
Malam harinya mereka kembali berkumpul di meja makan. Dan Erlita sungguh bergerak sangat cepat karena Kinara yang sempat marah kepada Alfa, malam ini sudah ikut bergabung, duduk di meja makan bersama keluarga Alfa.
Erlita bersikap sangat ramah malam itu. Ia berkali-kali memancing obrolan terkait hubungan Kinara dan Alfa yang juga disambut hangat oleh Arka dan Nafan. Kinara juga terlihat sangat menikmati obrolan keluarga malam itu.
“Nara, karena kalian sudah bertemu dan semakin akrab satu sama lain, tante rasa ada baiknya kalau rencana pernikahan kalian dipercepat.”
“Uhuk.. Uhuk...”
“Kenapa Al?”
“Mama ini ngomong apa sih?”
“Loh, bukannya itu ide bagus? Ya kan El?” Erlita baru menyadari kalau gadis itu sedang melamun. “El?”
“Eh, iya, tante. Kenapa?”
“Kamu lagi mikirin apa sayang?”
Elea hanya menggeleng.
“Kok kamu diem aja dari tadi? Ada apa El?”
“Maaf tante. Tapi ayah saya selalu bilang kalau kita sebaiknya tidak banyak bicara saat makan untuk menghormati dan mensyukuri makanan yang kita makan.” Elea merapikan makanan yang bahkan belum dimakannya sama sekali. “El sudah kenyang. El ke kamar dulu ya, Tan, Om?”
Dan ia pergi tanpa menunggu persetujuan dari orang-orang yang masih tidak mengerti dengan perubahan sikapnya hari itu.
“Elea kenapa, Ka?”
“Mana Arka tahu, Ma? Arka juga heran kenapa si nona bar-bar hari ini jadi pendiam dan bijak banget.” Arka memikirkan beberapa kemungkinan, “Apa mungkin dia sakit?”
“Ya sudah, coba kamu samperin ke kamarnya gih!”
“Ka, sebaiknya kamu jangan ganggu dia dulu. Kalau dia meninggalkan keramaian di sini dan memilih kembali ke kamar, mungkin karena dia butuh waktu untuk sendiri.” Cegah Nafan
Arka kembali ke tempat duduknya. “Oke, Pa.”
“Kenapa Mama jadi ikutan khawatir, yah? Biasanya kan dia yang selalu bikin rumah ini rame.” Erlita bicara sendiri
Tapi Kinara mendengarnya dan merasa tidak senang karena lagi-lagi Elea berhasil mencuri perhatian keluarga Alfa darinya, bahkan hanya dengan diam saja.
“Kalau gitu, Nara pulang aja ya, Tan?”
“Eh, jangan dong sayang. Kan pembicaraan kita belum selesai.” Cegah Erlita.
“Al, besok kita ada agenda makan bersama di rumah Eyang. Kamu harus ajak Nara supaya bisa kenal sama semua keluarga kita.”
“Maaf Ma –“
“Maaf Tan –“
Keduanya menjawab bersamaan. Kinara tahu persis bahwa Alfa pasti akan menolaknya dan ia tidak mau kehilangan muka hanya karena tidak diajak ke acara remeh seperti itu.
“Maaf Tan, tapi besok Nara sibuk. Ngga bisa datang.”
Karena Kinara sudah menolak, maka Alfa memilih untuk pasif.
“Al, coba bujuk Nara, dong.. Besok itu momen yang pas untuk membahas rencana pernikahan kalian.”
“Ma, mama kan sudah dengar apa yang Nara bilang. Kita harus hormatin dong..”
‘Sial!’ Batin Nara.
“Bener Nara ngga bisa luangin waktu sebentar aja?”
“Maaf Tante. Tapi kalau besok sepertinya ngga bisa. Karena sore Nara ada pertemuan penting di galeri.”
“Oke, Nara usahain yah? Tapi Nara ngga janji.”
******
Setelah mengetahui kenyataan bahwa suaminya bukan pria sembarangan, Elea justru merasa berkecil hati. Ia tahu betul bahwa ia bukan siapa-siapa dan tidak akan mampu memberikan dukungan apapun kepada seorang pewaris kusumo grup yang begitu besar dan jaya.
Elea merasa sudah terlalu banyak berhutang budi kepada Alfa, jadi ia tidak ingin melangkah lebih jauh dan bersikeras menahan Alfa di sisinya hanya karena perasaannya yang egois. Ia harus mulai belajar untuk mandiri dan melepaskan Alfa perlahan agar pria itu bisa kembali ke kehidupan normalnya setelah sekian lama berusaha membantunya.
