
Tak lama kemudian Alfa muncul dengan membawa surat somasi dan tuntutan. “Al juga ngga terima.”
“Al!” Nafan berusaha menghentikan putranya.
“Oh, jadi kamu sudah berani menentang mama, Al?”
“Maaf, Ma. Al sama sekali tidak berniat menentang mama. Al cuma menuntut pihak kampus yang berusaha memfitnah dan mencemarkan nama baik siswa terbaiknya. Al sudah kumpulin semua bukti dan saksi. Tidak akan butuh waktu lama untuk menyerat kasus ini ke meja hijau. Tapi mama tenang aja, Al ngga akan nuntut kompensasi yang besar kok. Hanya kesempatan kedua dan sebuah permintaan maaf terbuka.”
“Al!” Erlita bangun dan menggebrak meja.
Tapi Alfa sama sekali tidak menggubrisnya dan malah meninggalkannya begitu saja.
Rupanya Alfa tahu betul apa yang sedang berusaha dipertahankan mamanya. Dan ia sedang berusaha memaksa mamanya untuk menyerahkannya, yang tidak lain adalah ego dan harga diri.
Nafan yang sangat memahami kondisinya mulai cemas. Pertarungan yang akan dihadapinya kali ini bukanlah soal uang seperti yang selama ini digelutinya melainkan sesuatu yang tidak nampak namun sangat mengerikan, ego dan harga diri.
“Lo masih punya waktu buat ngebatalin keputusan lo, Ta. Kalau lo nekad, lo ngga hanya akan kehilangan SH tapi juga Alfa dan keluarga besar lo.”
Erlita melempar gelasnya ke dinding. Ia tidak percaya jika Alfa akan menantangnya secara terbuka seperti itu.
“Ma!”
“Apa? Papa juga mau bilang kalau mama harus ngalah sama Al?”
“Ma, istirahat gih!” Nafan juga bangun dari duduknya dan meninggalkan Erlita yang masih terbakar amarah.
*****
Dua hari kemudian, tepat sebelum tempo somasi Alfa berakhir, Elea menerima surat pemberitahuan dan permintaan maaf serta klarifikasi atas tuduhan perbuatan melanggar aturan yang ditimpakan kepadanya sebelumnya.
Ia juga diijinkan untuk kembali kuliah di SH seperti sebelumnya. Pagi itu, Alfa sengaja mengantar Elea ke kampus. Ia tahu bahwa mamanya sedang ada disana. Sebelum kembali ke kantor, Alfa menyempatkan diri mampir dan menyapa mamanya di ruangannya.
“Apa perlu kamu bertindak sejauh itu, Al?”
“Apa? Soal Al nganter Elea?”
Erlita membuang muka.
“Al cuma mau pastiin kalau Elea mendapat perlakuan yang baik seperti mahasiswa lain disini. Kalau ada kecurangan dan perbuatan disengaja yang menyusahkan dan merugikan Elea, maka seisi kampus akan tahu kalau dia istri Al, menantu pemilik sekolah ini. Al rasa itu bakal membuat Elea lebih aman disini.”
“Jangan coba-coba Al! Kalau sampai berita murahan seperti itu menyebar, maka Mama pastikan teman-teman kamu di firma juga akan mengalami kesulitan.”
“Kami sudah terlalu banyak mengalami kesulitan sejak awal, Ma. Jadi kami sudah mulai terbiasa dengan itu. Mama boleh coba lakuin apapun untuk mengukur seberapa besar kerugian kita masing-masing.” Al tersenyum lalu pamit.
Erlita mengacak-acak mejanya. Dan sekretarisnya segera masuk ketika mendengar barang-barang berjatuhan.
“Ada yang bisa saya bantu, Bu?”
Erlita menggeleng. “Keluar!”
“Baik, Bu!”
******
Pertama-tama, Erlita ingin mengukur seberapa besar dukungan yang gadis itu miliki. Jadi ia membuat edaran untuk meminta sumbangan danan bagi pembangunan dan pengembangan kampus.
