My MicroWife

My MicroWife
Gathering (5)



Elea mulai berlari menyusuri rintangan, membantu temannya memanjat tali tambang, merayap di bawah kawat, melewati jembatan tali dan saling menggendong untuk bisa menjangkau medali yang tergantung di atas pohon dengan tinggi sekitar dua setengah meter.


Banyak siswa yang berguguran di beberapa rintangan sebelum akhirnya tiba di finish. Hanya ada kurang dari sepuluh siswa yang bisa melalui semua rintangan dan sekarang tengah berjaung mendapatkan medali tersebut.


Ada yang saling menggendong dan akhirnya tumbang. Banyak yang mulai menyerah dan hanya menyisakan Samuel dan Elea.


“Kamu belum nyerah Sam?” tanya Elea.


“Kalau gue nyerah, siapa yang bakal bantu lo dapetin medali itu?”


Elea tersenyum. “Kamu beneran mau bantuin?”


Samuel mengangguk sambil mengatur nafas. Elea kemudian meminta Samuel mengaitkan kedua tangannya untuk dijadikan pijakan.


Setelah siap, Elea naik ke tangan Samuel. Lalu Samuel mendorongnya dengan sekuat tenaga. Setelah melayang di udara, Elea melayangkan tendangan sekuat tenaga ke arah medali itu lalu mendarat dengan selamat. Medalinya terlepas dan akhirnya jatuh ke tanah.


Elea berteriak kegirangan bersama Samuel. Ia bangga akhirnya bisa mendapatkan salah satu medali bertuliskan sekolah seni SH itu.


‘Dasar bodoh!’gumam Nara.


******


Malam harinya para siswa menyuguhkan beberapa atraksi seni di atas panggung untuk menghibur teman-teman dan gurunya sendiri.


Meskipun hanya panggung seni biasa tanpa bintang tamu dari luar, tapi acara itu sangat meriah karena SH memiliki banyak seniman berbakat. Ada banyak penyanyi yang tampil, mulai dari solo seperti Bianca, duet, grup bahkan band yang sukses membuat panggung bergetar karena semangat.


Selain itu ada juga para penari dengan berbagai genre, mulai tradisional sampai modern, atraksi silat, sulap, tari laser, teater dan masih banyak lagi. Acaranya semakin malam semakin seru.


Tiba giliran Bianca tampil dalam salah satu opera ala-ala Broadway dan ia kebingungan mencari kemeja karena kemeja miliknya ketumpahan kopi.


Elea yang kebetulan lewat ruang kostum berniat membantu Bianca. Jadi ia masuk ke kamar pribadi Alfa dan meminjam salah satu kemeja Alfa lalu memberikannya kepada Bianca.


“Pake ini aja, Bi!”


“Punya siapa, nih? Darimana lo dapet?” tanya Bianca


“Bi, ayo buruan! Bentar lagi giliran elo.” Ujar salah satu tim panggung.


Bianca langsung menyambar kemeja yang Elea bawa dan memakainya meski kebesaran. Dengan bantuan temannya yang bagian menata kostum, kemeja itu akhirnya bisa disulap jadi apik dan sukses mendukung penampilan Bianca di atas panggung malam itu.


“Gue masih ngga tahu lo dapet nyolong dimana kemeja ini, tapi gue bakal balikin ke lo dalam keadaan bersih.”


“Santai aja, Bi. Lo tinggalin aja disini, biar gue cuci sendiri aja.”


“Terserah!”


Dan ketika malam harinya, seusai pertunjukan seni, Elea mengambil kemeja itu terlipat rapi di atas meja dengan selembar kertas kecil bertuliskan terima kasih.


*******


Keesokan paginya, para siswa diberi jam bebas hingga pukul sepuluh pagi dan dihimbau untuk mulai berkemas karena bus akan datang menjemput mereka setelah makan siang.


Karena tidak memiliki agenda lain, Elea memilih untuk pindah tidur ke kamar Alfa setelah senam pagi bersama lalu berkemas.


Makan siang itu terasa berbeda dengan sebelum-sebelumnya karena menu untuk para siswa dan pengajar dibuat sama dan disajikan secara prasmanan. Jadi semua orang bisa memilih dan mengambil makanannya sendiri.


Ketika Elea hendak mengambil sayur, ia tidak sengaja bertemu dengan Nara.


