My MicroWife

My MicroWife
Introgasi Handoyo (2)



“Jadi lo masih bakal tetap bilang kalau tu cewek adek sepupu lo?” ulang Handoyo sembari mengelilingi seisi apartemen Alfa.


Handoyo memeriksa bagian kamar Elea yang terisi penuh tidak kosong seperti selama ini, kulkas yang penuh dengan es krim dan makanan siap saji, kamar mandi yang penuh dengan perlengkapan mandi cewek dan juga jemuran baju yang memampang deretan pakaian dalam Elea juga di sana.


“Han, plis jangan bahas soal ini lagi! Gue bakal cerita kalau waktunya tepat.”


“Nah, itu dia! Sekarang adalah waktu yang tepat sebelum Tara tahu bahwa lo nyembunyiin cewek di bawah umur di apartemen lo.”


Alfa tidak bisa membayangkan jika Tara yang sudah seperti kakak kandungnya sendiri itu tahu, maka ia akan habis dimaki dan diomeli, dijajah seisi apartemennya lalu diadukan kepada kedua orang tuanya. Itu adalah bagian terburuknya.


“NO! Jangan sampai Tara tahu soal ini!”


“Soal apa?”


“Oke, gue bakal jujur sama lo. Tapi inget ngga boleh ada seorangpun yang boleh tahu soal ini!”


Handoyo menyembulkan jari tengah dan telunjuk kanannya ke udara sembari meringis.


“Apa?! Istri ?!?!” Handoyo tidak percaya dengan cerita Alfa.


Alfa sudah menduga bahwa kakak sepupunya itupun juga tidak akan percaya, sama seperti dirinya yang masih saja sulit mempercayai bahwa ia benar-benar sudah sah menikahi Elea.


“Lo gila?! Elea masih sekolah dan masih di bawah umur. Lo pedofil?!”


“Ati-ati lo kalo ngomong! Jangan sembarangan!”


“Al, lo tahu kan apa konsekuensinya? Sembilan tahun penjara loh, Al. Ngga main-main!”


“Iya gue tahu, makanya jangan sampai ada yang tahu!”


“Al, gue ngga percaya lo ngelakuin ini. Lo pengacara penggaris kayu! Lo paling pantang ngelanggar aturan. Terus kenapa lo mau aja dibodohi dan dipaksa nikahin anak-anak kaya Elea? Ini namanya pemaksaan, Al!”


“Gue emang terpaksa, Han. Gue ngga tega ninggalin Elea sendirian. Dia ngga punya siapa-siapa lagi. Gue ngerasa bahwa sebagai orang dewasa yang punya hati nurani, gue berkewajiban buat ngejaga dan ngelindungin anak-anak rentan seperti dia.”


“Tapi ngga harus dengan cara lo kawinin ka, Al?”


“Tentu. Waktu itu gue juga sudah pikirin banyak cara dan alternatif. Tapi seperti yang udah gue bilang, almarhum ayahnya Elea cuma pengen gue nikahin anaknya sampai dia dewasa dan bisa mengurus dirinya sendiri. Hanya sampai dia menyelesaikan sekolahnya dan cukup umur. Ini ngga bakalan lama. Jadi lo harus bantu gue buat jaga rahasia ini!”


“Ini gila, Al! Kalau sampai terungkap bukan cuma denda dua ratus juta atau penjara sembilan tahun yang nungguin lo. Tapi karir lo sebagai pengacara juga bakalan tamat. Tamat!”


Ting Tong!


“Dapet air mineralnya, El?” Alfa sudah bersiap untuk mendengar amukan Elea.


Tapi bukannya marah, Elea justru terlihat sangat senang. Matanya berbinar-binar dan wajahnya bersemu merah. Ia kemudian menyerahkan kantong berisi air mineral yang Alfa pesan, “Barang di minimarket sana memang beda Kak.”


Gadis itu segera menghilang di balik pintu kamarnya.


“Tu anak sehat kan, Al?”


Lagi-lagi Alfa mengangkat kedua bahunya. Ia juga tidak tahu kenapa anak jaman sekarang sangat sulit ditebak.


***


Setelah Handoyo pulang, banyak hal yang Alfa pikirkan sampai ia sulit untuk tertidur. Semua yang Handoyo katakan benar dan itu pulalah yang mengganggunya selama ini.


