
Tara tidak pernah salah menilai kemampuan seseorang. Sulton berhasil menemukan banyak informasi tentang Elea dan juga Jack dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.
“Jadi apa yang Pak Sulton dapatkan hari ini?”
Sulton terlihat ragu karena ada Handoyo yang sedang duduk bersamanya.
“Ah, Pak Sulton tenang aja. Dia udah tahu semuanya.” Tara membuat tawa yang sengaja dibuat-buat. “Pak Sulton tahu kan saya istri yang paling ngga bisa main rahasia-rahasiaan sama suami?”
Sulton hanya geleng-geleng saja melihat kelakuan Tara yang belum juga berubah sejak kecil. Ia kemudian menyerahkan sebuah amplop coklat berukuran besar kepada Tara. Dan Tara langsung membukanya dengan penuh semangat.
“Oh, jadi mereka datang kesini untuk mengadakan pameran di Bali dan menemani Jack menghadiri undangan dari Tante Lita di sini?”
Tara kemudian melihat beberapa foto. “Mereka tinggal dalam satu hotel tapi dengan kamar terpisah. Kamu tahu kan apa artinya?”
“Apa?” tanya Handoyo
“Mereka belum menikah.”
Sulton menepuk jidatnya sendiri. Ia tidak tahu kenapa Tara bersusah payah menganalisa begitu banyak foto kalau hanya untuk mendapatkan informasi yang sudah ditulisnya dengan jelas di summary. Sulton kemudian meletakkan summarynya di tangan Tara agar gadis dungu itu bisa membacanya dengan jelas.
“Waaah! Pak Sulton memang hebat. semua informasi ada disini. Coba deh lihat, sayang! Alamat dan data pribadi mereka berdua ada disini semua.”
“Jadi Jack anak pelukis terkenal juga?” tanya Handoyo lagi.
Sulton mengangguk. “Ayahnya salah satu pengajar di salah satu universitas seni terkenal di Itali, tempat Elea mendapat beasiswa. Ibunya orang Makasar tapi sudah pindah dan menetap di Itali sejak sepuluh tahun lalu.”
“Apa Pak Sulton yakin kalau mereka belum menikah?”
Sulton menyerahkan satu temuan lagi berupa artikel gosip yang memberitakan rencana pernikahan Jack dan Elea dua bulan lagi.
“What? Jadi mereka juga akan segera menikah?” ujar Tara dengan suara melengking.
“Ini tiket tujuan Milan dengan tanggal keberangkatan besok sore.” Imbuh Sulton.
“Ini ngga bisa dibiarin. Kita harus bergerak cepat.”
“Tunggu! Jadi Mbak Tara meminta penyelidikan menyeluruh hanya untuk tahu ini? bukan karena ada kasus besar?” tanya Sulton merasa terluka karena semua usaha kerasnya seakan sia-sia.
“Iiiiih, Pak Sulton harus tahu bahwa kasus ini lebih besar dari kasus pembunuhan manapun. Kalau misi kita gagal, ada banyak nyawa yang bisa melayang sia-sia.”
Kali ini Sulton memilih untuk tidak lagi mempercayai perkataan Tara.
*******
Tara sudah menyusun rencana dan ia harus segera bergerak sebelum terlambat dan menyesali semuanya.
Pagi itu, ia telah berpakaian rapi dan berdiri di depan pintu sebuah kamar hotel.
“Kak Tara?!”
“Hai El!”
“Kak Tara ngapain disini? Pagi-pagi gini.”
“Mau ketemu kamu.” Ujar Tara enteng sambil memeluk Elea dengan hangat. “Gimana kabar kamu, El?”
“Baik, Kak. Tapi darimana Kak Tara tahu aku tinggal disini?”
“Jangan panggil Tara kalau ngga tahu apa-apa soal kamu.”
Elea juga tidak menyangka bahwa Tara masih belum berubah. Masih saja suka bertindak semaunya dan merasa paling keren dengan tindakannya.
“Mau minum sesuatu?”
“Ngga usah. Aku Cuma pengen ngobrol-ngobrol aja sama kamu. Jadi kapan kamu datang El? Kenapa ngga ngehubungin aku atau Al?”
“Lima hari lalu. Aku ada pameran di Bali dan Jack ada undangan di sini. Siapa yang tahu kalau ternyata acara yang akan dihadiri Jack itu adalah acaranya Tante Lita.”
“Ternyata dunia memang sempit, El. Segampang itu kamu bisa ketemu lagi sama Al. Oh ya, ngomong-ngomong, kamu masih lama kan disininya?”
“Ngga, nanti sore aku sudah balik ke Itali.”
“Cepet banget, El? Kenapa sih kamu ngga tinggal disini aja kaya dulu?”
“Banyak yang terjadi dalam tiga tahun terakhir, Kak. Dan sepertinya aku ngga akan pernah bisa lagi balik ke masa lalu.”
