My MicroWife

My MicroWife
Macak alias Berdandan



Sabtu berikutnya, karena Alfa dan Elea lama tidak datang ke rumahnya, maka Tara yang datang ke apartemen Alfa.


Tara sudah siap dengan materi pelajaran kedua tentang menjadi istri yaitu macak alias berdandan. Sebagai seorang istri yang harus mendampingi suami yang sibuk dan banyak berurusan dengan orang penting, maka kita wajib bisa berdandan.


Tara kemudian mulai mengajari tahap-tahap berias wajah, mulai dari mengidentifikasi keperluan, jenis make up yang sesuai, memperkenalkan alat make up dan cara memakai serta membersihkannya dengan baik dan benar.


“Taraaaaa!!!!”


Elea melihat pantulan wajahnya di cermin. Cantik memang tapi ia jadi terlihat lebih tua dari usianya.


“Kenapa?”


“Kak, apa ini tidak terlalu berlebihan? Aku jadi kelihatan seumuran sama Mas Al?”


“Bukankah itu bagus? Orang tidak akan lagi menganggap kamu remeh saat bersama Alfa karena mereka yakin kalian adalah pasangan yang serasi dan sepadan.”


“Apa benar seperti itu?”


“El, percaya deh sama gue! Gue ini sudah hampir tujuh tahun menikah. Jadi gue paham betul bagaimana itu seluk beluk pernikahan.”


“Oh, ya rabu besok, Al diundang Pak Budi Gunawan, mantan walikota untuk membicarakan bisnis penting. Gue bakal bantuin elo dandan supaya Al jadi makin tergila-gila sama elo.”


“Tapi Kak, aku suka canggung kalau nemenin Mas Al ke acara-acara formal seperti itu. aku ngga tahu mereka ngomongin apa dan aku juga ngga tahu harus bersikap seperti apa. Aku selalu ngerasa kaya alien.”


Tara tertawa mendengar pengakuan polos Elea.


“El, semua bayi terlahir tidak bisa apa-apa. Tapi mereka terus belajar sampai akhirnya bisa berlari dan melompat. Kamu juga harus seperti itu. Pertama-tama, dengerin aja dulu semua yang mereka bicarakan, pahami lalu tanyakan sama Al bagian yang ingin kamu tahu lebih dalam. Kedua, pelajari cara bicara, bahasa tubuh dan kebiasaan lawan bicara. Dengan begitu, lama kelamaan kamu akan paham seperti apa ketika harus menghadapi siapa. Pelan-pelan saja sayang..”


“Aku cuma takut bakalan bikin Mas Al malu, Kak. Takut ngecewain Mas Al.”


“El, tugas kamu hanya berusaha melakukan yang terbaik sebagai istri Al. Soal hasil dan harapan orang lain itu bukan urusan kamu. Jangan merasa terbebani oleh hal-hal yang di luar kendali kamu.”


Elea tersenyum senang. Apa yang Tara katakan sangat berarti buatnya. Ia jadi merasa lebih baik meskipun banyak kekurangan.


Untuk mempercepat proses belajar Elea, Tara memberitahunya beberapa informasi tentang orang-orang yang ada di sekitar Alfa agar ia punya gambaran dan tahu harus bersikap seperti apa.


“Kak, dari tadi Kakak cuma cerita soal rekan kerja dan kolega Mas Al. Gimana dengan keluarga Mas Al? Aku juga penasaran dengan mereka.”


“Oh, soal itu. Tidak banyak yang bisa dipelajari. Kamu akan belajar dengan sendirinya saat waktunya tiba.”


“Kenapa? Apa ada yang ngga boleh aku tahu? Soal keluarganya Mas Al?”


Tara berusaha mengalihkan pembicaraan tapi sepertinya tidak mudah menghindari keingintahuan gadis yang satu itu.


“Apa yang ingin kamu tahu soal keluarga Alfa?”


“Semuanya.”


“Alfa punya seorang adik laki-laki sepuluh tahun lebih muda dari Al, namanya Arkana. Ibu dan ayahnya orang-orang baik yang sangat menyayangi mereka berdua. Sudah dua tahun ini mereka menetap di LA untuk urusan bisnis.”


