
Alfa kemudian menyerahkan sebotol air mineral kepada Elea.
“Lah, Mas Al bawa minum juga tho? Kok ngga bilang dari tadi?”
“Kamu ngga nanya.”
“Btw, Mas Al kok tahu kalau disini tempatnya dan ada jalan alternatif juga.”
“Dulu aku sering banget kesini sama Handoyo, Nasya sama Arka juga.”
“Oh.. Vila yang dipakai tidur para pengajar juga pasti vilanya Mas Al.”
“Vila papa.” Alfa mengoreksi.
“Pantesan Mas Al hafal banget jalan kesini. Oh ya, Mas lain kali kalau kaki aku sudah sembuh, kita kesini lagi yah? Aku pengen main disana juga sama Mas Arka, Kak Han sama Kak Nasya juga.”
“Pergi aja sama mereka!” Alfa bangun lalu meninggalkan Elea dengan wajah kesal.
“Iya sama Mas Al juga maksudnya.” Elea ikutan bangun dan mengekor Alfa. “Ngambekan banget sih jadi orang!”
Alfa terus saja berjalan dan Elea terus saja mengikutinya tanpa tahu kemana mereka akan pergi. Setelah apa yang Alfa lakukan, ia tahu bahwa pria itu akan selalu membawanya ke tempat yang tepat dengan cara yang tepat dan aman. Jadi kali itu ia memilih untuk percaya dan menurut saja tanpa banyak bertanya.
Mereka akhirnya tiba di sebuah rumah kecil tidak jauh dari vila Alfa.
“Selamat siang, Bu!” kata Alfa sembari mengetuk pintu rumah tersebut.
“Eh, Mas Al. Masuk Mas!” Seorang wanita lima puluhan keluar dan menyambut kedatangan Alfa lalu mempersilakan mereka masuk. “Mas Al darimana? Kok ngga bilang-bilang kalau mau kesini?”
“Dari air terjun, Bu. saya kesini cuma mampir buat nepatin janji saya.”
“Janji?” tanya wanita itu ragu.
“Ini kenalkan! Elea, istri saya.”
“Hah?!” Wanita itu tampak terkejut lalu segera bersikap kembali normal. “Oh, iya. Mbak Elea, kenalkan saya Bu Santi yang merawat Mas Al dari kecil.”
“Oh iya, Bu. Salam kenal.” Elea mencium punggung tangan Bu Santi.
Bu Santi kemudian membuatkan makanan dan minuman untuk mereka.
“Saya ngga nyangka kalau Mas Al beneran sudah punya istri. Saya khawatir Mas Al ngga mau nikah.”
“Lah, kenapa bisa gitu, Bu?” tanya Elea.
“Kan Mas Al ngga pernah mau deket sama cewek. Suka cuek dan galak banget kalau ada cewek yang mau ngedeketin. Si Nita sampai nangis ngga karuan pas Mas Al tinggalin di air terjun sendirian.”
“Iya, Nita dimana, Bu. Saya mau minta maaf soal itu. Setelah dipikir-pikir lagi saya memang kelewatan banget waktu itu.”
Bu Santi tertawa, “Ngga usah dipikirin lagi, Mas. Nita pasti sudah maafin Mas Al. Dia juga yang kelewatan. Masak anaknya pembantu nekat mau nembak anak majikannya.”
“Bukan gitu, Bu. Waktu itu saya masih labil dan saya bener-bener ngga pengen pacaran. Tapi saya bener-bener ngga ada niat buat nyakitin Nita.”
Bu Santi lagi-lagi tertawa. “Kalian berempat memang lucu sekali. Kalau diingat-ingat lagi banyak hal lucu yang kalian lalui bersama. Tapi sekarang Nita sudah kerja di kota, Mas. Dan sepertinya sudah mau nikah juga.”
“Oh, syukurlah kalau gitu. Kalau dia ada waktu, suruh dia hubungi saya.” Alfa menyerahkan kartu namanya.
“Baik, Mas Al. Eh ayo silakan dimakan.”
*****
Berkat jalan alternatif yang Alfa ketahui, mereka bisa tiba di vila lebih dahulu. Alfa bergegas masuk ke dalam kamar pribadinya yang ada di dalam vila, mandi lalu berganti pakaian.
“Loh, ini ada kamar kosong.” Ujar Elea dengan polosnya.
“Emang kosong. Cuma aku yang boleh masuk dan tidur di dalam sini.” Jawab Alfa santai.
