My MicroWife

My MicroWife
Acara Keluarga



Acara makan malam bersama segera dimulai ketika Kenny, putra tunggal Sania dan mantan suaminya, Prasetyo, bersama Rania, istrinya dan juga Nasya, putri pertama Jihan dan Dean bergabung bersama mereka. Tidak jauh berbeda dengan ayah dan ibunya, Nasya juga terkejut ketika melihat Elea.


Arka kemudian memperkenalkan keduanya dan menjelaskan situasinya sehingga mereka bisa saling terbiasa satu sama lain.


Jihan sengaja menyediakan satu kursi kosong di sebelahnya untuk Elea. Karena ia merasa ingin mengenal lebih banyak tentang gadis manis itu. Dan Nasya meskipun tidak terlalu nyaman dengan keberadaan Elea, ia merasa senang melihat ibunya kembali ceria dan bersemangat.


“El, kamu masih sekolah?”


“Sudah kuliah, Tan.”


“Semester berapa, sayang?”


“Satu, Tan. Elea baru aja masuk kuliah.”


“Rumah kamu dimana?”


“Dia tinggal sendiri. Kedua orang tuanya sudah meninggal dan Arka mengajaknya untuk tinggal di rumah.” Sela Erlita.


“Arka?” Jihan mengalihkan pandangannya kepada Arka. “Kamu selalu manis dan baik hati, Ka. Terima kasih yah sudah bawa Elea ke tengah-tengah keluarga kita.”


“Sama-sama, tante.” Arka memasang senyum paling manisnya.


“Kalau begitu, gimana kalau Elea tinggal sama aku aja? Mau kan El? Tante punya beberapa rumah, jadi kamu bisa pilih mana yang paling nyaman buat kamu.”


“Tapi, Tan –“


“Jangan takut sayang! Tadi Lita bilang kamu yatim piatu kan? Anggap aja tante ini mama kamu dan Om Dean itu papa kamu. Kamu juga punya kakak, Nasya. Ya kan, Sya?”


Nasya hanya mengangguk-angguk saja. Baginya tidak masalah selama mamanya bahagia. Sudah terlalu lama ia tidak melihat mamanya seperti hari itu.


“Jangan buru-buru dijawab, El. Itu hanya permintaan dari tante Jihan. Kamu boleh menolak kalau lebih sayang sama tante. Ngga ada masalah. Hehe..” sahut Erlita untuk mencairkan suasana.


Elea merasa mendapatkan kesempatan untuk membangun jarak dengan Alfa.


“Kalau gitu, boleh Elea coba tinggal sama Tante Jihan untuk sementara waktu, Tan?” tanya Elea kepada Erlita.


“Kamu yakin, sayang? Tante pasti bakal kesepian kalau ngga ada kamu di rumah. Arka juga. Ya kan Ka?”


Arka mengangguk sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Hanya beberapa hari.”


“Take your time, sayang... Kamu boleh tinggal dimanapun kalau kamu mau.” Erlita akhirnya menyerah.


“Kalau disini, boleh?” tanya Elea tiba-tiba dan tentu saja itu membuat semua orang terdiam.


Bagaimana tidak? Rumah mewah itu sudah lama tidak ditinggali sejak Erlita memutuskan untuk pindah ke rumah barunya di jalan cemara. Meskipun masih terawat karena ada seorang asisten rumah tangga yang tinggal disana, tapi rumah itu tidak layak untuk disebut rumah karena sepi.


“Apa kamu yakin?” tanya Jihan.


“Ngga masalah kalau ngga boleh. El cuma asal bicara aja kok.”


“Oma setuju.” Kata Sania. “Oma kesepian di rumah. Kalau kamu tinggal disini, Oma bisa lebih sering mampir buat ngobrol sama kamu.”


“Tante juga setuju. Supaya ngga kesepian, Tante akan temani kamu tinggal disini.” Jawab Jihan tidak mau kalah.


“Tante serius?”


