
Ujian akhir semester akhirnya selesai juga. Hari itu, dosen wali Elea memberi mereka pengumuman penting terkait agenda liburan bersama dan juga adanya guru lukis baru yang akan menggantikan Bu Siena yang sedang cuti melahirkan.
Seorang gadis cantik berambut panjang dengan mengenakan setelah blus dan rok span yang dilengkapi ikat pinggang rantai kecil berwarna emas masuk ke dalam aula dan disambut tepukan hangat para siswa dan guru.
‘Nara?’
“Perkenalkan! Dosen pengganti kita, Bu Kinara Gunawan.”
‘Bukannya dia bilang ngga mau ngajar di SH karena sibuk? Kenapa tiba-tiba mau?’ gumam Elea.
“Bu Nara akan mengajar kalian mulai semester depan untuk kelas seni lukis. Bapak harap kalian bisa bekerjasama dengan baik.”
Perkenalan berlanjut dan Elea belum juga bisa memahami jalan pikiran dan motif Nara.
******
Pihak sekolah telah memberikan informasi tentang rencana liburan bersama jurusan seni lukis angkatan ke lima kepada para orang tua dan wali mahasiswa. Mereka akan mengadakan liburan bersama di luar kota selama tiga hari dua malam. Mereka akan menginap di bumi perkemahan yang terletak di pelataran salah satu villa.
Dan bagi keluarga yang ingin mengantar atau mendampingi disarankan untuk segera memesan tempat di vila dan hotel sekitar tempat perkemahan sebelum kehabisan. Selain itu diharapkan agar pihak keluarga tidak mengganggu jalannya acara yang sudah diagendakan pihak kampus.
Elea tidak tahu lagi informasi selanjutnya karena Arka sudah datang menjemputnya dan diam-diam membawanya pergi dari sebelum Jihan selesai membacakan isi pemberitahuannya.
*****
Malam itu Jihan mengadakan pesta untuk merayakan kelulusan ujian Elea juga prestasi yang sangat membanggakan. Jihan mengundang semua anggota keluarga besar Susbihardayan ke rumah induk. Ia sudah menyiapkan segalanya dengan sangat baik.
Betapa kagetnya Sania, Farah, Bram, Kenny, Johan, Cecilia, Nafan dan Erlita ketika melihat suasana rumah induk sungguh jauh berbeda. Warna gorden sudah dirubah dengan nuansa ceria, lukisan-lukisan milik Eyang sudah dipasang dengan manis di beberapa titik.
Elea juga menyiapkan teh favorit Eyang yang rasanya sangat mirip dan khas. Dan semua itu membuat anak dan cucu Eyang Tiwi merasakan kehadiran Eyang di tengah-tengah mereka.
Kenny dan Rania menyiapkan kado khusus untuk Elea. Mereka sangat senang karena akhirnya ada anak cerdas lain yang hadir di tengah-tengah keluarga Susbihardayan. Rania bahkan tidak segan-segan meminta ijin kepada Jihan untuk mengadopsi Elea dan menjadikannya anaknya.
“Eh, enak aja. Elea itu anak aku. Mana bisa kalian main ambil gitu aja? It’s a big No!” ujar Jihan.
“Ji, lo kan udah ada Nasya? Sementara gue?” rayu Rania.
“Sori ya, Kak. Ini bukan soal gue sudah punya anak atau belum. Tapi gue sayang sama Elea dan udah anggep dia seperti anak gue sendiri. Mana ada ibu yang mau nyerahin anaknya ke tangan orang lain.”
“Tapi kan gue bukan orang lain, Ji?”
“Iya, saudara sekalipun.”
Rania terlihat manyun dan kecewa lalu Elea menghampirinya. “Jangan sedih gitu dong, Tan. Denger yah, Elea janji bakal sering mampir ke rumah Tante Rania. Kalau perlu El bakal nginep disana kalau Tante Jihan lagi ngga di rumah. Gimana?”
“Eh, sekongkol ya kalian. Awas ya?”
Rania akhirnya kembali tersenyum. “Janji yah?”
Elea mengangguk sambil menyematkan kelingkingnya dan Rania.
“Kalau perlu gue bakal buat Jihan tinggal di luar negeri terus supaya kita bisa tinggal bareng terus, hehe..” ujar Rania
“Boleh juga. Hehe...” balas Elea
“Awas kalian berdua yah!” Jihan mengejar keduanya ke ruang makan.
Semua keluarga terlihat bahagia dan ceria termasuk Tara, Handoyo dan juga Nasya. Soal Alfa dan Arka jangan ditanya lagi, jelas mereka orang yang paling merasa bangga. Elea benar-benar bisa membuat keluarga besar Susbihardayan terasa akrab dan hangat seperti dulu lagi.
