
“Lo gila, Al! Kasus ini sedang jadi sorotan tajam karena semua orang mengecam seorang siswi SMA bisa menjadi pembunuh berdarah dingin hanya karena cemburu.”
“Bagaimana jika ternyata bukan dia pelakunya? Bagaimana jika ternyata ada orang lain yang sedang berusaha mengancamnya agar mengakui pembunuhan yang tidak dilakukannya?”
“Apa?!”
Alfa menunjukkan sketsa wajah yang dibuat Elea.
“Elea bilang, dia sempat berpapasan dengan pria ini saat hendak memasuki gang tempat terjadinya pembunuhan itu.”
“Al! Ini bahaya. Lo ngga boleh ambil kasus ini! Ini Roni Wijaya, Al. Lo tahu kan? Anak kedua Tanto Wijaya. Kalau benar dia terlibat seharusnya lo tahu kenapa cewek itu sampai mau ngakuin pembunuhan yang ngga dia lakuin.”
“Karena itulah, kita harus menegakkan keadilan untuk orang yang tidak bersalah.”
Alfa meninggalkan Handoyo di kantornya. Melihat bahwa tidak akan ada pengacara lain yang mau menangani kasus itu, maka Alfa bertekad untuk menyelesaikannya.
***
Beberapa hari berikutnya, Elea pulang dari sekolah dan tiba-tiba saja sebuah sepeda motor menyerempetnya hingga terjatuh di trotoar. Melihat apa yang dialami Elea, Alfa yakin bahwa dirinya sedang mendapat peringatan keras.
Dua hari kemudian, sepulang kerja, Elea bertemu segerombolan preman di halte bus yang hampir saja mencelakainya. Tidak berhenti di situ ketika pulang ke rumah ia menemukan surat ancaman di bawah pintu yang memperingatkan Elea untuk diam dan tidak ikut campur.
“El, ini ngga bisa dibiarin! Keselamatan kamu terancam. Untuk sementara kita akan tinggal di rumah Handoyo.”
“Ngga perlu, Mas. Aku akan lebih berhati-hati lain kali.”
“Dan satu lagi, mulai sekarang aku melarangmu bekerja paruh waktu! Aku akan mengantar dan menjemputmu di kampus. Kamu ngga boleh lagi pergi kemanapun sendirian.”
“Tapi kan aku bukan anak kecil lagi, Mas. Mas!”
Alfa sudah masuk ke kamarnya dan mengacuhkan Elea.
***
Siang itu Alfa mengunjungi Ruri di tahanan. Ia kemudian menunjukkan sketsa wajah yang Elea buat.
“Apa dia yang memaksamu untuk melakukan ini?”
Ruri tampak sedikit terkejut, tapi ia cukup pandai mengendalikan diri dan kembali bersikap tenang.
“Elea melihatnya dan bersikeras akan mengungkap kebenarannya. Apa kamu tahu apa artinya ini?”
“Apa?! Kenapa gadis bodoh itu selalu saja ikut campur?” hardik Ruri acuh tak acuh
“Karena dia sangat menyayangimu. Dia bersikeras membebaskanmu dari segala tuduhan dan beberapa hari lalu ia dibuntuti dan nyaris tertabrak di depan sekolah.”
Alfa kemudian juga menunjukkan surat ancaman yang dikirim ke apartemennya. Ruri membacanya dengan gemetar. Ia takut bahwa ancaman pria itu bukan isapan jempol belaka.
“Jadi apa yang Kak Al inginkan?”
“Aku akan menjadi pengacaramu. Karena itu aku harap kita bisa bekerjasama.”
“Aku tidak ingin bekerjasama sama Kak Al dan Elea. Jadi sebaiknya Kak Al pergi saja dan bawa Elea jauh dari sini.”
“Kalau begitu seret dia ke tempat yang jauh.”
Alfa melihat air mata mulai menggenang di pelupuk mata gadis malang itu.
“Kami akan tetap membantumu Ruri. Jadi tolong katakan semuanya dengan jujur agar pekerjaan kami jadi lebih mudah.”
Alfa membereskan dokumennya lalu bersiap untuk meninggalkan Ruri. Tapi sebelumnya ia sedikit menunduk sambil setengah berbisik kepada Ruri, “Aku sudah memindahkan adik dan pamanmu ke tempat yang jauh lebih aman. Jadi mulai sekarang jangan khawatir.”
Alfa tersenyum lalu tiba-tiba saja Ruri merampas dokumen penunjukan kuasa hukum yang dibawa Alfa dan menandatanganinya.
“Aku akan melakukan apapun asal adik dan pamanku selamat.”
*****
Elea merasa sangat senang karena suaminya mau membantu kasus Ruri. Sebagai ucapan terima kasih, Elea sengaja membuatkan ayam goreng seperti yang biasa dibuat ayahnya untuk Alfa. Karena Elea akan menghancurkan seisi dapurnya, Alfa memutuskan untuk membantunya memasak.
Mereka mengenakan celemek dan mulai membuat kehancuran di dapur. Di tengah permasalahan yang tengah mereka hadapi, sepertinya hari itu mereka sedang mengambil cuti karena terlihat bahagia tanpa beban.
Alfa berdiri di belakang Elea, menyelipkan tangannya di kedua pinggang Elea dan membantunya melumuri bumbu kedalam ayam yang sudah mereka siapkan.
Tiba-tiba saja pintu terbuka dan seorang pria yang tidak kalah tampan dari Alfa masuk mengagetkan mereka. Alfa segera menarik kedua tangannya dan mengakhiri sesi masak romantis mereka.
“Apa ini?” tanya pria yang baru saja masuk tanpa ijin ke dalam apartemen Alfa.
“Anda siapa? Kenapa tiba-tiba saja masuk tanpa ijin?” Elea mengomelinya sambil menodongkan spatula ke arah pria asing itu.
Alfa menghampiri Elea lalu menundukkan spatula yang dibawanya.
“Dia adikku.”
“Apa?” Elea merasa sangat malu dengan apa yang baru saja diperbuatnya.
Alih-alih marah, pria itu malah tertawa. Gigi putihnya yang berderet rapi terlihat mempesona. Ditambah lagi, wajahnya yang mulus tanpa kacamata, tatapan mata yang teduh dan ramah, serta senyum manis yang akan bisa melelehkan puncak jaya wijaya.
Tinggi kedua bersaudara itu hampir sama, hanya saja tubuh Alfa lebih padat berisi. wajah adiknya lebih ramah dan menggemaskan, dan dinilai dari segimanapun keduanya sama sekali tidak mirip. Sehingga Elea nyaris tidak percaya bahwa mereka adalah saudara kandung.
“Jadi kau ini adalah?”
Elea meletakkan spatulanya, membersihkan tangannya dengan celemek lalu mengulurkan tangan kanannya, “Saya Elea. Saya –“
Alfa keluar dari kamarnya sambil membawa baju ganti untuk adiknya, “Dia mahasiswi yang kebetulan kos disini.”
“Kos? Apa lo nyewain kamar gue buat orang lain?”
“Gue butuh duit buat bayar apartemen ini. Apa lo pernah peduli soal itu?”
“Wah! Ternyata lo masih aja kejam yah?!”
“Karena kamar lo udah laku, malam ini lo tidur di sofa.”
Arka melirik ke arah Elea kemudian menyetujui usul kakaknya dengan senang hati.