My MicroWife

My MicroWife
Teman Baru



“El!”


Alfa membuka pintu rumahnya dengan tergesa-gesa dan apa yang didapatinya adalah seisi rumah yang berantakan dan Elea yang sedang makan instan yang tersaji di atas meja.


Elea yang tertegun dengan mulut penuh makanan. Ia tidak menyangka bahwa Alfa akan pulang lebih cepat dari biasanya dan memergokinya sedang membuat kekacauan di dapur.


“Mas Al kok sudah pulang?” tanya Elea lugu.


"Apa kau juga membuat mi instan dengan microwave?"


Elea mengangguk. "Lebih praktis."


Gadis bar-bar itu kambali menyuapkan sesendok penuh mi instan ke dalam mulutnya. "Mas Al mau? Biar aku buatin."


"Habiskan dulu isi mulutmu kalau mau bicara!" Alfa meninggikan suaranya sambil melotot.


Ia merasa sangat terganggu dengan kejorokan dan tingkah tidak sopan Elea yang berbicara dengan mulut penuh sampai muncrat kemana-mana.


"Iya, maaf." Elea menelan semua mi instan di dalam mulutnya. "Aku buatin ya Mas?"


Alfa sebenarnya lapar kareta tadi siang memang belum sempat makan, apalagi di luar sedang turun hujan jadia agak merepotkan kalau harus keluar lagi untuk membeli makanan. Melihat Elea makan dengan nikmatnya sepertinya Alfa juga tertarik untuk mencoba. "A-"


Belum sempat Alfa menjawab tawaran Elea, gadis itu sudah memotong kalimat Alfa, "Mas Al mandi sama ganti baju dulu aja. Bentar lagi kaos kakinya kering. Habis itu aku buatin mi buat Mas Al."


"Kaos kaki?!"


"Iya, tadi aku cuci kaos kakinya Mas Al ikut kecuci. Karena takut besok mau dipake jadi aku panasin aja di microwave biar cepet kering."


“Apa?! Eleeeeaaaaaaa!!!!!” Alfa langsung lari ke kamar mandi karena mual. "Mulai hari ini jangan pernah memasukkan benda apapun ke dalam microwave selain makanan!"


Takut Alfa akan kembali memarahinya, Elea bergegas bangun dari duduknya dan membersihkan seisi rumah.


Setelah hampir satu jam mondar-mandir kesana kemari membereskan semua kekacauan yang diperbuatnya, Elea akhirnya menghampiri Alfa yang sedang duduk santai sambil membaca buku di sofa ruang tamu.


“Mas.. “ Elea mengatur nafasnya yang masih ngos-ngosan karena lelah.


Alfa melirik Elea dari balik kacamatanya. Ia yakin Elea ingin melapor bahwa pekerjaannya sudah selesai dan rumah sudah kembali bersih.


Alfa kemudian menurunkan buku dari hadapannya. Ia memeriksa sekeliling dan memang semua sudah kembali ke tempat semula.


“Mas, boleh aku lanjutin makan dulu? Laper banget."


‘Dulu?’


Merasa curiga dengan kalimat Elea, Alfa memeriksa bagian dapur, kamar mandi dan tempat cuci.


Alfa benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi. Kotoran di ruang tamu dan tempat makan bukannya sudah benar-benar beres melainkan hanya bergeser tempat ke dapur dan ruang cuci.


Jadi yang gadis itu kerjakan selama sejam tadi hanyalah memindahkan kotoran dan bukan membereskannya. Dan yang dilakukannya sekarang adalah dengan santainya menghabiskan sisa mi instan yang sudah mengembang karena hampir satu jam ditinggalkannya tadi.


“Apa kau masih lapar?”


Elea menatap Alfa curiga. Karena tidak bisa menemukan tujuan yang sebenarnya dibalik pertanyaan Alfa itu, Elea memilih untuk tetap diam dan tidak menjawab.


“Cepat mandi dan ganti baju! Kita makan di luar.”


***


Alfa mengajaknya makan di salah satu rumah makan khas Jawa tidak jauh dari apartemen mereka.


“Mas Al ngga makan?”


Elea heran melihat Alfa hanya minum segelas kopi padahal ia yang mengajaknya makan malam.


“Tiba-tiba saja jadi kenyang ngelihat kamu makan.”