Malam itu Elea mendapat banyak hadiah yang bahkan tidak pernah ia harapkan sebelumnya. Tapi dari sekian banyak hadiah ada satu yang paling kuas lukis milik salah satu pelukis legendaris yang sangat terkenal. Ia bahkan lupa untuk membuka hadiah lainnya.
*****
Hari pelaksanaan liburan bersama telah tiba. Sejak pagi semua siswa sudah berkumpul di halaman sekolah dan tiga buah bus pariwisata berukuran besar juga sudah siap di depan kampus.
Elea sedang menerima telepon dari Alfa ketika Arka menemui mamanya di ruang dekan.
“El, maaf yah? Hari ini aku ada urusan jadi ngga bisa antar kamu kemah. Tapi nanti kalau sudah selesai aku langsung susulin kamu kesana yah?”
“Ngga usah, Mas. Aku sendirian aja, banyak teman-teman juga kok.”
“Ya sudah. Kalau ngga salah tante Jihan juga bakalan nyusul kok. Tapi ngga bisa hari ini juga.”
“Hati-hati di jalan ya, El! Kabarin aku kalau ada apa-apa dan jangan sekali-kali berani matiin aplikasi pelacak gpsnya!”
“Iya-iya, bawel banget sih kaya nenek-nenek.”
Elea menutup teleponnya ketika Arka kembali.
“El, kamu beneran ngga mau aku anterin aja? Tadi aku sudah bilang sama mama katanya masih ada sisa satu kursi di bus. Gimana kalau aku temenin kamu naik bus aja?”
“Jangan dong, Mas. Malu sama temen-temen.”
“Anggap aja aku tour guide-nya gimana?”
“Jangan ah! Kaya anak TK aja dianterin mulu.”
“Ya sudah! Jangan macam-macam yah disana! awas kalau berani deket-deket sama cowok lain!”
“Mas Arka apaan sih?”
“Ya sudah, aku balik dulu yah? Ada urusan.”
Elea mengangguk, “Hati-hati ya, Mas!”
“Kamu juga.”
Setelah Arka pergi, Erlita memanggil Elea ke ruangannya karena Jihan ingin membicarakan sesuatu.
******
Ketika Elea masih bicara dengan Jihan dan Erlita bus sudah diberangkatkan oleh panitia karena tidak ada yang menyedari bahwa Elea belum masuk.
Erlita segera menghubungi pihak travel dan mengajukan komplain lalu mereka menawarkan sebuah mobil pribadi untuk mengantar siswa yang tertinggal supaya dapat menyusul rombongan.
Erlita menyetujuinya dan mobil dijanjikan akan datang dalam lima belas menit.
“El, sekali lagi tante minta maaf karena hari ini ngga bisa nganter kamu.”
“Iya ngga papa, Tan.”
*****
Tak lama kemudian sebuah suv datang dan menunggu di depan pintu lobi.
“Mobil kamu sudah datang, El.”
“Kalau gitu, aku berangkat dulu ya, Tan?” Elea berpamitan dan mencium punggung tangan Erlita dan Jihan.
Ketika Elea memasuki pintu belakang mobil, ternyata seseorang juga membuka pintu dan masuk dari sisi yang lain.
“Nara, ngapain kamu disini?”
“Gue juga ketinggalan rombongan.” Jawab Nara singkat. “Jalan, Pak!”
Elea terpaksa mempercayai perkataan Nara karena gadis itu tidak membawa barang apapun melainkan sebuah tas slempang yang tengah ia kenakan. Gadis itu pasti juga sudah meninggalkan barangnya di dalam bus sepertinya.
Perjalanan terasa canggung karena keduanya memilih untuk sama-sama diam dan menatap keluar jendela. Tidak ada yang menarik untuk mereka bicarakan satu sama lain.
Waktu berlalu dan mereka sudah menempuh setengah perjalanan. Kini mereka memasuki kawasan jalan berkelok yang relatif sepi yang akan membawa mereka pada kawasan perkemahan yang terletak di sekitar area wisata hutan lindung.
Semua berjalan baik sampai ketika sebuah mobil tiba-tiba saja melaju kencang dari arah belakang mereka lalu tiba-tiba saja menukik dan memotong jalan suv yang mereka kendarai.
Pengemudi suv berusaha mengerem dan membanting setir untuk menghindari mobil hitam yang memotong jalan mereka secara tiba-tiba itu. Mobil sempat tergelincir dan memutar sampai akhirnya terhenti karena menabrak pohon besar.
Menyadari situasi yang mereka hadapi, Nara langsung melipat kedua tangannya dan menyembunyikannya di dalam dekapan.
Sementara Elea yang melihat jelas kepala Nara hendak membentur kaca tanpa perlindungan, justru menjulurkan tangannya untuk menahan dan melindungi kepala Nara.
*****