
“Mas, Mas Al sudah gila yah?! Kenapa Mas kasih tahu dia kalau kita sudah nikah? Kita kan sudah janji buat jaga rahasia? Gimana kalau dia beneran muncul di infotainment terus ngebocorin rahasia kita? Kita bisa ketahuan Mas..”
Elea sudah bicara panjang kali lebar tapi Alfa tetap saja bergeming.
“Mas...”
Alfa tetap saja diam seribu bahasa. Eleapun menyerah dan membiarkan pikirannya mengembara kemana-mana.
“Loh, mas ini kan bukan jalan pulang? Kita mau kemana?”
Tak lama kemudian Alfa memarkir mobilnya di sebuah rumah dua lantai dengan pagar kayu bernomor dua puluh satu.
“Al, gimana? Sudah ketemu Meca?” sambut Tara ketika melihat Alfa tiba.
“Dimana Tobi?”
“Tobi? Ada di kamarnya. Kenapa?” tanya Handoyo
“El, kamu naik ke lantai dua ada kamar pintu biru kamu masuk aja. Ada Tobi disana. kamu bisa main sama dia dulu.”
“Ya, Mas.” Elea menuruti perintah Alfa tanpa pertanyaan.
Alfa kemudian duduk di sofa diikuti Tara dan Handoyo.
“Tar, lo tahu kan kalau gue punya masalah sama Meca?”
“Tau! Tapi kan itu sudah lama sekali, Al?”
“Tar, gue ngga suka lo cerita macem-macem soal gue ke dia. Dan intinya adalah gue ngga mau nanganin kasusnya Meca.”
“Tapi kenapa Al? Lo seharusnya senang dapat kesempatan untuk membalas Yusar. Lo mau diem aja dimainin sama mereka kaya yoyo?”
“Handoyo bener Al. Lo butuh kasus besar yang bisa nyelametin nama baik firma. Dan kenapa gue pilih Meca? Karena dia artis terkenal. Kalau lo bisa memenangkan kasusnya firma hukum lo bisa ikutan terkenal dan peluang untuk mendapatkan kasus-kasus penting akan semakin besar. Lo ngga ngehargain banget usaha gue sampai bela-belain ikutan gabung fans clubnya dia!”
“Gue bakal cari kasus dan klien lain. Tapi bukan Meca. Gue ngga mau kerjasama sama dia. Titik.”
“Al, jangan gitu dunk.. Lo ngga kasihan apa kalau suami gua ngga bisa kasih nafkah gara-gara firma sepi kasus?”
“Jangan ngada-ngada! Om Johan dan Tante Sisil ngga pernah telat kasih lo jatah bulanan. Dan kalau perlu lo boleh pake uang sewa gedung buat gaji lo.”
Tara cengengesan, “Ya tapi lo ngga pengen apa nyokap lo tahu kalau firma hukum lo terkenal dan bisa menangani kasus penting juga? Masak iya lo mau pasrah aja dicap pengacara kacangan gara-gara ngurusin kawin cerai mulu.”
Kring... .
“Tunggu! Meca telepon.”
Tara mengangkat ponselnya lalu berbicara dengan Meca. “Apa?!”
***
Tara menutup ponselnya lalu melempar bantal sofa ke arah Alfa.
“Lo sudah gila?! Kenapa lo bilang kalau lo sudah nikah sama bocah?”
“Apa?”
“Al, lo mestinya ngga usah ngarang cerita konyol kaya gitu. Lo pikir Meca bakal percaya? Yang ada itu malah malu-maluin lo. Ketahuan banget kalau lo berusaha ngebohongin Meca karena malu masih belum bisa move on. Dasar bodoh!”
“Tar, kayaknya lo juga harus tahu sekarang.”
“Jangan, Al. Jangan!” Handoyo berusaha mencegah Alfa berbicara dengan membungkam mulut Alfa tapi Alfa masih saja berusaha melepaskan diri.
***
Tara membuka pintu kamar Tobi dan melihat putra semata wayangnya itu sedang asyik belajar mewarna bersama Elea.
“El, jadi apa yang diomongin Alfa itu bener?”
“Soal apa Kak?”
