My MicroWife

My MicroWife
Kata Hati



Hari berlalu dan Elea berusaha menata kembali perasaannya kepada Jack. Pernikahan mereka sudah tinggal sebulan lagi dan ia tidak ingin mengacaukan semuanya untuk hal yang tidak pasti.


Namun, sekeras apapun ia berusaha, perasaannya tidak bisa kembali seperti semula. Kedatangan Alfa telah memporak-porandakan benteng pertahanannya. Dan hari demi hari, Elea hanya hidup dalam penyesalan dan rasa bersalah karena tidak bisa mencintai Jack seutuhnya.


Hari itu Jack mengajak Elea untuk memilih gaun pengantin yang akan mereka kenakan pada hari pernikahan mereka. Namun Elea terlihat sama sekali tidak bersemangat.


Meskipun hanya diam, Jack tahu persis bahwa Elea sudah berubah sejak kepergian Alfa. Elea yang kini bersamanya bukan lagi Elea yang ia kenal sejak tiga tahun lalu. Tapi rasa cinta yang amat besar membuat Jack memilih untuk mengabaikan apa yang ia tahu. Ia hanya ingin mempertahankan gadis itu disampingnya.


“El, bagaimana dengan yang ini?”


Elea mengangguk, “Hmm, bagus.”


“Kalau yang ini?”


“Bagus.”


“Bagaimana dengan ini?”


“Bagus.”


Hanya itu yang Elea katakan sepanjang hari. Apapun yang Jack tawarkan kepadanya, hanya iya dan bagus yang Elea katakan. Jack merasa bahwa ia tengah berbicara dengan robot yang bernafas.


Jack kemudian mengajak Elea makan malam dan sengaja membelikan pizza dengan banyak irisan paprika yang amat dibenci Elea. Biasanya ia akan langsung komplain bila mendapati paprika di dalam pizzanya.


Tapi malam itu Elea hanya memotong-motong pizzanya tanpa selera lalu terpaksa melahapnya ketika Jack menanyakan kenapa ia tidak makan. Elea bahkan memakan semua paprika yang dibencinya meskipun akhirnya menyadari ada yang salah dengan rasanya dan buru-buru lari ke kamar mandi.


Karena tidak bisa membangkitkan selera makan Elea, Jack akhirnya mengajak Elea pulang. Elea bahkan tidak menyadari bahwa mereka sudah tiba di depan apartemen Elea.


“El, ada yang mau aku bicarakan dengan kamu.”


“Soal apa?”


“Aku mau minta maaf sama kamu.”


“Soal apa?”


“Aku tidak bisa melanjutkan rencana pernikahan kita.”


“Tapi kenapa? Aku minta maaf, Jack. Aku –“


“Sssstt.. aku tidak tahu bagaimana harus menyampaikan ini kepada kamu. Tapi aku mencintai orang lain, El.”


“Apa?”


“Beberapa bulan ini aku tidak sengaja dekat dengan seorang wanita di tempat kerjaku dan aku merasa kami memiliki banyak kecocokan. Aku tidak berani memberitahu kamu, jadi aku memanfaatkan kesempatan kita ke Jakarta supaya kamu bisa kembali ke kehidupan lama kamu. Agar aku tidak terlalu merasa bersalah. Tapi sepertinya semua tidak berjalan lancar dan disinilah kita sekarang.”


Elea menatap Jack. Ia tidak tahu apakah ia harus percaya dengan kebohongan payah yang baru saja diucapkan Jack. Tapi Elea yakin Jack sedang berusaha membukakan pintu untuknya melarikan diri dan ia tidak ingin menyia-nyiakannya.


“Aku minta maaf, El. Aku harap kamu tidak membenciku.”


Elea memeluk Jack lalu menangis di dalam pelukan pria jangkung itu. “Terima kasih, Jack.”


Hanya itu yang mampu Elea ucapkan malam itu.


*****


Ketika kembali ke apartemennya, Elea menceritakan semuanya kepada Alexa dan gadis itupun setuju dengan pemikiran Elea. Mereka berdua tahu betapa tulus perasaan Jack kepada Elea jadi Jack tidak mungkin mengkhianati cintanya kepada Elea. Jack sedang berusaha untuk merelakan Elea tanpa menyakiti satu sama lain lebih dalam lagi.


“El, waktu Alfa pamitan hari itu, dia bilang kalau mereka akan menggelar acara pernikahan tanggal lima bulan ini. itu artinya lusa, El.”


“Apa? Kenapa kamu baru bilang sekarang, Lex?”


“Tadinya aku pikir kalian sudah tidak punya harapan lagi untuk satu sama lain.”


Elea bergegas mengemasi barang-barangnya sementara Alexa mencari penerbangan paling pagi menuju Jakarta.