Malam harinya Elea terpaksa ikut rombongan keluarga Alfa untuk mendatangi acara makan bersama keluarga besar Erlita yang diadakan setiap satu bulan sekali. Acara itu rutin diadakan untuk menghormati tradisi keluarga besar Erlita yang diwariskan turun temurun oleh Eyang Pratiwi, neneknya.
Mereka tiba di rumah induk milik mendiang Eyang Pratiwi yang ada di tengah-tengah rumah kedua anaknya yang masih hidup yaitu, Sania dan Bramantyo. Rumah itu sangat besar dan juga mewah. Ada sebuah meja makan besar yang terbuat dari kayu berkualitas tinggi dengan desain mewah khas perusahaan furnitur Kusumo Group.
Kedatangan rombongan Erlita disambut hangat oleh pasangan Bram, putra angkat Pratiwi, bersama Farah, istrinya dan Sania, putri kedua Pratiwi, yang sudah sibuk menata meja dan menyiapkan aneka hidangan lezat.
Tak lama kemudian Handoyo datang bersama Tara, Tobi dan kedua orang tuanya, Johan dan Cecilia yang merupakan putra kedua pasangan Bram dan Farah.
Mereka saling menyapa dan terlihat sangat harmonis, layaknya keluarga kaya yang sempurna dan tanpa cela di mata Elea. Ia jadi semakin meras buruk dan tidak seharusnya berada di sana.
Ketika hendak keluar mencari angin segar, Elea berpapasan dengan Jihan, putri pertama Bram dan Farah, yang datang bersama Dean suaminya.
“El!” pekik Jihan.
“Maaf, tante kenal saya?”
Jihan langsung memeluk Elea dan menangis. “El, mama kangen sama kamu, Nak.”
Elea terlihat kebingungan dan Dean segera menarik tubuh istrinya dari Elea.
Tak lama kemudian Alfa datang menghampiri mereka yang masih berdiri canggung di depan pintu.
“Tante, kenalin. Ini Elea, teman Alfa dan Arka. Dan El, ini tante Jihan. Kakak sepupunya mama.”
“Elea?” ulang Jihan. “Kenapa kamu begitu mirip dengan Electa, Nak?”
“El, tante Jihan ini dulu punya anak yang namanya Electa. Tapi dia sudah lama meninggal. Dan sepertinya kamu mengingatkan tante sama dia.”
“Oh, tante. Maafin El yah? El ngga tahu soal itu. Tante baik-baik saja?”
Jihan yang biasanya ketus malam itu menjadi sangat berbeda. Ia terlihat sangat ramah dan ceria. “Tante ngga papa. Tante hanya kangen sama Electa.”
Jihan kembali menangis di pelukan Dean yang sedari tadi hanya mematung. Ia juga tidak menyangka kalau Elea begitu mirip dengan Electa. Andai saja Electa masih ada, mereka pasti terlihat seperti anak kembar karena sangat mirip. Bahkan nama mereka berduapun juga hampir sama.
“Tan, tante masuk dulu aja. El mau keluar sebentar buat lihat-lihat.”
“Iya, sayang. Tante tunggu kamu di dalam yah? Jangan lama-lama.” Jihan begitu hangat dan memperlakukan Elea layaknya orang yang sudah lama saling mengenal.
Elea melihat ada taman kecil di halaman rumah besar itu. Banyak bunga cantik yang tertanam di sana dan terlihat sangat terawat.
“Maaf soal tadi.”
Suara Alfa membuat Elea sedikit terkejut. Ia tidak tahu kalau Alfa akan mengikutinya keluar.
“Electa meninggal saat masih kecil. Sejak kecil ia menderita hemofilia dan semua orang memperlakukannya layaknya cermin tipis yang rentan pecah. Waktu itu aku baru berusia sekitar sembilan tahun dan Electa jatuh ke kolam renang ketika menghadiri acara ulang tahun aku.” Suara Alfa menjadi sedikit parau.
Elea tahu bahwa itu mungkin bukan bagian yang mudah untuk Alfa ceritakan kepada orang lain. Jadi Elea memilih untuk hanya menjadi pendengar yang baik.
“Sejak saat itu, tante Jihan berubah. Electa meninggalkan banyak hal yang sulit untuk dilupakan. Gadis kecil itu –“
“Mas, Mas Al ngga harus menceritakan semuanya sekarang. Aku ngerti perasaan Mas Al dan aku turut berduka. Dan aku minta maaf karena ngatain Mas Al lebay gara-gara insiden kolam renang waktu itu. aku ngga tahu kalau –“
“Kamu ngga salah, Al. Aku aja yang ngerasa trauma. Takut kejadian mengerikan itu akan terulang lagi.”
Elea memeluk Alfa tanpa menyadari bahwa ada orang yang sedari tadi memperhatikan mereka dari jauh.