“Alfa bohong kan soal kalian sudah menikah?”
“Hah?! Itu... Itu..... “
Alfa tiba-tiba saja muncul di belakang Tara.
Elea bangun lalu menghampiri Alfa, “Ada apa ini sebenarnya.”
Mereka berempat kembali duduk di sofa ruang tamu.
“Jadi, kalian beneran udah nikah?”
Alfa merentangkan tangannya di sofa sembari menyilangkan kakinya, “Ya. Kami sudah menikah.”
“Lo bisa sesantai ini?”
“Sayang..... “ Handoyo berusaha menenangkan istrinya yang terlihat syok mendengar berita pernikahan Alfa.
“Dasar berandal! Gue sudah nyiapin kebaya terbaik gue buat hadir di kawinan lo dan lo malah nikah diem-diem!!!” Tara berteriak-teriak karena emosi.
Alfa menutup kedua telingan Elea agar tidak tuli karena mendengarkan teriakan kakak sepupu iparnya itu. Melihat adegan romantis tipis-tipis dihadapannya itu, Tara malah semakin kesal.
“Oke, karena kalian sudah menikah, malam ini kalian harus menginap di sini.”
“Apa? Tapi kenapa? Kami punya tempat tinggal sendiri.”
“Gue pengen ngenal adek ipar gue dengan baik. Selain itu, sudah seharusnya kakak membuat pesta kecil-kecilan untuk menyambut adiknya yang baru menikah.”
Tara pergi ke dapur untuk membuat makan malam. Meskipun tidak yakin bantuannya berguna, Elea tetap saja menawarkan diri untuk membantu Tara memasak di dapur.
“Al, lo gila ya? Kenapa lo bilang sama Tara kalau lo udah nikah? Kan kita sudah sepakat buat ngerahasiain ini sampai Elea lulus sekolah?”
“Istri lo kelewatan Han. Masak dia bilang kalau gue ngga doyan cewek gara-gara gagal move on dari Meca? Emang dia pikir dia siapa sampai gue ngga bisa move on dari dia?”
“Emang beneran udah bisa move on?”
“Sialan lo!”
“Al, gue ngga tahu gimana jadinya kalau Meca beneran nekat ngebocorin pernikahan lo ke media.”
“Tenang aja. Gue tahu betul gimana Meca. Semakin kita yakin semakin dia ragu. Gue berani taruhan, asal lo dan Tara ngga buka suara, gue yakin dia ngga bakal percaya kalau gue dan Elea beneran udah nikah.”
“Terserah lo aja deh, Al. Gue Cuma takut bokap nyokap lo sampai tahu –“
“Cepat atau lambat mereka bakal tahu. Tinggal nunggu waktu aja.”
“Lo beneran ngga pengen nyelametin diri lo sendiri dulu?”
“Maksud lo apa Han? Lo masih minta gue buat nyeraiin Elea kaya pengecut?”
“Gue cuma ngga yakin lo bisa nerima kenyataan kalau lo bakal nyerah sama nyokap lo.”
“Gue Cuma belum berusaha maksimal aja, bukan gagal.”
***
Mereka menikmati makan malam bersama yang telah Tara siapkan bersama Elea. Nasi goreng microwave dan beberapa lauk yang Tara masak sendiri.
“Jangan bilang kalau ini nasi goreng microwave!” tebak Alfa.
“Bini lo Cuma bisa masak pake microwave, mau gimana lagi?”
“Cobain dulu, Tar. Gue jamin lo pasti ketagihan.”
Elea tidak menyangka Alfa justru akan mempromosikan masakannya alih-alih mencibirnya.
“Gue udah putusin kalau gue bakal rahasiain pernikahan kalian berdua. Sebagai gantinya lo harus terima tawaran dari Meca. Lakuin sebagai pengacara profesional! Lo ngga pengen apa beliin bini lo rumah layak huni? Mo sampai kapan kalian tinggal di apartemen sempit lo?”
“Ah, ngga kok, Kak. Apartemen Mas Al bahkan lebih luas dari ruko tempat tinggal aku sama Bapak.”
“Apa?!” sahut Tara dan Handoyo bersamaan.
Mereka sama-sama tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.