*******


Elea berangkat dengan penerbangan pukul sembilan pagi dan tiba keesokan paginya di Jakarta. Ia langsung menuju ke gedung tempat diadakannya resepsi pernikahan Alfa dan Kinara. Ia tidak tahu apakah ia masih sempat menghentikan pernikahan mereka. Hanya saja ia tidak ingin menyia-nyiakan dua puluh jam perjalanan panjangnya begitu saja tanpa mencoba.


Elea akhirnya tiba di pelataran sebuah gedung mewah yang terletak tidak jauh dari rumah Kinara. Gedung megah itu telah disulap menjadi tempat resepsi yang sangat indah yang kini telah dipenuhi ratusan atau bahkan mungkin ribuan tamu undangan.


Elea tak sempat menghitungnya karena ia buru-buru masuk dan mencari meja resepsionis.


“Sudah, Kak. Kakak langsung masuk aja ke ruang resepsi.”


Kaki Elea terasa lemas seketika. Sisa tenaganya seakan menguap begitu saja mendengar bahwa mantan suaminya sudah sah menikahi gadis lain. Elea melangkahkan kakinya keluar dari gedung menuju taksi yang masih menunggunya di depan pintu lobi.


Ketika hendak masuk ke dalam taksi, seseorang mendatanginya lalu manutup pintu taksi sehingga Elea tidak bisa masuk.


“Mas Al?! Kok Mas Al ada disini?”


“Selalu dengan pertanyaan yang sama.”


Alfa menurunkan barang-barang Elea, membayar ongkos taksi lalu membawanya ke salah satu ruangan yang sudah ia persiapkan.


Alfa meminta Elea mandi dengan cepat, lalu sebuah gaun cantik sudah menunggu untuk ia kenakan. Tak lama kemudian seorang make up artis datang dan menyulap wajah sayu dan lelah Elea menjadi kembali bersinar bak bintang di langit.


“Sudah siap, Pak Al.”


“Terima kasih.”


Si make up artis pergi dan Alfa langsung menyiapkan lengannya untuk digandeng Elea. Elea yang masih belum paham menolak ajakan Alfa dan memilih untuk kembali duduk di tepi ranjang.


“Ada apa ini sebenarnya? Kenapa Mas Al ada di sini? Bukannya Mas Al sudah sah nikahin Kinara? Lalu untuk apa Mas Al ngelakuin ini?”


“Banyak banget pertanyaan kamu, El? Kamu ngga capek habis duduk dua puluh jam di pesawat?”


“Pikir Mas Al buat apa aku ngelakuin semua ini?” Elea mulai emosi. Ia merasa sedang dipermainkan padahal perasaannya sedang kacau dan kecewa.


Alfa kembali mengulurkan tangannya, “Ikut aku! Dan semua pertanyaan kamu akan terjawab.”


Elea terpaksa menurut. Ia menggandeng tangan Alfa memasuki ruang resepsi, membelah kerumunan orang lalu naik ke atas pelaminan.


Elea melihat Kinara sedang berdiri disana bersama pria lain. “Mas Arka?!”


Alfa menguatkan gandengan tangannya agar Elea tidak pingsan. Ia lalu membawa Elea untuk bersalaman dengan papa dan mamanya, lalu Arka.


Elea tidak sanggup menahan air matanya ketika melihat Arka tersenyum kepadanya, “Dasar Bodoh! Seharusnya kamu datang lebih awal dan membantuku bersiap-siap.”


“Maaf, Mas. Aku –“


Arka langsung memeluk Elea dan menepuk punggungnya. “Jalan sudah terbuka lebar. Jangan lari ke arah yang salah lagi, yah?”


Arka melepaskan pelukannya dan Elea hanya bisa mengangguk. “Selamat ya, Mas!”


Ia kemudian menyalami dan memeluk Nara. “Maafin aku ya, Ra?”


“Aku harusnya bilang makasih sama kamu karena aku akhirnya menemukan pria yang tepat gara-gara kalian berdua.”


Elea melepaskan pelukan Kinara dan sekarang giliran Alfa yang memberikan Kinara ucapan selamat.


Alfa menjulurkan tangannya tapi Kinara malah mencubit lengannya karena kesal. “Awas kalau kalian ngga buru-buru nyusul.”


Mereka akhirnya mengambil foto keluarga dengan formasi lengkap.


*******


Alfa memasukkan barang-barang Elea ke dalam mobilnya lalu membawa Elea kembali ke apartemennya.


“Mas ini sebenarnya ada apa sih? Kok Nara nikahnya malah sama Mas Arka sih?”


“Mana aku tahu, El?”


“Arka tiba-tiba bilang ke mama kalau dia pengen nikahin Nara dan Nara juga langsung setuju.”


“Ada yang aneh.”


“Apa penting memikirkan soal itu padahal seharusnya kita yang ada di pelaminan itu, El? Bukan mereka.”


“Mas Al egois banget sih jadi orang!”


“Aku ngga peduli. Yang penting hari ini aku seneng banget karena kamu ada disini, El.”


*******