“Gue ngga lihat Al. Dimana dia?”


“Di kantornyalah.” Jawab Elea singkat.


“Lo yakin Alfa ngga lagi sembunyi di suatu tempat di sekitar sini?”


“Kamu pikir Mas Al buron? Sampai perlu sembunyi-sembunyi segala?” Elea segera meninggalkan Nara setelah ia mendapatkan sayurnya.


Setelah acara makan siang dan mendengar sambutan dari dekan yang tiba pagi itu, para siswa diarahkan untuk menuju bus masing-masing yang sudah terparkir di halaman vila.


Para siswa mulai masuk ke dalam busnya masing-masing dan Elea menuju ke mobil Alfa. Tepat saat Elea membuka pintu depan dan hendak masuk, Nara datang dan menggeser tubuh Elea sehingga ia bisa duduk di kursi penumpang di samping Alfa dan menutup pintunya.


“Lo ngapain di sini?”


“Mau pulang.” Jawab Nara singkat.


Elea terpaksa pindah ke kursi belakang.


Melihat Nara tidak berniat keluar ataupun pindah, Alfa meninggalkan kunci mobilnya tetap menggantung, lalu turun dari mobil dan ikutan pindah ke kursi belakang.


“Loh, kok lo pindah ke belakang sih, Al?”protes Nara.


“Ada yang mau gue omongin berdua sama Elea. Gue pasti kerepotan kalau harus bolak balik nengok kaca spion. Jadi mendingan lo aja yang bawa mobilnya biar gue bisa ngobrol nyaman sama Elea.”


“Al! Lo tuh kelewatan banget yah!” protes Nara.


Tak lama kemudian Alfa melihat sebuah sedan mewah parkir di depan mobil Alfa. Alfa mencondongkan sedikit tubuhnya mendekati Nara yang masih duduk di jok depan.


“Tuh, ajudan lo udah jemput.”


Benar saja, ajudan yang dikirim ayah Nara mengetuk kaca mobil di samping Nara. “Maaf, Non. Bapak minta Non pulang sama saya.”


“Gue ngga mau!”


“Tapi, Non –“


“Sekarang lo minggirin mobil lo. Panggil orang buat ambil tu mobil dan lo bawa mobil ini sekarang!” titah Nara pada ajudannya.


“Tapi Non –“


Mengetahui Nara bersikaras dengan pendiriannya, pemuda itu menelepon seseorang dan tak lama kemudian Pak Budi Gunawan menghubungi Nara dan memerintahkannya untuk segera pulang bersama ajudan yang menjemputnya.


Entah apa lagi yang dikatakan ayahnya, karena Nara langsung menurut tanpa perlawanan sama sekali. Ia langsung turun dari mobil Alfa, membanting pintu lalu pindah ke mobilnya sendiri.


“Waw!” ujar Alfa dan Elea bersamaan.


******


“Jadi, kamu beneran ikut game konyol itu cuma buat ngedapetin medali?”


Elea menggeleng sambil terus menggenggam medalinya dengan penuh rasa bangga.


“El, ini bukan medali emas sungguhan. Lo tahu itu kan?”


Elea lagi-lagi mengangguk. “Meskipun bukan medali emas, tapi medali ini adalah satu-satunya bukti bahwa aku pernah menjadi mahasiswa SH.”


“Hah? Itu doang? Kamu cuma butuh bukti kalau kamu mahasiswa SH?”


“Yup!”


“El, ada kartu mahasiswa, ada daftar nama kamu di data siswa SH. Apa itu belum cukup?”


“Aku ngga mungkin bawa raport kemana-mana dan data siswa juga tidak bisa diakses sembarang orang. Kartu mahasiwa dikembalikan ketika kita lulus dari SH dan ditinggal di perpus ketika kita meminjam buku. Tidak ada identitas yang benar-benar menjadi milik kita Jadi bagaimana aku membuktikan bahwa aku adalah mahasiswa SH?”


“Lalu apa pentingnya memiliki identitas sebagai mahasiswa SH?”


“Setidaknya suatu saat nanti orang akan percaya bahwa aku benar-benar pernah kuliah di SH jika mereka bertanya.”


“Apa kamu sebangga itu bisa sekolah di SH?”


Elea mengangguk.


“Lalu kenapa kamu dulu nolak waktu aku suruh masuk SMA SH?”


“Karena aku takut.”