“Tapi kalau ada kesempatan, masih mau kan?”
Elea menggeleng. “Semua sudah berakhir dan aku ngga bisa terus-terusan hidup dalam masa lalu.”
“Jack itu?”
“Oh, dia tunangan aku. Dua bulan lagi kami bakal nikah.”
Wajah Tara cemberut seketika. “Tunangan?”
“Kamu beneran cinta sama dia?”
“Jack pria baik, Kak. Dia dan keluarganya banyak membantu aku sewaktu di Milan. Aku bisa seperti sekarang berkat bantuan mereka.”
“Jadi hanya karena hutang budi?”
“Kok Kak Tara ngomong gitu sih?”
“Apa kamu tahu kalau Al ngga pernah bisa berpaling apa lagi melupakan kamu sedetikpun, El. Dia sangat menderita tiga tahun ini.”
“Oh ya? Bukannya dia sudah tunangan sama Nara? Atau bahkan sudah nikah?”
“Ngga El, kamu salah besar. Tante Lita memang memaksa Alfa untuk bertunangan dengan Nara dua tahun lalu. Tante Lita mengancam bakal bunuh diri kalau Al nolak. Tapi Alfa selalu menolak dan menunda pernikahannya sampai saat ini. kamu sudah sempat ketemu dia kan?”
Elea mengangguk, “Sepuluh menit.”
“Kamu pasti tahu kebenarannya, El.”
“Mas Al mungkin bisa bersikap seperti itu kepada Nara, Kak. Tapi aku ngga bisa mengecewakan Jack. Aku memilih jalan yang berbeda dengan Mas Al, Kak.”
******
Tara mendatangi apartemen Alfa dan membuat keributan. Ia merasa kesal melihat Alfa tertidur lelap sementara Elea hampir kembali ke Itali.
“Al, lo tu bener-bener yah? Lo tahu kan kalau Elea masih ada disini?”
“Terus lo mau apa?”
“Dia tinggal sehotel sama cowok lain.”
“Terus?”
“Namanya Jack Natta.”
“Terus?”
“Dan lo masih mau diem-diem aja disini kaya gini?”
“Terus lo mau gue ngelakuin apa? Mohon-mohon supaya dia ninggalin tunangannya dan balik sama gue yang udah mau nikah bulan depan?”
“Ya kenapa ngga kalau itu yang bisa buat lo bahagia?”
“Lo gila ya, Tar? Lo nyuruh gue ngorbanin banyak perasaan hanya supaya gue bahagia?”
“Kenapa kalian sehati banget yah?”
“Maksud lo apa?”
“Elea juga bilang kaya gitu sama gue. Kalian berdua sama-sama mau mati rasa demi kebahagiaan dan perasaan orang lain.”
“Apa?”
“Pesawatnya berangkat sejam lagi.”
“Sh*t!”
Alfa langsung menyambar jaket dan kunci mobil Tara dan Tara hanya bisa membiarkan bocah gila itu berlari kesana kemari seperti kuda kesurupan.
Jalanan sore itu begitu macet dan Alfa tak henti-hentinya mengumpat sambil memukuli setir mobil Tara.
“Kenapa sih Tar, lo ngga kasih tahu gue dari tadi? Lo pikir sejam cukup buat kita sampai ke bandara?!” tanya Alfa sambil marah-marah.
“Loh kok lo malah marah sama gue? Sudah bagus gue kasih lo informasi penting. Harusnya lo tu punya inisiatif buat cari informasi yang akurat soal dia kalau dia emang penting buat lo.”
Alfa akhirnya menemukan jalan lengang dan ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
“Al, mobil gue belum lunas!”
Alfa sama sekali tidak menghiraukan ocehan Tara yang takut mobilnya rusak gara-gara Alfa. Ia harus berpacu dengan waktu yang hanya tersisa lima belas menit lagi.
“Nyerah aja, Al. Ngga bakal keburu. Dia pasti udah boarding dari tadi.”
Alfa tetap saja mengacuhkan Tara. Ia ingin menjajal peluang sekecil apapun demi bisa menahan kepergian Elea.
Begitu tiba di Bandara, Alfa langsung berlari masuk dan mencari Elea dimana-mana. Ia mencari informasi dan mendapati bahwa semua penumpang pesawat menuju Milan sudah boarding dan pesawat akan segera diberangkatkan.
Beberapa menit kemudian, ia melihat bahwa status penerbangan pesawat menuju Milan sudah take off. Harapannya pupus bersama keberangkatan pesawat yang membawa Elea ke Milan sore itu.
Tara memotret Alfa yang keluar bandara dengan wajah lesu, pakaian asal-asalan dan masih menggunakan sandal rumah lalu mengirimnya kepada Elea dengan caption “Pria Malang yang Putus Asa”.
*******