My MicroWife

My MicroWife
SMA Harapan



Setelah kenyang dan hampir dua hari tidak tidur, malam itu Elea tidur dengan pulas. Pagi harinya, Alfa justru kesulitan membangunkan Elea yang tertidur pulas seperti kerbau karena sudah lebih dari tiga puluh jam terjaga.


“El, bangun!!!”


Setelah gagal dengan mengguncang-guncang tubuh Elea, menarik sampai terduduk, memercikkan air di wajah, sampai dengan meneriaki telingan Elea dengan megaphone, akhirnya Alfa terpaksa menggendong dan memindahkannya ke kamar mandi.


Karena kucuran shower yang membanjiri kepalanya, akhirnya gadis bantal itupun terbangun.


“Mas! Apa-apaan sih? Kok aku bisa disini?”


“Ini sudah jam sebelas siang! Cepat mandi atau aku akan membatalkan niatku mengantarmu mencari sekolah.”


Alfa benar-benar kesal. Bisa-bisanya Elea enak-enakan tidur padahal ia yang juga baru bisa tertidur jam dua dini hari rela mengambil libur dan sudah mempersiapkan diri sejak pagi.


Setengah jam kemudian Elea sudah siap dengan poni dan kuncir duanya. Karena kesal dan malas mengomel, Alfa memilih tutup mata saja.


Mereka mendatangi beberapa sekolah favorit yang terdekat dari apartemen mereka. Karena tidak bisa mengantar jemput Elea tepat waktu setiap hari, Alfa ingin memastikan bahwa sekolah baru Elea cukup mudah dijangkau dengan kendaraan umum.


“Well, El, dari sekian banyak sekolah yang kita datangi, mana yang kau pilih?”


“Entahlah, kasih aku waktu untuk mikir yo?”


“Oke.”


Tahun ajaran baru SMA belum dimulai. Jadi masih banyak waktu untuk mempertimbangkannya baik-baik.


***


Mereka tiba di salah satu sekolah bernama SMA Harapan. Tidak seperti sekolah lain yang gerbangnya di tutup rapat saat libur sekolah, siang itu pintu gerbang SMA Harapan sedikit terbuka.


“Mas, gerbangnya terbuka. Aku masuk sebentar yah? Mau lihat-lihat dalemnya.”


Ketika masuk, Elea mendengar suara dari salah satu ruangan di dekat taman. Elea mendekat dan melihat beberapa orang siswa sedang berlatih band. Elea memperhatikan wajah mereka dengan seksama.


“Andre Silva!” pekik Elea tanpa sadar sehingga membuat siswa di dalam ruang musik berhenti dan menoleh ke arah Elea yang tengah mengintip dari pintu yang sedikit terbuka.


Sosok pemuda yang memiliki wajah tampan mirip pesepak bola Portugal, Andre Silva, versi bersih tanpa brewok menghampiri Elea.


“Kalian siapa? Ngapain disini?”


‘Kalian?’


Elea tidak tahu bahwa ada gadis lain yang ikut mengintip bersamanya di belakangnya.


“Sori, Dav. Tadi cuma mau daftar ulang. Tapi denger ada suara dari arah sini, jadi penasaran.” Jawab gadis yang berdiri di belakang Elea.


“Lo?” pemuda mirip Andre Silva itu menatap tajam ke arah Elea.


“Sama, Kak.” Jawab Elea singkat sambil cengar-cengir tidak jelas. “Ya udah, saya permisi dulu, Kak. Ngomong-ngomong, suara Kakak bagus banget.” Elea mengacungkan kedua jempolnya lalu pergi meninggalkan ruang musik.


“Eh, tunggu! Lo bukan anak sini kan?" tanya Niken.


“Iya, saya baru mau daftar. Elea.” Elea mengulurkan tangannya kepada Niken


"Kamu murid pindahan? Darimana?"


"Iya. Dari jogja."


“Oh... Om-om pake pa**ro putih yang tadi nungguin disana itu bokap lo?”


Niken menunjuk tempat Alfa memarkirkan mobilnya tadi.


“Oh, bukan. Itu kakak aku.”


“Kakak?!?! Oh..”


“Kenapa?”


“Itu pengacara baik hati. Dia pernah nolongin orang tua gue waktu ditipu pihak asuransi. Padahal waktu itu orang tua gue lagi susah-susahnya, ngga punya duit buat bayar operasi kakak gue. Apalagi bayar pengacara.”


“Kamu yakin ngga salah orang?”


“Ngga. Tadi dia bantuin gue manjat gerbang.”


“Manjat?”


“Tadi security dateng, ngunci gerbang terus pergi gitu aja. Kayanya dia ngga tahu kalau masih ada orang di dalam.”


“Apa?! Terus kita gimana keluarnya?” Elea kian panik karena tahu mobil Alfa sudah tidak ada di depan gerbang dan ia lupa meninggalkan tas dan ponselnya di dalam mobil. "Duh, Mas Al kemana sih?!"


