My MicroWife

My MicroWife
Keluarga Cemara



Siang itu mereka tiba di sebuah rumah di kawasan permukiman elit yang bernuansa semi pedesaan di jalan cemara. Masih banyak pohon besar yang tumbuh rapi di sekitar rumah mewah itu.


Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik dan modis datang menyambut mereka dengan ramah. Alfa dan Arka menyambut pelukan hangat wanita itu.


“Apa kabar, Ma? Mama sehat?”


“Mama baik, Al. Kamu gimana?”


“Baik, Ma.”


“Ma, kenalin ini Elea, teman aku. Papanya baru saja meninggal dan dia ngga punya siapa-siapa lagi. Boleh ngga ma kalau Elea tinggal di sini sama kita?” Arka menyela acara temu kangen ibu dan anak itu.


“Tentu, sayang.” Erlita memeluk Elea dengan hangat. “Welcome home, sayang... Anggep aja rumah sendiri. Jangan sungkan-sungkan yah!”


“Makasih, tante.” Elea masih saja merasa canggung meskipun Erlita terlihat sangat ramah.


“Mama sudah siapin makan siang dan sebentar lagi Papa pulang buat makan bareng kita. Kalian istirahat aja dulu.”


“Ma, aku antar Elea ke kamarnya dulu ya?” Arka langsung membawa koper Elea ke dalam kamar yang terletak di sebelah kamarnya.


“Kenapa disini?” protes Alfa.


“Ini adalah kamar dengan view paling baik di rumah ini.” Arka tetap saja memaksakan pilihannya.


“Elea tidak suka view pepohonan seperti itu. Dia suka kamar di lantai satu karena tidak suka naik turun tangga.” Alfa membawa koper Elea ke kamar di samping kamarnya di lantai satu.


“Eh, ngga bisa. Cuma ada kamar Kak Al dan asisten rumah tangga di lantai ini. Elea bakal kesepian kalau kak Al ngga pulang.”


“Eh, ada apa ini? Kok malah ribut-ribut?” Erlita menghampiri kedua putranya.


“Menurut mama, mana kamar yang paling pas buat Elea?” tanya Arka dengan polosnya.


“Elea akan menempati kamar tamu di sebelah sana.” Erlita menunjuk kamar tamu utama yang letaknya bersebrangan dengan kamar Alfa dan terpisah oleh ruang tengah yang sangat besar.


“Good choice!” puji Alfa.


Meskipun kamar mereka tidak saling berdekatan setidaknya Alfa masih bisa mengawasi Elea karena kamar mereka terletak satu lantai.


Elea tertegun melihat kamar yang ditempatinya. Kamar itu sangat luas dan bersih. Ada kamar mandi dalam yang bersih dan mewah juga. Ia sama sekali tidak menyangka jika Alfa berasal dari keluarga kaya raya seperti itu.


Tok.. Tok..


Erlita mengetuk pintu kamar Elea dan mengajaknya makan siang bersama. Sudah ada Alfa, Arka dan papanya di meja makan.


“Pa, kenalin. Ini Elea, temannya Arka.” Erlita memperkenalkan Elea kepada suaminya.


“Elea, Om.”


“Saya, Nafan. Papanya Alfa dan Arka. Kamu cantik El, pantas aja Arka langsung ajak kamu pulang.”


“Om bisa aja..”


“Maaf, ya El, Om memang suka becanda gitu.” Sela Erlita


“Iya ngga papa, tante.”


Mereka banyak membicarakan masalah keluarga yang kurang Elea pahami lalu Erlita mulai membahas soal Roni Wijaya.


“Dari mana Mama tahu soal Roni Wijaya?” tanya Alfa penasaran.


“Apa sih yang ngga mama tahu soal kamu, Al?”


Alfa tiba-tiba tersedak. Ia khawatir mamanya juga tahu soal Elea. “Apa mama masih sering meminta Rosa buat lapor sama Mama?”


“Bukan hanya Rosa telinga dan mata mama, Al.”


“Ma, kali ini Al mohon mama ngga ikut campur soal Roni Wijaya. Ini kasus Al dan Al pengen selesaiin dengan cara Al sendiri.”


“Resikonya besar, Al.” Nafan ikut bicara.


“Al tahu, Pa. Tapi Al ini seorang pengacara, bukan hanya anak mama papa. Tolong hargai profesi Al!”


“Oke, mama akan biarkan kamu urus Roni Wijaya tapi mama mau kamu nurut sama mama.”


“Soal apa ini?”


“Malam ini kita akan kedatangan tamu. Jadi mama harap kalian semua stay di rumah.”


*****


Malam itu, seorang gadis cantik sudah ikut hadir di meja makan keluarga cemara.


Erlita mulai membuka obrolan, “El, kenalin ini Kinara Gunawan, tunangannya Alfa.”


“Apa?”


“Kenapa El?”


“Oh, ngga papa tante.” Elea berusaha menutupi rasa kagetnya. “Kinara Gunawan?”


“Iya, pelukis muda paling berbakat dan terkenal.”


“Wah, ngga nyangka bisa ketemu artis besar disini.” Elea terus saja berusaha menutupi perasaannya.


