong bahu kanan Elea dengan telunjuknya.
Seorang teman Erika mengambil globe dari tangan Elea dan Erika langsung mendorong Elea hingga tercebur ke dalam kolam.
Elea yang tidak bisa berenang berusaha melambai-lambai meminta pertolongan. Tapi Erika dan teman-temannya malah menertawakannya.
Davian yang baru saja tiba di kolam renang langsung masuk ke kolam, menolong Elea lalu membawanya ke UKS dalam keadaan basah kuyup.
“Sial! Gue lupa kalau Davian juga ikut kelas renang.” Gumam Erika.
“Tapi Rik, kok Davian bisa langsung gercep gitu yah? Apa jangan-jangan Davian suka lagi sama tu cewek?”
“Lo ngomong apaan sih?”
“Aduh! Sakit, Rik!” Mona mengikuti Erika sambil terus memegangi lengannya yang baru saja ditinju Erika.