“Siapa ayah dan ibu Mas Al?”


“Om Nafan dan Tante Lita. Kamu akan senang kalau bisa bertemu mereka secara langsung.”


“Lalu kenapa Mas Al memilih tinggal di apartemen jika mempunyai keluarga sebaik itu?”


“Itu karena Al suka menyendiri. Ia tidak akur dengan adiknya dan juga kadang berselisih pendapat dengan mamanya. Biasalah... namanya juga keluarga. Ada aja masalahnya.”


“Lalu, apa Mas Al punya pengalaman buruk dengan kolam renang?”


“Uhuk.. Uhuk.. kenapa kamu tiba-tiba menanyakan soal kolam renang.”


“Ngga papa. Aneh aja Mas Al marah besar waktu aku kecelakaan dan ngga sengaja tercebur di kolam renang sekolah. Dia juga maksa aku buat latihan renang sama dia seminggu sekali. Dan dia selalu serius kalau bicara soal tenggelam di kolam.”


“Mungkin karena dia pernah menangani kasus yang berkaitan dengan korban tenggelam.”


“Oh..”


‘Hah? Ternyata semudah itu mengelabuhi anak ini? Sial! Ngapain juga gue mikir dalem-dalem buat ngejawab pertanyaan-pertanyaan klisenya?’


Hari rabu itupun tiba.


Sejak sore Tara sudah datang ke apartemen Alfa dan sibuk mendandani Elea.


“Tar, buruan dong! Udah hampir telat nih!”


“Sabar, Al. Bentar lagi siap.”


tak lama kemudian Elea keluar dengan dress hijau botol dan dandanan yang sangat cantik. Alfa hampir tidak mengenali bahwa gadis itu adalah istrinya.


“Demi kemanan, sebaiknya lo bilang kalau Elea rekan kerja atau sekretaris lo. Ngerti?!”


“Thanks ya Tar! Gue pergi dulu.”


Mereka tiba di rumah mantan Walikota tepat waktu lalu dipersilakan masuk ke sebuah ruangan kerja.


“Senang bisa ketemu kamu, Al.”


“Om apa kabar?”


‘Om?’


“Baik. Ini?” Mantan Walikota menatap Elea.


“Ini pacar Al, Om.”


“Pacar?” Dan pria itu tampak kecewa.


Tak lama kemudian seorang gadis cantik dengan rambut panjang menghampiri mereka. Gadis itu mengenakan mini dress putih dan ikat pinggang rantai berwarna emas. Penampilan dan bahasa tubuhnya sangat anggun dan berkelas.


“Nara?”


“Oh ya, Al. Om lupa bilang. Nara baru aja balik dari Paris karena sedang cuti.”


“Oh.”


“Kinara, tolong ajak teman Al jalan-jalan sebentar. Ada yang mau papa omongin sama Alfa.”


Kinara mengajak Elea berkeliling sebentar lalu duduk di kursi taman taman dekat kolam renang.


“Jadi kalian pacaran?”


Elea tersenyum sambil mengangguk.


“Sudah berapa lama?”


“Sekitar satu tahun.”


“Apa kamu tahu siapa Alfa?”


“Maksud kakak?”


Kinara tersenyum, “Jadi kamu belum kenal siapa Alfa.” Kinara bangun dari duduknya, “Well, aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan. Aku akan meminta seseorang untuk menemanimu berkeliling sambil menunggu Alfa.”


“Maaf, tapi tidak perlu. Saya akan menunggu Mas Al di sini sendiri saja.”


“Baiklah.”


‘Apa maksudnya aku belum mengenal siapa Mas Al? Apa dia sengaja mengatakan itu untuk mengusikku? Kenapa mereka terlihat akrab? Apa sebenarnya hubungan Mas Al dengan mantan walikota itu? Dan apa hubungan Mas Al sama cewek itu?'


“El, kok kamu sendirian? Kinara kemana?”


“Oh, tadi katanya banyak pekerjaan jadi dia masuk.”


“Ya sudah, pulang yuk!”