
Pagi itu Arka yang menawarkan diri untuk mengantar Elea ke kampus. Dan demi menghindari kecurigaan Erlita, Alfa terpaksa membiarkannya.
Mereka bahkan belum sempat memberitahu Erlita bahwa Elea kuliah di salah satu akademi miliknya. Alfa merasa cemas dengan reaksi mamanya jika tahu bahwa ia adalah wali Elea. Ia khawatir mamanya akan mencari tahu lebih jauh tentang hubungan keduanya.
Sepulang kuliah, Elea bertemu dengan Niken yang kebetulan juga bekerja paruh waktu di SH Mall tempatnya bekerja.
“Kusut amat muka lo, El? Bukannya lo harusnya seneng ya bisa serumah sama mertua? Hehe..”
Elea cepat-cepat menggeleng. “Ken, tante Lita itu serem banget. Aku ngga bisa bayangin kalau tante Lita sampai tahu kalau aku sama Mas Al –“
Belum menyelesaikan kalimatnya, Elea sudah bergidik ngeri sendiri.
“Lah, bukannya bagus? Dia ngga perlu repot-repot lagi nikahin Kak Al. Tinggal fokus sama adiknya aja. Ya kan?”
“Ngga sesimpel itu, Ken. Masalahnya, Mas Al itu ternyata udah dijodohin sama Kinara Gunawan.”
“Kinara Gunawan?”
“Iya. Dan dulu aku pernah ketemu sama tu cewek dan bilang kalau Mas Al itu pacar aku. Padahal, mamanya Mas Al tahunya aku ini teman deketnya Mas Arka.”
“Ribet amat hidup lo, El.” Ujar Niken sambil menyuapkan sepotong roti ke dalam mulutnya.
Elea mengacak-acak rambutnya karena frustasi. “Aku mesti gimana, Ken?”
Niken terlihat berfikir sejenak. “Lo harus tetap tenang dan berpura-pura ngga ada apa-apa sama Kak Al. Nah, soal tu cewek, lo harus tunjukin kalau lo bisa lebih baik dari dia. Gitu sih yang biasa gue tonton di film-film.”
“Iya tapi caranya gimana?” tanya Elea lesu.
“Kalau soal itu sih, gue belum tahu. Gue kan belum pernah pacaran, El. Apalagi nikah dan suami gue disuruh tunangan sama cewek lain.”
“Sssssttt! Kamu mau seisi mall tahu kalau aku sudah nikah?” Elea menutup mulut Niken dengan telapak tangan.
“Iya sori, keceplosan.”
“Ehem... jadi kalian mau kerja apa ngobrol? Jam istirahat sudah habis dua menit yang lalu.” Nita, manajer toko mereka tiba-tiba datang dan menegur Elea dan Niken yang masih juga belum kembali bekerja setelah jam istirahat habis.
“Eh, iya Bu. Maaf.”
******
Ketika pulang kerja, Elea melihat Erlita sedang sibuk membawa banyak barang belanjaan turun dari mobilnya.
“Biar Elea bantu, Tan.”
“Eh, Elea. Sudah pulang sayang?”
“Iya, Tan, barusan pulang.” Elea mengambil beberapa kantong belanjaan dari tangan Erlita.
“Tante habis belanja? Banyak banget belanjaannya, Tan?”
“Biasa sayang. Ini bukan apa-apa.” Erlita mengarahkan langkah Elea menuju kamar Alfa. “Taruh sini aja.”
Elea meletakkan barang belanjaan Erlita di atas ranjang Alfa. “Kok ditaruh sini, Tan?”
“Ini memang tante beli buat Alfa. Kamu tahu ngga? Alfa itu ngga pernah mau memakai pakaian yang dia ngga yakin kebersihannya. Jadi sejak Alfa memilih tinggal sendiri, tante sudah kosongin lemari pakaian Alfa. Karena dia ngga bakal mau makai pakaian-pakaian lama itu lagi.” Erlita membuka lemari Alfa yang berukuran sangat besar. “Coba lihat! Kosong kan?”
Memang tidak banyak pakaian di dalamnya, tapi tidak bisa dikatakan kosong juga karena masih ada beberapa setel pakaian yang menggantung rapi di sana.
“Yup. Bener banget. Sejak kecil Alfa sangat peduli dengan penampilannya. Ia tidak bisa memakai pakaian yang tidak licin sempurna atau warnanya sedikit pudar karena deterjen atau bahkan ada setitik noda yang menempel. Ia juga tidak mau memakai sembarang merk pakaian. Ia bahkan punya beberapa butik langganan yang khusus membuat pakaian sesuai ukuran dan selera Alfa. Dan tentu saja harganya ngga main-main.”
