My MicroWife

My MicroWife
Dinner (tak) Romantis



Siang itu, Alfa baru saja mengakhiri rapat dengan timnya dan buru-buru mengambil ponselnya yang tertinggal di meja kerja di dalam ruangannya. Ia terbelalak melihat ada sembilan belas panggilan tak terjawab yang ada di sana.


Alfa membukanya dan nama Elea memenuhi semua daftar panggilan tak terjawabnya. Alfa kemudian menghubungi nomor Elea tapi tidak diangkat. Ketika hendak mencoba untuk kedua kalinya, gadis itu sudah muncul di hadapannya.


Melihat wajah kusut dan bibir manyun gadis itu, Alfa yakin ada hal buruk yang terjadi.


“Ada apa, El?”


Elea melemparkan tubuhnya ke sofa sambil terus memonyongkan bibirnya. Ia kemudian menatap Alfa tajam. Tatapan penuh selidik dan amarah.


“Kenapa Mas Al ngga bilang kalau nanti malam mau ngedate sama Nara?”


“Ngedate? Maksud kamu kencan?” Alfa tertawa kecil dan dibuat-dibuat. “Siapa bilang Mas mau kencan sama dia?”


“Tante Lita. Dia sudah siapin semua keperluan Mas Al buat kencan sama Nara.”


“Mama?”


Tak lama kemudian sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Alfa.


(Garden Resto, jam tujuh malam)


******


Alfa memarkir mobil di depan pintu rumahnya. Elea tahu persis bahwa pria yang sudah menikahinya itu tengah marah besar karena ia sampai lupa untuk membukakan pintu untuknya.


Elea bergegas turun dari mobil lalu mengikuti langkah Alfa masuk ke dalam lobi rumahnya yang seluas lapangan sepak bola.


“Ma, maksud mama apa sih? Berapa kali Al bilang kalau Al ngga mau mama ikut campur urusan Al. Apalagi soal nara dan perjodohan konyol itu.”


Erlita paham betul bahwa putranya sedang marah, jadi ia memilih untuk sedikit melunak. “Mama minta maaf, ya Al? Tapi tadi papanya Nara menghubungi mama, katanya beliau sudah mereservasikan tempat makan yang bagus untuk kalian berdua.”


“Kenapa ngga mama aja yang pergi?”


“Al, plis. Kamu sudah bukan anak kecil lagi. Sikap kamu seperti ini ngga akan bisa mencegah mama untuk menikahkan kamu sama Nara. Jadi sebaiknya kamu cepat bersiap-siap atau mama akan membuat kamu terpaksa keluar dari kasus Roni Wijaya?”


“Ma!”


Erlita berjalan meninggalkan Alfa dan hanya melambaikan tangan kanannya sambil memunggungi Alfa.


*****


Waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat tapi Alfa belum juga mau keluar dari kamarnya. Erlita mulai gelisah. Ia yakin tidak akan berhasil membujuk Alfa hanya dengan kasus Roni Wijaya. Alfa pasti mengira ia hanya menggertak. Jadi Erlita berniat memberi Alfa satu kesempatan terakhir.


Erlita mengetuk pintu kamar Alfa berkali-kali. “Al! Bangun Al! Sudah jam enam!”


Alfa masih bergeming dan Erlita benar-benar frustasi. “Kalau ngga mau keluar, mama akan telepon Tanto Wijaya sekarang.”


‘Tanto Wijaya? Ayah Roni Wijaya?’ Elea baru ingat nama itu.


Elea menahan Erlita agar membatalkan panggilan teleponnya. “Tante, tunggu dulu!”


“Ada apa, El?” Erlita menutup ponselnya.


“Gimana kalau kita bujuk Mas Al dengan cara lain?”


“Cara lain? Cara apa?”


“Gimana kalau tante ijinin Elea ikut sama Mas Al?”


“Apa?!”


“Tunggu dulu! Elea belum selesai ngomong. Maksud El, sama Mas Arka juga. Jadi kami pergi berempat, double date gitu.”


“Tapi, Nara pasti marah. Dia pengen bicara berdua sama Alfa.”


“Kalau untuk itu mungkin bisa lain kali, Tan. Yang penting malam ini acaranya ngga batal. Udah setengah tujuh loh, Tan. Kalaupun berangkat sekarang pasti udah telat. Gimana?”bujuk Elea.


Erlita terlihat ragu, namun ia tidak punya pilihan lain. Ia hanya tidak ingin ayah Nara kecewa karena sudah memesan tempat dan Alfa menolak untuk datang.


“Oke, Al. Kamu boleh ajak Elea.”


*******


Mereka sudah berada di dalam mobil menuju Garden Resto, tempat Nara menunggu Alfa dengan penuh rasa kesal. Malam ini Alfa menyetir asal-asalan karena kesal. Ia tidak menyangka bahwa Arka juga akan ikut bersama mereka. Padahal mamanya tadi hanya menyebutkan nama Elea saja.


“Kamu cantik banget malam ini, El.”


“Masa sih? Padahal ngga sempat make up karena buru-buru.”


“Kaya gini lebih cantik, natural. Kalau semua orang punya kulit wajah kaya kamu, dokter estetik kaya aku pasti bakal gulung tikar.”


