
Hari itu Alfa sengaja memberikan semua waktunya untuk Elea. Setelah pulang dari apartemen, ia mengajak Elea menjemput Niken di kampusnya. Lalu mereka berjalan-jalan sebentar, mencari beberapa barang dan makanan untuk dibawa ke penjara menemui Ruri.
“Tapi, Mas. Siang ini aku harus kerja.”
“Udah tenang aja. Aku yang akan urus semuanya.”
“Gimana bisa? Yang ada aku bakalan dipecat kalau sering telat tanpa keterangan kaya gini.”
Alfa sama sekali tidak mempedulikan Elea dan tetap saja dengan santai menjalankan rencananya hari itu. Mereka menghabiskan waktu siang itu dengan bercengkrama bersama Ruri.
“Makasih ya kalian mau datang kesini.”
“Aku kangen sama kamu, Ri.” Elea mulai mewek lagi.
“Ruri, sidang akan segera digelar dan kami sudah menemukan beberapa orang saksi dan bukti pendukung. Jadi kamu tenang aja yah? Mudah-mudahan semuanya berjalan lancar dan sesuai dengan yang kita harapkan.”
Ruri tidak kuasa menahan air matanya. Ia sangat takut dan putus asa. Ia ingin segera keluar dan bertemu dengan adik dan pamannya. Ia ingin kembali hidup bebas seperti dulu. Tapi ia tahu ia sedang berada dalam jebakan besar yang melibatkan orang berpengaruh. Dan itu membuatnya frustasi.
“Kak, bagaimana dengan pisaunya?”
“Kami sudah mencoba beberapa cara untuk menemukannya tapi sia-sia. Sampai sekarang kami masih belum bisa menemukan pisau itu.” ujar Alfa berterus terang.
“Ri, kamu tenang aja yah? Aku akan berusaha lebih keras untuk menemukannya. Kami pasti bisa mendapatkan pisau itu.”
Ruri tampak khawatir dengan kegigihan Elea. “Apa lo baik-baik aja El? Apa preman-preman itu masih neror elo?”
Elea berlagak tertawa. “Jangan khawatir! Kan ada Mas Al yang selalu ngawal aku dua puluh empat jam. Aman kok... jangan khawatir!”
‘Bisa-bisanya dia berlagak seperti itu setelah dibuat pingsan di jalanan.’ Gumam Alfa.
“Kak Al, tolong jagain Elea yah? Jangan biarin ni anak ikut campur lagi dengan urusan ini.”
“Tenang aja! Aku bakal kurung dia di kamarnya.”
******
Sepulang dari penjara, Alfa mengantar Elea dan Niken ke tempat kerja mereka. Alfa diam-diam menemui manajer toko yang bertugas hari itu tanpa sepengetahuan Elea.
“Bu, maaf kami terlambat. Tadi –“
“Ngga ada waktu lagi buat ngedengerin penjelasan kalian. Sekarang cepat kembali ke pekerjaan kalian masing-masing!”
“Baik, Bu.”
Elea merasa sedikit aneh karena manajernya membiarkannya begitu saja padahal ia sudah terlambat hampir satu jam. Begitu juga dengan Niken. Nita, manajer mereka bukan tipe orang pemaaf dan pengertian yang akan membiarkan mereka lolos setelah terlambat begitu lama.
*****
Malam harinya, sepulang kerja, Alfa mengajak Elea mengunjungi rumah Jihan dan tentu saja Jihan merasa sangat senang dengan kedatangan mereka.
“Ayo, masuk! Kenapa ngga bilang-bilang kalau mau kesini? Selamat datang di rumah tante.”
Jihan mempersilakan mereka duduk dan menyuguhkan beberapa minuman untuk mereka.
“Tan, ada yang mau Alfa omongin sama tante.”
“Go a head.”
“Tan, Alfa mau minta tolong tante buat jadi wali Elea. Waktu kuliah di SH, Elea tidak punya orang tua jadi dia terpaksa makai nama Al sebagai walinya. Tapi tante tahu kan apa yang bakal terjadi kalau mama sampai tahu?”
