
Pagi harinya ketika terbangun, Elea menemukan Alfa tengah terlelap di sampingnya.
“Mas Al! Bangun! Sudah hampir subuh. Bahaya kalau Bik Sumi lihat kita disini.”
Alfa mengerjap-kerjapkan matanya yang masih terasa berat. Ia merasa malas harus meninggalkan Elea. Sudah beberapa hari ini ia tidak tidur selelap itu.
“Ayo buruan bangun! Mas Al harus pulang sekarang. Sebelum Bik Sumi bangun.”
“Iya, iya.” Alfa terpaksa bangun meskipun malas. Ia mengambil jaket dan kunci mobilnya lalu berniat keluar rumah sebelum bik sumi bangun.
Tapi sial karena Alfa mendengar Bik Sumi membuka kunci pintu kamarnya sebelum ia sempat membuka pintu.
“Loh kok Mas Al tidur disini?” tanya Bik Sumi ketika melihat Alfa tidur di sofa ruang tengah.
Bik Sumi kemudian mengambilkan Alfa selimut dan membuat Alfa kembali terlelap.
****
Arka yang biasanya menunggu di atas motor, tiba-tiba saja ingin masuk dan menjemput Elea di dalam rumah. Jadi ia memarkir motornya dan berniat menghampiri Elea di kamar.
Ketika melewati ruang tengah, ia melihat Alfa sedang tertidur lelap di sofa. “Kak! Bangun! Ngapain lo disini?”
Elea yang baru turun dari kamarnya kaget melihat Alfa masih tidur di sofa.
‘Kok masih disini sih? Kirain udah pulang.’ Gumam Elea.
“Ngapain Kak Al disini?”
“Ngga tahu, Mas. Bangunin aja gih!”
Arka membangunkan Alfa dengan terus mengguncang-guncangkan tubuhnya hingga jatuh ke lantai.
“Lo apaan sih, Ka! Untung aja ada karpet. Coba kalau ngga?”
“Habisnya lo susah banget dibanguninnya. Lo ngapain tidur disini?”
“Semalem ada yang mau gue omongin sama Elea tapi dia sudah tidur. Karena gue juga udah ngantuk dan beresiko kalau bawa mobil jadi gue putusin tidur disini.”
“Emang Mas Al mau ngomong apa?” pancing Elea.
“Bukan apa-apa. Cuma soal sidang putusannya Ruri kemarin.”
Elea langsung menarik tubuh Alfa dan mendudukkannya lagi di sofa. “Jadi gimana keputusannya, Mas?”
Alfa menatap Elea lalu Arka lalu Elea lagi dan tersenyum, “Ruri dibebaskan dan dinyatakan tidak bersalah.”
“Terus sekarang Rurinya dimana?”
“Ada di suatu tempat yang aman.”
“Aku mau ketemu sama dia.”
“Nanti aku jemput kamu. Sepulang kerja kita temui Ruri yah?”
“Siap, Mas Bos!” Elea menirukan kata-kata yang sering diucapkan anak buah Alfa di kantor.
“Kalau gitu, aku berangkat dulu ya, Mas?”
Elea nyaris reflek mencium punggung tangan Alfa seperti yang biasa ia lakukan, tapi sadar Arka sedang memperhatikannya, jadi ia buru-buru membanting tangan Alfa.
“Buruan bangun! Ntar telat ke kantor.”
Arka menyalakan motornya dan Elea mulai mengenakan helmnya.
“Mas, tunggu bentar yah? Ada yang ketinggalan.”
Elea berlari kembali masuk ke dalam rumah, menyambar tangan Alfa dan mengecup punggung tangannya.
“Aku berangkat dulu ya, Mas?”
Alfa tersenyum senang. Ia tidak menyangka Elea akan kembali hanya untuk berpamitan secara layak kepadanya. Tidak hanya itu, Elea kemudian mengecup pipinya dan berlari keluar sebelum Arka kembali menyusulnya ke dalam.
Alfa terbelalak ketika melihat Bik Sumi yang terperanjat melihat apa yang baru saja Elea lakukan terhadapnya. Keduanya mematung beberapa saat.