“Tentu sayang.” Jihan terlihat sangat bersemangat. “Boleh kan, Pa?” tanya Jihan kepada suaminya.


“Tentu. Dengan begitu kita bisa lebih sering makan bersama seperti ini di sini.” Jawab Erlita.


Elea berharap keputusannya kali ini benar. Ia perlu ruang untuk memikirkan masa depannya yang kacau balau. Ia harus memutuskan apa yang akan ia lakukan setelah mengetahui siapa Alfa dan bagaimana ia harus melanjutkan hidupnya setelah ini.


“Selamat malam, semuanya. Maaf saya terlambat.”


“Nara?”


*******


“Nara?” Erlita bangun dari kursinya dan menyambut Nara yang masih berdiri di depan pintu dengan penampilan super glamornya.


“Maaf, Nara terlambat, Tan.”


“Ngga papa, sayang. Ayo masuk!”


Erlita memberikan tempat kepada Nara di samping Alfa. “Kenalkan, ini Kinara Gunawan.”


“Kinara Gunawan? Anak Pak Walikota?” tanya Bram


“Mantan.” Ralat Kinara.


“Iya, Om. Anak Pak Budi Gunawan. Calon istrinya Alfa.” Imbuh Erlita


“Uhuk!” Alfa kembali tersedak karena mamanya selalu bicara seenaknya.


“Calon istri?” Tara tiba-tiba saja tersedak.


“Ya, saya calon istrinya Alfa.” Kata Kinara dengan penuh percaya diri.


Elea sama sekali tidak menyangka Kinara akan seberani dan seterbuka itu. apakah ia sengaja mengirim sinyal perang kepada Elea?


Tapi untuk saat ini Elea tidak ingin memikirkan hal itu. Ia tidak ingin ambil pusing dengan hubungan yang hampir berakhir itu. Ia hanya perlu mengobati rasa sakit yang tidak terlihat yang entah darimana, dimana dan bagaimana bisa begitu menyiksanya.


Kinara duduk di samping Alfa dan Alfa langsung pergi meninggalkan mejanya. Elea berniat mengikuti Alfa keluar tapi ia tidak ingin menimbulkan banyak perhatian jadi ia memilih untuk diam dan menunggu.


Setelah itu, topik pembicaraan beralih ke seputar rencana pernikahan Alfa dan Kinara. Seluruh perhatian tertuju kepada Kinara dan ketenarannya sebagai seorang pelukis berbakat.


“Nara, kenapa kamu ngga mengambil kesempatan untuk menjadi pengajar di SH?” tanya Jihan.


“Nara masih sibuk banget. Ada pameran yang akan Nara gelar beberapa bulan lagi. Juga banyak agenda dan undangan ke luar negeri juga.”


“SH?” tanya Elea memotong pembicaraan mereka.


“Iya SH. Itu kampus yang tante bangun dengan segenap tenaga. Kenapa El?”


“Ngga papa, Tan.”


“Oh ya, ngomong-ngomong kamu kuliah dimana El? Tante sampe lupa mau nanya sama kamu.”


“Loh mama belum tahu? El kan kuliah di SH juga, Ma. Dia masuk lewat jalur tes dengan nilai tertinggi.” Jelas Arka panjang lebar.


“Oh ya? Kok mama bisa ngga tahu yah?” Erlita berfikir sejenak, “Jadi lukisan Hope itu punya kamu?”


Elea terpaksa menggeleng. Tidak ada gunanya lagi menutup-nutupi semuanya. Cepat atau lambat semua rahasianya akan terbongkar jadi ia hanya perlu mempersiapkan diri.


Sementara itu, Nara merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Gadis yang selalu mengganggunya itu ternyata memiliki bakat yang tak kalah hebat dengannya. Rupanya persaingan akan menjadi semakin berat dan melelahkan bagi Kinara. Saat itulah, ia mulai membenci dirinya sendiri yang menyukai Alfa begitu saja padahal ia tahu betul bahwa perasaannya hanya bertepuk sebelah tangan.