Jihan terlihat tidak percaya bahwa seorang Alfa rela meminta bantuannya untuk hal seremeh itu. Dan Alfa tahu bahwa Jihan mulai mempertanyakan banyak hal atas sikapnya tersebut. Tapi alasan yang Alfa buat cukup masuk akal. Jika tahu Al merelakan diri menjadi wali Elea, Erlita pasti akan berfikir bahwa keduanya memiliki hubungan istimewa dan mulai mengusik mereka dengan hal-hal tidak penting yang mengganggu. Dan Jihan tidak ingin Erlita bersikap menyebalkan kepada Elea.
Jihan manggut-manggut. “Tante paham sial itu.Tapi tante ngga ngerti kenapa kamu harus repot-repot kaya gini. Harusnya dari awal kamu tinggal bilang soal Elea sama mama kamu, Al. That’s it.”
“Al ngga pengen memanfaatkan koneksi, Tan. Lagi pula akan sedikit merepotkan kalau mama harus menjadi wali dari murid di yayasannya sendiri kan?” Alfa mengarang alasan. “Lagi pula, Al pernah dengar kalau tante sudah menganggap El seperti anak tante sendiri. Seharusnya ini bisa jadi kesempatan bagus buat Tante dan Elea untuk saling terikat satu sama lain. Ya kan, Tan?”
“Tante setuju! Tante ngga peduli apa alasan dan tujuan kamu. Tapi tante benar-benar ingin memperlakukan Elea seperti anak tante sendiri. Besok kita akan datang dan mengurus perubahan administrasi kamu.”
“Makasih, Tante.” Elea merasa lega mendengar perkataan Jihan.
“Oh ya Tan, ada satu lagi. Elea sudah memutuskan untuk tinggal dan merawat rumah induk.”
“Bagus! Tante juga akan segera mengurus kepindahan tante ke sana. Mungkin tante ngga akan selalu bisa menemani kamu dua puluh empat jam, tapi tante akan memanfaatkan setiap waktu yang ada untuk bersama kamu, El.”
“Makasih, tante.”
******
Proses persidangan kasus pembunuhan Laras dengan Ruri sebagai tersangka utamanya mulai digelar di pengadilan. Alfa dan timnya mengawal dan mendampingi Ruri selama proses persidangan tersebut.
Proses persidangan pertama telah selesai digelar dengan agenda mendengarkan keterangan saksi dari pihak korban yang cukup memberatkan Ruri. Proses persidangan berikutnya akan diadakan dua hari kedepan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi dari pihak Ruri sebagai tersangka, yang salah satunya adalah Elea.
Setelah sidang pertama itu, Alfa segera menggelar rapat internal dengan timnya untuk mematangkan para saksi yang akan mereka hadirkan di persidangan berikutnya. Alfa juga mulai cemas dengan kurangnya bukti yang bisa meringankan Ruri.
****
Hari itu Jihan menepati ucapannya dan secara khusus mengurus langsung keperluan administrasi Elea sebagai mahasiswa baru di Akademi Seni SH. Ia juga menjelaskan duduk persoalannya kepada Erlita dan mereka menemukan kesepahaman.
Elea merasa beruntung bisa kuliah di SH. Bisa dibilang sekolah SH sangat eksklusif. Memiliki banyak jurusan seni mulai dari rupa, musik, tari dan sastra.
Terdapat empat gedung utama tiga lantai untuk masing-masing jurusan dengan sekitar lima belas sampai dua puluh kelas. Masing-masing jurusan dibimbing oleh mentor-mentor yang berpengalaman dan mumpuni di bidangnya masing-masing.
Tidak jarang juga mereka mendatangkan mentor tamu yang kebanyakan berasal dari praktisi yang sudah terkenal dan memiliki banyak karya yang diakui masyarakat luas.
SH juga memiliki kantin yang sangat luas dan bersih juga asrama bagi mahasiswa yang berasal dari luar kota bahkan luar negeri. Tidak hanya itu, SH juga menyediakan klinik kampus dengan fasilitas rawat inap sekitar sepuluh puluh kamar dan dilengkapi tenaga medis serta peralatan kesehatan canggih yang hampir menyerupai sebuah rumah sakit. Fasilitasnya sangat lengkap dan terbilang mewah untuk ukuran akademi swasta.
Tidak heran jika mayoritas mahasiswanya berasal dari kalangan menengah ke atas, seperti anak pejabat maupun pengusaha kaya. Hanya beberapa orang saja yang tidak termasuk dalam golongan itu. Mereka adalah siswa yang masuk melalui jalur beasiswa dan prestasi seperti Elea.
*****