
Malam harinya Elea tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ia memutuskan untuk keluar dan mengambil minuman di kulkas.
“Loh, Mas Al belum tidur?”
Alfa terlihat kaget lalu buru-buru menyembunyikan sesuatu di bawah meja makan.
“Eh, El. Iya belum ngantuk. Kamu sendiri?”
Elea mengambil segelas air lalu duduk di kursi di depan Alfa.
“Ngga tahu, Mas. Ngga bisa tidur aku.”
“Emang kamu lagi mikirin apa?”
“Gimana kalau Niken keceplosan dan seisi sekolah tahu kalau aku sudah nikah? Apa mungkin aku masih bisa terus sekolah?”
Rupanya Alfa juga mengkhawatirkan hal yang sama.
“Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi yang pasti aku akan menemukan sekolah yang mau menerimamu apapun keadaannya.”
“Emang ada sekolah kaya gitu, Mas?”
“Kalau ngga ada, aku bakal bangun sekolah itu buat kamu.”
“Heleh, wes pinter nggombal kamu, Mas.”
“Bukan gombal, El. Aku bakal pastiin kamu bisa tetep sekolah gimanapun caranya. Aku janji! Jadi kamu ngga usah takut yah?”
“Iyo, aku percaya kok. Ngomong-ngomong ngga krasa sudah satu tahun aja kita nikah-nikahan yo, Mas?”
“Nikah-nikahan? Itu nikah sungguhan, El. Sah dihadapan Tuhan, saksi dan penghulu.”
“Iya, apa itu namanya? Nikah yang ngga pake buku itu loh, Mas.”
“Siri?”
“Iyo itu!”
“Siapa bilang?”
Alfa menyodorkan sebuah buku nikah ke hadapan Elea.
“Apa buku ini yang kamu sebut nikah sungguhan?”
Elea membuka buku nikah berwarna hijau itu. Ada fotonya dan Alfa di halaman pertama.
“Tapi, Mas. Gimana bisa?”
“Apanya yang ngga bisa, El?”
“Kita kan nikah diam-diam karena aku masih di bawah umur. Gimana mungkin Mas Al bisa dapetin buku nikah kaya gini?”
“Kan ada dispensasi nikah, El.”
“Wah, Mas Al hebat juga ya? Itu artinya –“
Alfa membuka halaman berisi janji atau sighat taklik, “Bacalah!”
Elea membaca setiap kata dengan seksama.
‘.....saya berjanji dengan sesungguh hati, bahwa saya akan menepati kewajiban saya sebagai seorang suami, dan akan saya pergauli istri saya dengan baik menurut syariat islam.....’
“Itu adalah janji yang harus saya pegang setelah saya menikahi kamu.”
Elea menatap Alfa, “Apa kamu yakin, Mas?”
“Apa kamu tidak yakin?”
“Bukan gitu, maksud aku. Kita ngelakuin ini hanya untuk membuat Bapak tenang. Tapi Mas Al ngga perlu sampai sejauh itu. Mas Al punya banyak fans cewek, punya –“
“Kok malah tertawa sih?”
Alfa kembali ke kamarnya tanpa menjawab pertanyaan Elea.
Elea melihat sebuah kotak tertinggal di kursi di samping Alfa.
“Mas kotaknya ketinggalan!”
Elea membawa kotak itu masuk ke dalam kamar Alfa yang selalu segar dengan aroma pappermint.
“Oh, itu? ambil aja! Buat kamu.” Kata Alfa sembari merapikan tempat tidurnya.
Elea membuka kotak hitam berukuran kecil itu yang ternyata berisi sebuah kalung dan cincin.
“Apa ini?”
“Hadiah buat kamu.” Alfa merebahkan dirinya di atas ranjang.
“Hadiah? Buat aku?”
“Aku ingin memberikannya saat kita menikah dulu. Tapi karena semua serba mendadak aku belum sempat membelinya. Jadi aku baru bisa memberikannya sekarang.”
“Ini cincin kawin?”
“Terserah bagaimana kau menamainya. Mudah-mudahan ukurannya pas.”
Alfa menarik selimutnya lalu membalik badan membelakangi Elea yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
“Kalau aku pakai, pasti akan jadi pertanyaan. Dan bisa-bisa rahasia kita akan terbongkar.”
“Kalau gitu simpan saja.”
“Mana boleh cincin kawin disimpan begitu saja?”
Alfa membalik badannya karena kesal.
“Jadi kau mau apa?”
Elea menyodorkan kotak hitam itu kepada Alfa, “Pakaikan!”
“Bukannya tadi kamu bilang takut ketahuan?”
“Yup! Pasti ketahuan kalau aku memakainya di jari. Tapi kalau seperti ini, pasti aman.”
Elea memasukkan cincin ke dalam kalung lalu meminta Alfa untuk memakaikannya.
Alfa kemudian bangkit dari ranjangnya dan memakaikan kalung berliontin cincin itu ke leher Elea.
“Cantik kan Mas?”
Elea memperhatikan pantulan kalung yang terpasang di lehernya di depan cermin.
Sementara Alfa tak bisa berpaling dari wajah Elea yang terpantul di cermin, “Cantik.”
Sadar bahwa Alfa sedang memperhatikan wajahnya dan bukannya kalung di lehernya membuat Elea menjadi kikuk dan menunduk.
“Oh ya, Mas. Sudah malam. Aku mau balik ke kamar dulu.”
“Oh, iya.”
Elea kembali lagi ke kamar Alfa.
“Mas, makasih yah?”
Dan Alfa hanya bisa menertawakan kekonyolan mereka berdua.
'Selamat ulang tahun, El.'