“Sepertinya wajah kamu ngga asing.” Kinara tiba-tiba menyeletuk sambil meminum jusnya dengan santai.


Jantung Elea langsung berdetak kencang. Ia takut Kinara akan mengatakan bahwa ia datang ke rumah Kinara dan mengaku berpacaran dengan Alfa.


“Hah?” lagi-lagi Elea dibuat tersudut dan serba salah.


“Loh, memangnya kalian pernah ketemu?” tanya Erlita antusias.


Kinara terlihat sengaja mengulur waktu dengan diam sesaat, menatap Elea lalu menyeringai dan berkata dengan entengnya, “Sepertinya saya salah orang.”


Meskipun terdengar sangat menyebalkan, namun Elea benar-benar bisa bernafas lega.


‘Sial ni cewek sengaja ngerjain aku.’ Batin Elea.


“Papanya Nara bilang kalian sudah sempat bicara beberapa waktu lalu. Dan kami sebagai orang tua setuju untuk melanjutkan perjodohan kalian berdua.”


“Ma!”


“Al, mama akan tutup mata soal Roni Wijaya kalau kamu bersedia bertunangan dengan Kinara.”


“Ma! Apa perlu membicarakan ini sekarang dengan cara seperti ini?!” Alfa bangun dari kursinya lalu meninggalkan acara makan malam itu begitu saja.


Elea hanya bias terdiam menghadapi situasi pelik yang tengah menghampirinya dan Alfa.


“Ka, ajak Elea jalan-jalan di luar. Mama mau bicara dengan Nara dan kakak kamu.”


“Oke, Ma.”


*****


“Jadi apa mereka sudah lama pacaran?”


“Kak Al?” Arka tertawa.


“Kak Al itu selalu dijuluki penggaris kayu karena sangat kaku termasuk soal pasangan. Sejak putus dengan pacarnya waktu SMA, dia ngga pernah lagi mau dekat-dekat dengan cewek manapun. Gue hampir percaya kalau dia punya bakat guy. Hehehe..”


“Lalu? Nara?”


“Itu adalah pilihan mama. Mama sangat menyukai Kinara dan ingin Kak Al punya istri anggun dan berkelas seperti dia. Selain itu, mama selalu yakin bahwa latar belakang keluarga Nara akan mendukung kesuksesan karir Kak Al kelak. Jadi Mama mengatur pertunangan mereka dan itulah salah satu alasan kenapa Kak Al keluar dari rumah.”


“Oh....”


“Dan mama bukanlah tipe orang yang hanya meminta secara suka rela. Akan selalu ada ancaman dan paksaan yang ditawarkan.”


“Kalau dilihat-lihat mereka cocok juga.”


“Iya kan? Aku juga berfikir seperti itu. Meskipun Kak Al selalu menolak Nara tapi mereka terlihat serasi seperti kita.”


“Hah?!”


Ponsel Arka berbunyi dan ia meminta ijin Elea untuk menemui teman-teman lamanya yang sudah menunggunya di tempat lain.


Elea duduk sendiri di dekat kolam renang rumah Alfa. Ia memikirkan banyak hal yang mungkin akan dihadapinya di kemudian hari.


Kinara tiba-tiba saja datang dan duduk di samping Elea. “Jadi ini cewek yang ngaku-ngaku pacarnya Al, tunangan gue?”


Kinara memberi penekanan lebih pada kata “tunangan”, dan Elea paham betul apa maksud dan tujuannya.


“Maaf, aku ngga tahu kalau kalian –“


“Oke, anggep aja lo korban pelampiasan emosi sesaat Al karena belum bisa menerima perjodohan ini. Jadi gue bisa lupain soal itu. Tapi sekarang lo sudah tahu kan? Apa lo masih aja mau jadi parasit yang ngeganggu hubungan gue sama Al?”


Elea tersenyum. Ingin rasanya ia mengatakan bahwa dia adalah istri sahnya Alfa dan lebih berhak untuk tetap berada di samping Alfa. Tapi ia tahu betul bahwa ia tidak boleh gegabah. Ia menghadapi lawan yang tidak mudah jadi ia harus sangat berhati-hati.


“Lalu aku harus bagaimana? Mas Al yang membawaku kesini. Bukan aku yang minta.”


Kinata tersenyum, “Lo tuh jadi cewek bego banget yah? Lo ngga tahu kalau Alfa terpaksa bawa lo kesini karena kasihan? Ngga tahu diri banget sih lo?! Nempel terus sama tunangan orang! Ngga punya malu?”


Elea menarik nafas dalam-dalam, “Dengar Nona Kinara Gunawan, saya berada di sini karena satu alasan dan saya juga tidak merasa punya urusan dengan anda. Alangkah baiknya jika kita tidak saling mencampuri urusan satu sama lain. Permisi.”


Nara mulai kesal. “Dengar anak ingusan! Jangan pernah bermimpi bisa bersaing denganku! Tidak akan menguntungkan bagimu jika tante Erlita sampai tahu kalau kau sedang berusaha mendapatkan Alfa, bukannya Arka.”