My MicroWife

My MicroWife
Prioritas (1)



Ujian Akhir Nasional sudah di depan mata tapi hari itu Elea merasa kurang enak badan tapi Alfa harus pergi ke luar kota karena ada urusan penting. Jadi setelah pulang sekolah, Elea memutuskan untuk pulang ke rumah Niken. Ia tidak ingin sendirian di rumah.


Lagi pula Niken bilang hari itu ibunya masak masakan istimewa, ayam oven favoritnya. Dan sepertinya keputusan Elea hari itu sangat tepat. Ibunya Niken sangat ramah dan memperlakukannya seperti anak sendiri. Beliau memberi Elea makan dan obat agar meriangnya sedikit berkurang.


Berkat ibunya Niken, sore harinya kondisi Elea sudah jauh lebih baik.


“El, kakak gue bilang, ntar malem band-nya Davian perform di kafe dekat hotel tempat kakak gue kerja.”


“Kesana yuk!”


“Mo ngapain lo? Kalau Kak Al sampai tahu –“


“Ya jangan sampai tahulah! Ada yang mau aku omongin sama Kak Davian. Lagian kita perlu refreshing sebelum ujian besok."


Akhirnya mereka datang juga ke kafe tempat Davian dan band-nya tampil malam itu.


“Ken, penuh banget nih. Ngga ada tempat duduk lagi.”


“Iya.. hebat juga the One Band. Fansnya banyak juga.”


“Terus gimana nih?!” Elea mulai terlihat putus asa.


“El, lihat deh! Itu Ruri bukan?”


Elea memperhatikan orang yang sedang ditunjuk oleh Niken. Dan benar saja ia melihat Ruri sedang melayani para tamu kafe. Rurilah yang akhirnya memberi mereka tempat duduk istimewa.


“Ri, makasih ya! Lo emang debest lah..” puji Niken.


“Denger. Meja ini sudah direservasi. Jadi kalo pemiliknya datang, kalian harus buru-buru cabut. Gue ngga mau dipecat gara-gara kalian.”


“Siap bos!!”


Niken dan Elea beruntung mendapatkan tempat paling nyaman menghadap tepat ke arah Davian. Elea yakin Davian juga pasti bisa melihat keberadaannya dari atas pentas.


Belum selesai mendengarkan lagu the One Band, pemilik kursi sudah datang dan mereka terpaksa pindah. Karena tidak mendapat tempat duduk lainnya di kafe, Elea mengajak Niken pulang.


“Lagu berikutnya saya nyanyikan spesial buat cewek cantik yang pakai hoodie putih di sana.” Suara Davian membahana diikuti sorot lampu yang mengarah kepada Elea.


Sebuah lagu lawas bertajuk ‘Maaf’ yang pernah dipopulerkan band Jikustik mengalun dan membawa para penonton hanyat dalam nostalgia.


“Ough, so sweet...” goda Niken.


Elea terlihat sama sekali tidak tertarik. Ia pergi meninggalkan kafe dan juga Niken yang masih asyik menyanyi bersama the One Band.


“Loh, El! Lo mau kemana? Tungguin woi!”


Mereka berjalan menyusuri trotoar yang akan membawa mereka menuju halte bus.


“Tunggu El!” ternyata Davian mengejar mereka setelah menyelesaikan lagunya.


Niken sengaja berjalan lebih dulu untuk memberi Elea dan Davian kesempatan berbicara.


“El, gue mau minta maaf.”


“Soal apa?”


“Gue dan Erika –“


“Oh, ngga papa kok. Kakak ngga perlu minta maaf.”


“El, gue ngga tahu kalau lo bakal datang.”


“Aku nemuin undangan di tas. Karena aku pikir Kak Davian pengen aku datang ke ulang tahun Kakak, jadi aku datang sama Mas Al.”


“Tapi bukan aku yang undang kamu.”


“Jadi Kak Erika lagi?”


“El, itu ngga penting lagi sekarang. Gue cuma pengen jelasin kenapa gue mau tunangan sama Erika.”


“Ngga perlu, Kak. Itu urusan kakak sama ka Erika. Jadi Kakak ngga perlu jelasin apapun sama aku.”


Davian mendekat dan meraih tangan Elea. “Ngga El, lo harus tahu. Gue ngga mau lo salah paham.”


“Salah paham?”


“So what?”


“Gue tunangan sama Erika bukan karena gue suka sama dia. Tapi hanya karena gue terpaksa El. Gue pengen lo tahu kalau gue cuma suka sama elo.”


“Apa?”


“El, sekarang gue bener-bener terjebak sama kebodohan gue sendiri. Gue takut kalau gue bakal kehilangan elo gara-gara Erika. El, plis jangan tinggalin gue!”


*****


Ketika sampai di rumah Niken, keceriaan Elea menghilang seketika.


“Loh, kok Mas Al ada disini?”


“Kenapa? Kelihatannya kamu ngga suka.”


“Bukannya Mas Al bilang ada kerjaan di luar kota dan baru balik besok pagi?”


“Niken bilang kamu sakit. Jadi aku buru-buru pulang.”


“Aku sudah sehat kok.”


“Kelihatan banget. Kamu bahkan terlihat lebih sehat dari orang sehat sampai-sampai sempat nonton live music segala.”


“Kok Mas Al tahu?” Elea mengalihkan pandangannya dari Alfa ke Niken.


Dan gadis itu dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Bukan gue, El. Gue ngga bilang Kak Al kalau kita mau nonton band-nya kak Davian.”


Elea mengepalkan tangannya memberi sinyal peringatan dan Niken lebih memilih untuk segera masuk ke dalam rumah sebelum Elea benar-benar meninjunya.


*****


Selama perjalanan, Alfa tidak berbicara sepatah katapun. Ia merasa sangat kesal karena Elea menonton penampilan band Davian.


“Makan dulu ya, Mas? Laper lagi nih...”


Alfa masih saja bergeming.


“Mas, kalau aku sakit lagi gimana?”


“Ada banyak obat di rumah.”


“Kalau ngga bisa sembuh karena perutnya kosong gimana?”


“Ada mi instan.”


“Kan Mas Al yang bilang kalau kita ngga boleh banyak-banyak makan mi instan.”


“Ada roti tawar.”


“Mas, gelandangan di dalam perut aku ini gelandangan desa. Kalau Cuma dikasih makan roti mana kenyang?”


Alfa berusaha mengalihkan pandangannya demi menahan tawa.


“Mas, jangan marah lagi, dong... Ia aku minta maaf. Aku pengen nonton Kak Davian karena penasaran dengan apa yang terjadi, kenapa dia tiba-tiba aja tunangan sama Kak Erika. Dan Mas Al tahu ngga? Ternyata Kak Davian ngelakuin itu karena terpaksa. Kak Erika yang maksa dan ngancam dia.”


“Dan kamu percaya dengan bualan bodoh seperti itu?”


“Kak Davian kelihatan tulus kok. Dia juga minta maaf sama aku.”


“Buat apa?”


“Dia bilang ngerasa ngga enak dan bersalah. Dia bilang dia suka sama aku.”


Ciiiiit!


Alfa menginjak rem dalam-dalam sehingga mobil langsung berhenti tiba-tiba.


“Mas Al kenapa?” Elea kaget karena Alfa tidak pernah seperti itu sebelumnya.


Alfa tidak menjawab dan langsung turun dari mobil. Ternyata mereka sudah tiba di parkiran apartemen.


******