
Setelah berhasil memenangkan kasusnya di pengadilan, Meca mengundang Alfa dan semua tim kerjanya untuk datang ke sebuah pesta yang dibuatnya untuk merayakan kemenangan mereka.
Sore itu Alfa pulang dengan membawa sebuah gaun baru untuk Elea.
“Opo iki, Mas.”
“Aku mau kamu pake itu untuk ke pesta nanti malam.”
***
Mereka tiba di sebuah rumah makan yang sudah direservasi Meca. Beberapa staf sudah berkumpul di sana. Melihat banyaknya orang dewasa yang tidak ia kenal, Elea merasa ragu. Ia meraih tangan Alfa.
“Mas, gimana kalau aku tunggu Mas di sini aja?”
“Kenapa? Itu teman-teman kantor aku, El. Aku mau ngenalin kamu sama mereka. Tenang aja ya?”
“Sebagai apa? Mas mau ngenalin aku sebagai apa? Gimana kalau mereka curiga? Gimana kalau kita ketahuan?”
Alfa menggenggam tangan Elea, “Jangan takut! Ada aku.”
Tara langsung menyambut Elea dengan ramah, “Halo sayang! Sini Kak Tara sudah siapin tempat buat kamu. Kamu cantik banget sih, sayang?”
“Makasih, Kak.”
Tara benar, malam itu Elea tampil sangat cantik dengan mini dress motif bungan berwarna peach yang dibelikan Alfa. Meskipun hanya menggunakan bando dan riasan tipis, Elea terlihat segar dan bersinar karena kulit putih dan mulus alaminya.
Melihat semua undangan sudah hadir, Handoyo mengambil alih acara dan memperkenalkan Elea untuk mengurangi rasa canggung.
“Oke, jadi karena semua sudah berkumpul, sebelumnya perkenankan saya memperkenalkan ini adik sepupu kami, namanya Elea. Mungkin beberapa dari kalian sudah sempat ketemu sama dia di kantor beberapa waktu yang lalu. Dia masih kelas tiga SMA jadi tolong perlakukan dia dengan baik yah?!”
“Siap Mas Bos!!”
“Pak Al, kirain tadi pak Al mau bawa ceweknya. Padahal kita sudah excited banget tadi.” Ujar salah seorang staf wanita Alfa yang bernama Nana.
“Emang kenapa kalian excited?”
“Yah, kan selama ini Pak Al ngga pernah bawa cewek.” Jawab Rosa staf keuangan.
Elea yang duduk di sebelah Alfa mendengar dengan jelas isi percakapan mereka dan ia merasa lega karena suaminya bukan playboy.
“Pesen semua makanan yang kamu suka ya, El? Aku ke sana sebentar yah?”
Setelah mengusap lembut kepala Elea, Alfa pergi menghampiri Handoyo dan Tara yang sedang ngobrol dengan beberapa staf pria di sofa.
“Elea. Kamu beneran adik sepupunya Pak Al?” tanya Nana tidak percaya.
Elea mengangguk perlahan, “Emang kenapa, Kak? Ngga mirip yah?”
“Kalau itu sih jelas. Kalian lebih mirip om dan ponakan daripada adik kakak.”
Elea berusaha menahan tawanya, “Kak Nana bisa aja.”
“El, emang beneran Pak Al belum punya pacar yah? Kalau kamu adiknya kamu pasti tahu dong gimana tipe cewek kesukaan Pak Al?” tanya Rosa.
“Gimana yah? Aku ngga terlalu tahu sih, karena emang Mas Al jarang bahas soal cewek.”
“Sumpah gue penasaran banget sama cewek yang bisa nakhlukin Pak Al. Secara doi kan cakep banget, kharismatik, tajir melintir. Bobot, bibit, bebetnya perfect.”
Elea mengamati Alfa dengan seksama dari kejauhan.
‘Apa benar yang mereka katakan? Apakah Alfa benar sesempurna itu? lalu apakah pantas aku yang menjadi istrinya?’
“Kak, aku permisi ke belakang sebentar yah?”
***
Elea tidak tahu bagaimana harus bersikap malam itu. ia merasa seperti makhluk asing ketika berada di antara teman-teman Alfa. Meskipun banyak hal yang mengganggunya, ia sadar bahwa ia tidak bisa berlama-lama di kamar mandi. Alfa akan segera menyadari bahwa ia tidak ada di tempat dan segera mencarinya.