Elea terngangan mendengar penjelasan Erlita. “Lalu pakaian bekasnya dikemanakan, Tan?”
“Diberikan kepada siapapun yang membutuhkan, kadang juga dibawa Handoyo untuk dijual lagi atau bahkan dibuang jika menurut Alfa tidak layak pakai.” Erlita membentuk dua tanda petik di udara untuk menggaris bawahi kata “tidak layak pakai”.
“Wah!” Elea benar-benar tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Padahal mereka sudah setahun tinggal bersama tapi Elea sama sekali tidak tahu bahwa suaminya memiliki kebiasaan buruk seperti itu.
‘Manusia paling boros dan penyumbang sampah terbesar di dunia’ batin Elea.
Elea kemudian ingat bahwa Alfa pernah melarangnya mencuci ****** ******** waktu itu.
‘Apa mungkin Mas Al sengaja meletakkannya disana karena hendak membuangnya juga?’
‘Ngga mungkin, aku pernah melihat Mas Al mencuci pakaiannya lalu membawanya ke laundry untuk disetrika.’ Batin Elea membela diri.
‘Tunggu! Tapi aku ngga pernah melihat Mas Al membawa kembali pakaian yang sudah dilaundry. Apa mungkin Mas Al langsung memberikannya kepada orang lain atau bahkan membuangnya?’ pikiran Elea berkecamuk.
Setelah menata pakaian baru yang dibelinya ke dalam lemari Alfa, Erlita duduk sambil melanjutkan ceritanya.
"Beda Alfa beda juga Arka. Kalau Arka terbilang cuek soal penampilan, tapi dia adalah orang yang sangat peduli dengan makanan yang dimakannya. Dia tidak mau makan makanan yang sama dalam kurun waktu kurang dari sebulan. Jadi koki di rumah harus sudah menyiapkan menu makan yang berbeda untuk satu bulan ke depan kalau Arka pulang.”
Lagi-lagi Elea dibuat geleng-geleng kepala dengan kelakuan kedua tuan muda keluarga kaya itu.
“Ngga cuma itu, El. Arka juga ngga mau makan masakan sembarang orang. Ia punya koki khusus di rumah juga di restoran langganannya. Ia akan tahu kalau koki lain yang memasak dan akan langsung tidak memakannya alias membuangnya.”
“Wow!” hanya itu yang bisa keluar dari mulut Elea.
Padahal di dalam benaknya banyak sekali umpatan yang ingin ia lontarkan. ‘Dasar maniak! Kamu pikir masak ngga pake tenaga dan pikiran? Enak aja main buang! Sehari aja kamu ngerasain ngga bisa makan karena ngga punya apa-apa, baru tahu rasa!’
“El? Kok ngelamun?”
“Eh, maaf, Tan. Elea ngga percaya aja, ada gitu orang yang bisa seperti itu.”
“Yah, Arka memang sangat pemilih dalam hal makanan dan peduli dengan kesehatan. Dia selalu yakin bahwa you are what you eat. Jadi, mungkin karena itu juga dia akhirnya memutuskan untuk jadi dokter.”
“Oh....”
“Oh ya, El. Tante lupa siapin baju buat Alfa. Bantu tante pilih yuk!” Erlita menyeret Elea menuju lemari pakaian Alfa dan menunjukkan beberapa setel pakaian yang dipilihnya.
“Bagus yang ini atau ini?”
“Mas Al ngga suka warna cerah. Dia juga ngga suka dari motif mencolok seperti ini.”
Elea kemudian memilih pakaian yang masih tergantung di lemari, sebuah kemeja warna putih dan setelah jas berwarna biru dongker dan dari motif garis halus. “Sepertinya ini lebih cocok.”
Erlita tertegun, ia tidak menyangka bahwa Elea sangat memahami selera putra sulungnya.
“Ngomong-ngomong, ini baju mau dipake untuk apa sih, Tan? Kok tante yang siapin? Biasanya kan Mas Al urus sendiri?”
“Ah, iya.. Tante lupa belum kasih tahu kamu. Besok malam, Alfa mau ngedate sama Nara. Makanya tante bantu siapin karena Alfa ngga bakal mau siapin apapun kalau sudah berurusan sama perjodohan.”