“Bik, ini ngga seperti yang Bik Sumi lihat. Tadi Elea cuma becanda dan ngambil kotoran yang ada di wajah aku.” Alfa berusaha memberi penjelasan yang masuk akal.
“Bibi ngga lihat apa-apa kok Mas. Cuma kaget aja karena Mas Alfa sudah bangun.” Bik Sumi cepat-cepat pergi.
******
Hari itu, suasana hati Elea sedang sangat baik. Ia merasa sangat bersemangat dan tidak bisa berhenti tersenyum. Tentu saja karena Ruri akhirnya bebas dari segala tuduhan dan karena Alfa, pria yang selalu menjadi pahlawan dalam hidup dan hatinya.
Pagi itu Bianca meletakkan permen karet di bangku Elea, tapi Elea yang mengetahuinya sebelum duduk memilih untuk mengecek absensi dan duduk di kursi siswa yang hari itu tidak masuk.
Siang harinya, Bianca sudah siap untuk mengerjainya lagi di kantin. Tapi Elea datang ke kantin dengan membawa box bento sekali pakai. Ia mengisinya dengan semua makanan yang ia butuhkan lalu membawanya pergi untuk mencari tempat makan yang lebih tenang.
Ketika hendak ke kamar mandi, Elea juga tidak lupa membawa ponsel dan mencabut kunci agar tidak dikunci lagi dari luar.
Kadang hormon oksitosin bisa membuat otak berfikir lebih jernih sehingga bisa menemukan berbagai solusi atas semua hal buruk yang mungkin akan menimpa.
Bianca benar-benar dibuat kesal oleh Elea hari itu. karena semua rencana yang disusunnya gagal. Hanya tinggal satu rencana yang bisa ia lakukan dan itu tidak boleh gagal.
Ketika kembali dari kamar mandi, kelasnya sedang dihebohkan oleh Bianca yang kehilangan jam tangan mewahnya yang baru saja ia dapat dari ayahnya yang pulang dari Paris. Dosen mereka memerintahkan semua tas digeledah tanpa terkecuali dan tidak boleh ada orang yang meninggalkan kelas sebelum jam itu ditemukan.
Dosen mulai melakukan penggeledah satu per satu tapi jam tangan itu belum juga ditemukan. Tiba giliran tas Elea digeledah dan ternyata jam itu ada di dalam sana.
“Tapi saya ngga mengambilnya, Bu! saya bersumpah saya tidak tahu bagaimana jam itu bisa ada di dalam tas saya.” Elea berusaha membela diri.
“Jangan ngeles deh lo! Nyatanya jam gue ada di tas lo dan semua orang jadi saksinya.”
“Bu, gimana kalau itu cuma fitnah? Gimana kalau saya dijebak? Siapa yang akan bertanggung jawab?” Elea sangat serius kali ini.
Ia tidak pernah melapor atau mengadu meskipun berkali-kali diganggu oleh Bianca. Tapi dituduh mencuri sungguh tidak dapat Elea terima.
“Bi, untuk sementara kita sudahi masalah ini. Yang penting jam kamu sudah ketemu.”
“Tapi Elea yang mencuri, Bu. Jadi dia harus mendapatkan hukuman yang setimpal. Kalau pihak kampus tidak berani menuntut dan menghukumnya, saya akan minta pengacara keluarga saya untuk melakukannya.”
“Bi, apa perlu sampai sejauh itu?” tanya Bu Risa.
“Saya tidak ingin ada pencuri di kampus saya. ini memalukan. Ini adalah kali pertama ada pencuri yang bisa masuk ke SH.”
“Bagaimana kamu yakin kalau saya pencurinya? Begini saja. Silakan ibu cek sidik jari yang ada di jam itu. Saya yakin ibu tidak akan menemukan sidik jari saya disana.”
“Bisa aja kan lo pake sarung tangan atau tissu?” tuduh Bianca.
“Cukup Bi! Sekarang kembali ke tempat duduk kalian masing-masing. Pelajaran akan kita lanjutkan. Soal ini kita bicarakan lagi nanti.”
******