
Alfa dan Elea tengah menikmati makan malam mereka dalam kebisuan. Mereka merasa canggung satu sama lain atas apa yang mereka ketahui hari itu.
“El!”
“Ya.”
Alfa tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya kepada Elea, “Kotak itu milik Handoyo. Dia menitipkannya disini karena tidak ingin bermasalah dengan Tara.”
“Oh.”
‘Apa? Hanya Oh?’
“Jadi apa kamu sempat membukanya?”
“Apa? Apakah aku harus membukanya? Kenapa Mas Al terus saja nanyain hal yang sama?”
“Ah, tidak. Itu –“ Alfa tertawa-tawa tidak jelas.
‘Ini sungguh sangat menyebalkan!’
“Btw, kenapa kau masuk ke kamarku?”
“Ngga boleh? Seharusnya kakak menambahkannya di peraturan nomor tujuh.”
“Bukan! Bukan seperti itu. tidak biasanya kamu membersihkan rumah seperti ini. Kamu bahkan mencuci – Tunggu!”
Alfa baru ingat bahwa ada beberapa ****** ***** di tumpukan baju kotornya. Ia benar-benar malu membayangkan Elea mencucinya.
“El, meskipun aku tahu kamu berniat baik, tapi mulai sekarang kamu tidak perlu melakukan pekerjaan rumah pribadiku seperti mencuci dan mensetrika pakaianku.”
“Aku tidak mau menerima gaji buta.”
“Gaji?”
Elea mengangguk dan Alfa segera menyadari bahwa gaji yang dimaksud Elea adalah uang jajan yang diberikannya.
“El, itu bukan gaji. Itu adalah uang bulanan. Nafkah. Atau lebih mudahnya sebut saja uang jajan. Aku berkewajiban memberimu uang itu. jadi jangan terlalu merasa terbebani.”
“Nafkah? Jadi Mas Al memberiku nafkah karena sudah menikahiku?Terus kenapa orang yang sudah Mas nikahi ngga boleh nyuciin ****** ***** Mas?” Elea meninggalkan Alfa dengan kesal lalu masuk ke dalam kamarnya.
Sebenarnya Elea tidak sadar dengan apa yang baru saja dikatakannya. Ia hanya merasa kesal karena pria yang dinikahinya ternyata pria mesum yang pengecut, tidak berani mengakui bahwa ia memang maniak dengan benda-benda porno seperti itu.
Sementara itu, Alfa masih saja tercengang mendengar perkataan gadis kecil itu. bagaimana mungkin ia berani bicara hal tabu seperti itu dengan begitu santai dan lantang.
‘Gadis ini sebenarnya pura-pura bodoh atau memang sangat bodoh?’
Alfa masih tidak habis pikir bagaimana mungkin gadis kecil itu bisa membuatnya yang pandai berargumen jadi kehabisan kata-kata dan tampak seperti penjahat yang tertangkap basah.
***
“Tapi Al, jangan sekarang dong! Mau gue kemanain? Kalau Tara tahu bisa habis gue!”
“Gue ngga mau tahu! Pokoknya lo mesti ambil sekarang atau bakal gue buang ke tempat sampah!”
Benar saja, tidak lama kemudian Handoyo sudah tiba di apartemen Alfa untuk mengambil kotak harta karunnya.
"Al, lo apa-apaan sih?! Kenapa tiba-tiba ribut cuma gara-gara kotak ajaib itu?"
"Nih, lo bawa kotak ajaib lo pergi jauh-jauh dari rumah gue! Gue ngga punya tempat penyinpanan tersisa lagi buat kotak ajaib lo." Alfa sengaja memberi penekanan pada beberapa kata dan mengeraskan volume suara pembicaraannya dengan Handoyo agar Elea keluar dari kamarnya dan mengetahui bahwa kotak itu milik Handoyo bukan miliknya.
Karena Alfa sudah menjelaskan semua duduk persoalannya kepada Handoyo panjang kali lebar tapi Elea tidak juga keluar dari kamarnya, maka Alfa terpaksa mencoba cara lain.
“El, bisa tolong buatkan Handoyo minuman?”
Elea melepas earphone di telinganya ketika kepala Alfa menyembul dari balik pintunya.
“Apa?”
‘Sial! Jadi sejak tadi ia memakai aerphone sialan itu?’
“Boleh tolong buatkan minuman untuk Handoyo?”
“Oh.” Elea meletakkan aerphone dan bukunya lalu ke dapur untuk membuat minuman.
Tidak ada pertanyaan ataupun tanggapan lain keluar dari mulut Elea. Gadis yang biasanya memiliki tingkat kekepoan dan kecerewetan yang sangat tinggi itu tiba-tiba saja jadi lebih pendiam dan cuek.
“Hai El! Lagi belajar?” tanya Handoyo basa-basi.
Elea melirik kotak usang yang terletak di depan Handoyo lalu tersenyum, “He eh. Aku masuk dulu ya?”
Alfa senang misinya berhasil.
“Sekarang lo boleh pergi!” Alfa mendorong tubuh Handoyo menuju pintu keluar.
“Tapi Al, gue belum minum minuman buatan Elea.”
“Gue bilang, pulang! Atau gue telepon Tara sekarang?”
“Awas ya lo!”
Alfa menutup pintunya lalu menenggak habis minuman buatan Elea. Sekarang ia bisa tidur dengan tenang.
***