“Jadi El, kenapa kemarin kamu menyalakan televisi keras-keras sampai mengganggu tetangga kiri kanan?”


“Ada orang yang ngebuntutin aku sampai ke apartemen. Dan aku ngerasa kalau dia nungguin juga di depan pintu. Aku nyalain tivi keras-keras biar dia nganggep kalau di dalam rumah lagi rame ada banyak orang gitu.”


“Kamu pasti kebanyakan nonton home alone.”


“Hahahaha... bener banget itu. Eh, tapi, Mas aku ke toilet dulu yah?”


Elea bergegas mencari toilet karena sepertinya perutnya sudah tidak sanggup lagi menampung makanan dan minuman lain.


Karena tidak tahu dimana letak toiletnya, Elea salah memasuki ruang khusus karyawan dan melihat seorang karyawan wanita yang berusaha melawan karena hendak dicium paksa oleh pria berpakaian rapi yang terlihat seperti atasannya.


Elea menarik bahu pria itu dari belakang lalu mendorongnya menjauh dari gadis itu.


“Maaf, Anda siapa? Ini urusan kami dan ini ruangan khusus karyawan. jadi sebaiknya Anda tidak ikut campur.”


“Saya pelanggan disini dan kebetulah melihat Bapak melecehkan karyawan Bapak.”


“Seperti yang saya sampaikan tadi, bahwa ini adalah urusan internal kami. Saya adalah manager dan ini karyawan kami. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan anda tapi sekali lagi kami harap Anda tidak ikut campur.” Pria itu kembali memperingatkan.


“Anda benar bahwa ini bukan urusan saya. Tapi saya tidak bisa diam saja melihat Anda berbuat tidak senonoh kepada sesama wanita. Saya akan menganggap bahwa saya tidak melihat apapun jika Anda mengijinkan saya membawa Mbak ini dari sini.”


Elea menggamit tangan karyawan wanita itu dan hendak membawanya keluar tapi sang manajer menahannya.


“Saya sudah katakan bahwa ini bukan urusan Anda dan anak ini masih bekerja. Jadi Anda tidak bisa seenaknya membawanya pergi.”


“Maaf, Pak. Bisa tolong lepaskan tangan istri saya? Sepertinya dia kesakitan.” Alfa tiba-tiba saja datang.


‘Istri?’


Si manajer melepaskan tangannya dari tangan Elea.


“Anda benar bahwa kami seharusnya tidak ikut campur tapi kami tidak bisa diam saja melihat anda melakukan pelecehan seksual kepada wanita yang kebetulan itu adalah karyawan anda. Anda bisa dikenai pasal 294 KUHP dengan ancaman tujuh tahun hukuman penjara.”


"Anda ini siapa? Anda pikir saya akan takut dengan gertakan sambal seperti itu?"


Alfa mengeluarkan kartu namanya. "Saya pengacara dan anda bisa menghubungi saya kapanpun bila butuh bantuan."


Pria itu mengambil kartu nama Alfa lalu membacanya. Ia tidak percaya dengan apa yang Alfa katakan.


“Sial!” pria itu meninggalkan ruang karyawan karena tidak ingin terlibat masalah hukum.


“Ais! Gara-gara kalian yang sok pahlawan, gue jadi terpaksa cari pekerjaan lain.”


Bukannya berterima kasih, karyawan wanita itu justru kesal dan meninggalkan mereka dengan membawa semua barangnya dari dalam loker karyawan.


***


“Mas, bukannya Mas Al sendiri yang bilang kalau orang harus tahunya kita ini Kakak – Adik? Tapi kenapa tadi Mas Al bilang istri saya?”


“Hah? Kapan?”


“Tadi waktu di ruang karyawan. Tolong lepaskan tangan istri saya.” Elea mengulang perkataan Alfa tadi.


“Hahaha.. kamu pasti salah dengar. Tadi aku bilang adik saya. Ngaco kamu nih..”


Elea tetap yakin bahwa ia mendengar dengan jelas bahwa Alfa menggunakan kata istri bukannya adik. Tapi ia tidak ingin memperpanjang masalah.


‘Sial! Kok gue bisa keceplosan yah? Mesti lebih hati-hati nih gue..’


"Tapi Mas Al hebat, mengalahkan lawan hanya dengan selembar kartu nama. Hehe.."