Dan benar saja, Elea keluar dari kamar mandi, Alfa sudah menunggunya di depan pintu.
“Kemana aja sih, El?”
“Ke toilet." Elea menunjuk tulisan toilet di pintu. "Emang ada apa, Mas.”
“Ke toilet kok lama banget.” Alfa menggandeng tangan Elea memasuki ruangan dan ternyata Meca sudah ada di sana bergabung dengan yang lain.
Gadis berkaki jenjang dan berlingkar pinggang kecil itu menghampiri Alfa yang masih menggandeng tangan Elea. Aura keartisannya terlihat jelas di balik parasnya yang mulus tanpa cela, rambut tertata rapi dan pakaian glamor ala diva.
Elea jelas tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Meca.
“Hai, Al. Kebetulan kamu datang. Selamat ya?”
“Kenapa kamu membawa minuman keras kesini?”
“Ayolah sayang, ini cuma sari apel.” Meca mengalihkan pandangannya kepada Elea, “Kurasa kau juga boleh mencobanya, Nona kecil.”
Alfa menepis gelas berisi cider di tangan Meca. Lalu menarik Elea dan memberinya jus jeruk yang ada di meja.
Meca cukup kesal melihat sikap Alfa yang mengacuhkannya. Pria itu sungguh keras kepala. Tapi semakin Alfa mengacuhkannya semakin membuat Meca tertantang untuk mendapatkannya kembali.
Meca mengambil posisi duduk di samping Alfa, sehingga kini Alfa sedang berada diantara Meca dan Elea.
“Mau makan yang mana sayang? Kamu suka ngga makanan disini?” Meca menyajikan semua menu tepat dihadapan Alfa. Dan ia sengaja memilih beberapa jenis makanan yang ia tahu persis adalah menu favorit Alfa dulu.
Sementara itu Rosa, Nana dan staf Alfa yang lainnya hanya terpaku melihat Bosnya yang super dingin tiba-tiba saja seakrab itu dengan artis terkenal yang menjadi kliennya.
Tak lama kemudian pelayan datang membawa makanan yang Elea pesan dan itu sukses membuat semua yang ada disana tercengang. Bagaimana tidak? Elea merubah beef steak andalan resto itu menjadi beef steak mozarela yang dipenuhi keju molor diatasnya dan juga merubah spagheti menjadi mi kuah super pedas ala korea yang sangat menggiurkan.
"What the -" Meca sampai kehabisan kata-kata melihat ulah gadis kecil itu.
Elea sama sekali tidak mempedulikan Meca dan hanya menyantap mi kuah pedasnya dengan lahap. Nana dan Rosa yang melihat betapa Elea menikmati makanannya jadi ikut-ikutan pesan menu yang sama.
Sementara Alfa tidak kalah tercengangnya dari Meca. Ia hanya bisa memandangi Elea yang sedang makan lahap sambil mendesis karena rasa pedas yang membakar lidahnya. Alfa memesankan satu gelas minuman lagi karena melihat gelas Elea hampir kosong.
"Mas Al ngga makan?" Tanya Elea yang murai merasa kikuk karena terus diperhatikan saat sedang makan. "Mau coba?"
Elea terpaksa basa-basi menawarkan mi yang dimakannya kepada Alfa dan di luar dugaan, Alfa langsung mengambil mangkuk Elea dan memakan sisa mi yang ditinggalkan Elea.
"Mas Al mau aku pesenin mi kaya gini juga?"
Alfa menggeleng sambil terus menahan rasa pedas yang mulai menjalar ke lidah dan lambungnya. Keringat mulai deras bercucuran di dahi dan pelipis Alfa dan itu membuat Meca, Tara juga Handoyo khawatir.
"Al! Lo ngga papa?" Tanya Tara.
Alfa tidak menjawab dan tetap menghabiskan isi mangkok itu sampai kosong. Setelah minum segelas air ia langsung berlari ke kamar mandi tanpa berkata apa-apa.
"Mas!" Elea berusaha mengejarnya.
Tapi Meca menahannya lalu mengeluarkan obat dari dalam tasnya dan menyerahkannya kepada Elea. "Berikan obat ini kepada Alfa. Dia sangat sensitif dengan pedas. Kalau terlambat akibatnya bisa fatal."
Elea langsung menyambar botol air mineral yang ada di meja lalu membawanya ke toilet.
*****