“Karena aku pengen tidur sama kamu. Kalau disini, dosen-dosen itu pasti langsung menggerebek kita dan bikin mama kebakaran jenggot.” Jawab Alfa santai sambil membawa kotak P3K dan menyuruh Elea duduk di tepi ranjang.
Alfa membersihkan bekas luka Elea dan mengganti perbannya dengan yang baru. Alfa kemudian mengambil kacamata, memakai jam tangan dan jasnya yang ada di dalam lemari.
“Tunggu! Itu di dalam lemari juga banyak bajunya Mas Al.”
“Itu karena lemari ini memang punya aku.”
“Kenapa semalem ngga ganti baju disini?”
“Karena kamu ngga bakalan ngasih aku kaos dan bilang kalau itu adalah obat kangen kamu sama aku.”
Elea memukul-mukul tangan Alfa karena kesal. “Nyebelin banget sih!”
Dan Alfa sangat senang melihat gadis kecil yang sangat menggemaskan itu merajuk seperti itu. “Kamu nikmatin aja sisa waktu kamu disini sama teman-teman kamu. Aku harus kembali ke kantor karena ada urusan penting. Besok kalau tidak ada halangan, aku bakalan jemput kamu lagi disini.”
Alfa menyerahkan kunci kamarnya kepada Elea, “Kalau Bianca ngusir kamu lagi dari tenda, tidur aja disini.”
Elea tersenyum senang karena akhirnya menemukan tempat pelarian yang jauh lebih nyaman dari tenda miliknya.
“Oh, ya. Ngomong-ngomong, tumben Mas Al ke rumah sakit kemarin ngga bawa jas? Aku lihat di mobil juga ngga ada.”
“Ketinggalan di kantor.”
“Kok bisa? Biasanya kan Mas Al orang yang paling pantang keluar tanpa penampilan sempurna. Apalagi sampai lupa memakai jas.”
“Mana ada orang panik yang sempat mikirin jas, El?”
“Mas Al panik?”
“Ya panik lah! Cowok mana yang ngga panik begitu tahu istrinya kecelakaan?”
“Yakin karena aku? Bukan Nara?” goda Elea.
Alfa bangun dan bergegas pergi meninggalkan Elea. Ia merasa tidak perlu menjawab pertanyaan konyol seperti itu. tapi Elea menarik tangan Alfa dan menahannya.
“Makasih yah, Mas Al selalu ada buat aku.”
Elea kemudian memberanikan diri mengecup bibir Alfa. Tapi saat Alfa hendak membalasnya, Elea malah menjauhkan diri dari Alfa.
“Kenapa Mas Al kasih Bu Santi kartu nama Mas Al dan minta Nita nemuin Mas Al? Mas Al kan udah nikah, ngapain juga masih ngarepin cewek lain?”
Alfa tidak mau menjawab dan hanya menarik Elea ke dalam pelukannya lalu menghujaninya dengan kecupan demi kecupan.
****
Hari itu adalah hari terakhir para mahasiswa Akademi seni SH berada di tempat perkemahan. Jadi siang itu para senior kembali membuat aneka fun game dan juga mempersiapkan pentas seni pada malam harinya untuk mempererat keakbaran diantara seluruh warga SH.
Acara semakin meriah ketika Nara tiba-tiba saja datang. Para pengajar memberikan sambutan yang sangat meriah kepada pengajar baru itu. Dan para mahasiswa laki-laki mulai dengan aksi gila mereka masing-masing demi mendapat perhatian dari Nara yang bersinar bak bintang film disana.
Para senior yang baru saja lulus dari SH, siang itu hadir dan memberikan beberapa permainan untuk memperebutkan salah satu medali SH.
Salah satu permainannya adalah melalui berbagai rintangan yang sudah dipersiapkan untuk mendapatkan medali SH yang terhantung di atas pohon tanpa memanjat dan juga tanpa alat.
Permainan dibuat sedemikian rupa sehingga siswa harus saling bersaing juga membantu untuk mendapatkan tropi itu. Awalnya Elea tidak yakin bisa ikut dalam permainan itu, tapi ia jelas tidak mau melewatkan hadiah yang sangat berharga baginya itu.
Jadi Elea sudah siap bersaing dengan peserta lainnya ketika tanpa terduga Nara datang dan menghampirinya. “Lo udah gila ya? Lo baru aja selamat dari kecelakaan maut dan sekarang mau ikutan game ngga mutu kaya gini hanya demi sebuah medali?”
“Yup! Karena sudah lolos dari maut, jadi kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan sekecil apapun. Wish me luck!”
*****