Besaran dana yang disumbangkan akan menentukan peluang mahasiswa tersebut dalam mengikuti pagelaran besar yang akan diadakan SH pertengahan tahun ajaran. Pagelaran tersebut biasanya hanya diikuti beberapa mahasiswa berprestasi yang nantinya akan dipamerkan secara besar-besaran di hadapan para petinggi negeri dan tamu asing.
Tapi tahun ini, Erlita merubah sedikit kebijakannya. Ia memanfaatkan dana sumbangan wali murid sebagai salah satu filter untuk menyeleksi siswa yang akan tampil dalam pagelaran tahunan.
Beberapa hari kemudian, aliran dana sumbangan mulai masuk ke rekening yayasan. Besaran dana yang masuk beserta nama mahasiswa yang bersangkutan dipampang layar yang dipasang di pintu masuk aula dan diupdate secara real time sehingga menjadi ajang unjuk kekayaan para orang tua.
Besaran sumbangan terus bertambah dari hari ke hari dan nama Elea bahkan tidak pernah masuk sepuluh besar yang layak terpampang di layar. Namun Elea sama sekali tidak berkecil hati karena tujuannya di SH adalah lulus dengan nilai memuaskan. Bukan sekedar mengikuti pagelaran tahunan.
****
Jihan yang mengetahui rencana Erlita itu menjadi geram. “Dasar rubah! Bisa-bisanya dia mengemis dengan cara seperti itu. Berapa banyak yang sebenarnya dia harapkan?”
Hari terakhir penggalangan dana, jihan mengirimkan uang tunai tiga puluh juta ke rekening yayasan dan menuliskan nama Elea disana. Siang itu, untuk keli pertama nama Elea muncul di layar dengan menempati posisi tertinggi.
“Tiga puluh juta?” Elea tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Posisi itu bertahan sekitar dua jam lalu kemudian nama Elea terus tergeser ke bawah berganti dengan nama-nama lain yang mengirim dengan nilai lebih besar.
Dana terus mengalir deras ke rekening yayasan mendekati detik-detik penutupan acara penggalangan dana yang akan berakhir ketika bel pulang hari itu berdering.
Erlita merasa senang karena nama Elea sudah tidak ada lagi di layar. Selain itu, dana yang ia terima juga sudah jauh menlampai harapan.
Lima menit lagi bel pulang sekolah dan penerimaan dana partisipasi pembangunan dan pengembangan kampus akan segera di tutup. Erlita mulai menyiapkan ponselnya untuk menghubungi pihak bank agar bersiap menutup rekening yayasan untuk sementara waktu.
Hanya tersisa kurang dari satu menit ketika ia mendengar petugas bank mengatakan bahwa ada dana sebesar lima puluh juta masuk ke rekening yayasan. Erlita menghampiri aula dan melihat Alfa sedang berdiri menghadap layar.
“Atas nama Elea, Bu.”
Nama Elea kembali menjadi nomor satu, mencatat dana sumbangan terbesar kali ini.
Kriiiiing! Bel kampus berbunyi. Para mahasiswa berhamburan dan petugas bank mengatakan bahwa rekening sudah resmi ditutp untuk sementara waktu.
Alfa berbalik dan menghampiri mamanya, “Apa uangnya sudah cukup untuk renovasi, Ma?”
Erlita menggenggam ponselnya erat-erat, nafasnya naik-turun menahan emosi. Lagi-lagi Alfa menggagalkan rencananya. Tapi setidaknya sekarang Erlita tahu seberapa banyak dukungan yang bisa Elea dapatkan.
Dengan begitu, ia bisa memikirkan kembali bagaimana ia harus menghindarkan Elea dari semua kekuatan itu agar bisa mengalahkannya dengan dengan lebih mudah.
******
Hari itu adalah hari orang tua. Erlita sengaja mengundang para orang tua untuk menghadiri acara tersebut, kecuali Elea. Ia memanggil Elea dan mengatakan bahwa Jihan dan Dean ada acara di luar negeri pada hari orang tua.
“Karena itu saya tidak bisa memberi tahu mereka hanya karena acara remeh seperti ini.”
“Saya mengerti, Bu. tidak masalah.”
*****