Elea tersenyum tersipu-sipu, “Mas Arka bisa aja..”


Ciiiit!


“Kak! Apaan sih lo? Ngga ada apa-apa tiba-tiba main rem mendadak.”


“Sori, tadi gue lihat ada cewek cantik lagi nyebrang.” Alfa terpaksa mengarang cerita dan juga sedikit menyindir Elea yang merasa bangga dibilang cantik oleh Arka.


Tak lama kemudian Alfa menghentikan mobilnya di sebuah minimarket.


“Ka, tolong beliin gue permen penyegar nafas dong. Ngga nyaman banget nih mau ketemu cewek –cantik-.” Alfa menekankan kata cantik dan menoleh ke arah Elea.


“Kenapa ngga beli sendiri aja?”


“Tangan gue pegel habis pegang kemudi. Plis...” Alfa memasang tampang sok manis di hadapan Arka.


“Dih, jijik.”


“Biar aku aja yang beli, Mas.” Elea melepas sabuk pengamannya.


“Ngga usah, biar gue aja El.” Arka akhirnya mengalah dan turun ke minimarket.


“Kamu kenapa sih?”


“Mas Al tuh yang kenapa?”


“Emang kamu suka banget digombalin gitu sama cowok-cowok?”


“Apaan sih, Mas? Orang Mas Arka cuma becandaan doang.”


“Becanda? Terus kenapa kamu pake acara senyum-senyum tersipu-sipu gitu?”


“Siapa yang tersipu-sipu?” Elea mengecek wajahnya di cermin. “Jadi, Mas Al cemburu?”


“Ngga!”


******


Ketika tiba di Garden Resto, wajah Nara sudah seperti kepiting rebus, merah karena menahan marah. Tidak heran jika gadis bertubuh ramping itu langsung berdiri dan meninggalkan mejanya ketika mereka bertiga tiba. Karena ia sudah menunggu setidaknya satu jam lamanya.


“Nara, tunggu!” Arka berusaha mencegah Nara yang pergi dengan penuh amarah. “Sori, kita telat karena macet dan Kak Al baru aja balik dari pengadilan. Sidangnya ngga bisa ditunda.”


Nara melepaskan lengannya dari genggaman Arka. Ia tidak menyangka Arka akan benar-benar membuat alasan sepayah itu. Padahal ia sudah memastikan semua jadwal persidangan di pengadilan hari itu untuk jaga-jaga.


Elea menyenggol lengan Alfa sambil melotot.


“Sori, Ra. Gue lupa kalau mama sudah bikin janji sama elo.” Alfa terpaksa minta maaf karena tidak mau bola mata Elea terlepas dari tempatnya. “Karena udah disini, gimana kalau kita makan dulu sebelum pergi?”


“El, kayanya disana ada tempat bagus. Kita makan disana aja.” Arka menemukan meja kosong berjarak beberapa meja dari tempat Nara dan Alfa.


“Eh, tapi –“


Belum sempat Elea menyelesaikan kalimatnya, Arka sudah lebih dulu menarik tangan Elea menjauh dari pasangan yang sedang berkencan itu.


Selama hampir setengah jam, Alfa hanya memakan makanannya tanpa berkata sepatah katapun karena memang tidak ada yang ingin ia bicarakan dengan gadis di hadapannya itu.


Sementara Nara mulai merasa kesal karena diperlakukan seperti patung oleh Alfa. Ia meletakkan sendoknya dengan kasar sehingga bunyi dentingnya terdengar keras saat bersentuhan dengan piring. Dengan begitu, ia baru bisa membuat Alfa melihatnya dan menghentikan makannya.


Alfa menyudahi makannya, menata sendok dan pisaunya dengan rapi, meminum minumannya, mengelap mulutnya, merapikan dasi dan kacamatanya lalu baru menyapa Nara. “Jadi apa yang mau kamu bicarakan.”


“Ngga ada!” Kinara mengambil tasnya lalu meninggalkan Alfa begitu saja.


Sementara itu, Elea sedang berusaha membujuk Arka agar mau mencoba daging asap yang katanya menu andalan di restoran itu tapi Arka tetap saja menolaknya.


“Aaaaa...”


“Ngga mau!” Arka menutup mulutnya dengan tangan.


“Ayo dong Mas! Satu aja! Kalau ngga enak atau muntah, Mas Arka boleh sentil jidat aku. Gimana?”


Arka tampak sedang mempertimbangkan tawaran Elea.


“Aaaa..”


Arka akhirnya membuka mulutnya dan berusaha mengunyah daging asap yang disuapkan Elea ke mulutnya.


Anehnya Arka merasa bahwa daging itu enak dan hebatnya lagi, ia tidak merasa mual seperti biasanya ketika makan makanan yang bukan buatan koki langganannya.


“Sudah selesai makannya? Lo bisakan habisin makanan lo sendiri? Gue ada urusan sama Elea.” Alfa menarik tangan Elea dan membawanya menuju mobil.


“Loh Mas, Mas Arka kok ditinggal?”


Alfa melajukan mobilnya dengan kencang, “Sudah gede. Bisa pulang sendiri.”


Hanya itu kalimat terakhir yang Elea dengar malam itu. Karena setelah itu Alfa tidak mengucapkan sepatah katapun.