****


Karena hari masih sore, jadi Alfa memutuskan untuk mengajak Elea jalan-jalan ke pusat perbelanjaan untuk membeli stok makanan dan beberapa perlengkapan yang dibutuhkan Elea selama tinggal di apartemen Alfa. Dan yang terpenting adalah membeli microwave baru. Alfa tidak bisa lagi masak makanan dengan microwave yang pernah digunakan untuk mengeringkan kaos kaki.


Elea terlihat sangat senang diajak ke pusat perbelanjaan. Ia berlarian kesana kemari, memilih semua barang yang disukainya yang tentu saja kebanyakan berupa makanan dan perlengkapan sekolah.


‘Harganya pasti mahal.’


“El!”


“Oh, iya Mas.” Elea segera menghampiri Alfa.


Alfa juga mengajak Elea menghampiri sebuah gerai yang menjual pernak-pernik anak perempuan seperti alat make up dan aksesoris rambut yang beraneka ragam dan lucu-lucu.


Tapi sepertinya Elea sama sekali tidak tertarik. Ia malah mengambil sebuah gantungan kunci berbentuk persegi yang bisa diisi foto di dalamnya. Ingin rasanya Alfa meminta Elea untuk tidak lagi menguncir rambutnya seperti anak-anak. Tapi ia tak tahu cara mengatakannya.


“Mbak tolong bungkus yang ini, ini, itu dan ini. Semuanya. Bungkus masing-masing satu.” Alfa tidak bisa memilih antara pita, bando atau jepit rambut. Jadi ia memutuskan untuk membeli semuanya.


“Mas, ada es krim!”


Gadis kecil itu dengan riangnya mendatangi penjual es krim dan memesan satu cone es krim rasa strawberry favoritnya. Ia menjilati es krimnya sambil berjalan dan cukup menyita perhatian banyak orang karena lelehan es krimnya menetes ke tangan sampai ke lantai.


Alfa sedikit menjaga jarak, berjalan lambat di belakang Elea. Ia terlalu malu diketahui orang lain bahwa ia sedang bersama gadis jorok itu.


“El, bisa ngga sehari aja tanpa es krim? Setidaknya tunggu sampai kita menemukan tempat makan es krim yang nyaman.”


“Wong mau makan es krim aja kok ribet banget, Mas.”


‘Ni anak susah banget dikasih tahunya.’


Alfa mulai kesal dengan tingkah kekanakan Elea.


Ketika membuka pintu lift, mereka bertemu dengan Handoyo dan istrinya juga yang baru selesai berbelanja.


“Sial!” rutuk Alfa.


Ia tidak tahu bagaimana harus mengarang cerita di depan karibnya yang sangat jeli itu.


“Al?”


Alfa sempat berfikir untuk kabur lewat eskalator, tapi istri Handoyo sudah terlanjur melihat dan menegurnya lebih dulu. Ia terpaksa masuk dan bersama mereka di dalam lift.


“Al, ini siapa?”


Alfa merebut es krim Elea lalu memasukkannya ke dalam tempat sampah yang ada di sudut lift.


“Mas, kan belum abis. Kok dibuang sih?” Protes Elea tak terima es krimnya dibuang begitu saja.


“Oh, ini adekku, Tar. Namanya Elea.”


“Adek? Bukannya Arkana itu cowok? Sejak kapan jadi cewek?” tanya Tara lagi sembari mengelap tangan Elea yang terkena lelehan es krim dengan tisu basah.


“Oh, maksud aku, sepupu. Iya, adek sepupu dari keluarga papa.”


“Apa ada sepupu kalian yang belum aku kenal? Kenapa baru sekarang aku bertemu gadis semanis ini?” sindir Tara.


“Sayang...” Handoyo tahu Alfa sedang menyembunyikan sesuatu jadi ia ingin istrinya berhenti mencercanya.


“Ngga papa, sayang. Sepupunya Al kan sepupu kita juga.” Sindir Tara.


Pintu lift terbuka.


“Tar, aku harus cepet-cepet anter dia pulang. Sudah malam.” Alfa berusaha mencari alasan untuk menghindari obrolan lebih lama dengan mereka.


“Sejak kapan jam delapan dibilang malem, Al? Kaya anak SMA aja.”


“Ah iya! Dia baru mau masuk SMA, jadi jam delapan sudah termasuk larut. Gue cabut dulu!” Alfa cepat-cepat kabur sambil menyeret Elea.


“Mencurigakan!” dengus Tara.


***


Sepanjang perjalanan Elea hanya diam saja tidak mengucapkan sepatah kata pun. Tidak seperti bisanya yang tidak bisa diam dan selalu saja ada yang ditanyakan dan dikomentari.


“El, lo kenapa?”


Elea bergeming. Ia membuang tatapannya jauh keluar jendela di sampingnya.


“El!”


“Aku ngga mau ngomong kalau es krimnya ngga diganti!”


“Yassalam.. jadi kamu ngambek? Cuma gara-gara es krim?”


Alfa kemudian mengambil sebuah tas berisi kotak di jok belakang mobilnya. “Nih!”


Elea membukanya dan matanya terbelalak melihat sepatu impiannya ada di dalam kotak.