Ia bahkan belum sempat memikirkan bagaimana reaksi keluarganya jika mengetahui bahwa ia sudah menikah dengan bocah yang baru berusia tujuh belas tahun dan masih duduk di bangku kelas tiga SMA.


Meskipun selama ini ibunya sangat menginginkan Alfa untuk segera menikah, tapi ia yakin bahwa ibunya tidak akan senang mendengar kenyataan bahwa menantu pertamanya masih bocah ingusan.


Karena tiba-tiba saja mengalami insomnia, Alfa memilih untuk mengecek persiapan hari pertama sekolah Elea. Ia ingat bahwa bet seragam Elea masih belum terpasang.


***


Meskipun semalam Alfa sulit tidur, tapi pagi itu ia sengaja bangun lebih pagi untuk membuatkan Elea sarapan. Sebagaimana yang Alfa tahu, hari pertama sekolah selalu menjadi momen penting bagi setiap anak.


Ia teringat ketika pertama kali masuk SMA dulu, ibunya secara khusus menyiapkan semua keperluan sekolahnya bahkan ikut sopir mengantarnya ke sekolah dengan penuh semangat. Meskipun terdengar kekanak-kanankan, tapi ia sangat beruntung bisa melewati masa-masa seperti itu.


Elea keluar dengan mengenakan seragam barunya dan masih saja dengan kuncir duanya yang kekanak-kanakan.


“El, kamu kan sudah SMA. Apa tidak malu masih dikuncir seperti itu?”


“Kenapa harus malu, Mas?” tanya Elea sembari melahap roti bakar yang sudah Alfa siapkan.


Alfa tidak punya jawaban.


“Baiklah, kalau kau sudah selesai sarapan. Kita bisa langsung berangkat sebelum terlambat karena terjebak macet.”


Elea segera mengemasi mencomot roti selai coklat yang belum habis dimakannya lalu berjalan tergesa-gesa mengikuti langkah Alfa.


Alfa berjalan dengan tegap dan penuh wibawa menuju parkiran. Sementara Elea mengekor di belakangnya dengan membawa banyak makanan di dalam gendongan tangannya.


Tiba-tiba saja langkah Alfa berhenti. Ia penasaran dengan apa yang orang lihat dan bicarakan ketika melihatnya. Ia benci dengan tatapan miring seperti itu. Yakin bahwa penampilannya sudah sempurna dan tidak ada lagi kekurangan yang bisa dicela, ia menoleh ke arah Elea di belakangnya.


Bruk! Elea menabrak Alfa yang tiba-tiba berhenti dan roti selai coklat yang dimakannya sambil jalan menempel ke jas mewah Alfa.


“Kok tiba-tiba berhenti sih, Mas?!” protes Elea dengan mulut yang belum juga berhenti mengunyah.


“What the –“ Alfa terlihat sangat marah namun tetap berusaha menahannya.


Selama di perjalanan, Alfa tidak mengucapkan sepatah katapun. Ia bahkan tidak sedikitpun menoleh kepada Elea.


“Mas! Mas Al masih marah sama aku?”


Alfa tetap bergeming.


“Maafin aku ya Mas. Aku janji ngga bakal makan sambil jalan lagi.”


Alfa baru tahu jika Elea berfikir bahwa ia marah hanya karena makanan. Tapi saat itu ia juga tidak bisa menjelaskan bahwa ia tidak suka dengan sikap kekanak-kanakannya yang selalu membuatnya malu di hadapan orang lain.


Terlebih lagi pagi itu ia ada pertemuan penting dengan salah satu klien pentingnya dari Yusar Group. Dan Elea baru saja mengacaukan penampilan paripurnanya dengan noda selai coklat. Sehingga Alfa memilih untuk tetap diam.


Sesampainya di sekolah, Elea mencium tangan Alfa sebelum turun dari mobil. Alfa cukup kaget dengan sikap tak terduga istri kecilnya itu tapi ada desir aneh yang terlintas di hati Alfa.


Ia merasa bahwa apa yang baru saja Elea lakukan terhadapnya merupakan suatu hal yang istimewa dan menyenangkan. Hal baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


“Sial!”


Alfa bergegas memacu mobilnya begitu melihat Elea turun dari mobil dan melakukan hal yang sama kepada guru yang sedang berdiri di depan gerbang sekolah, kepala sekolah yang baru tiba bahkan security yang kebetulan sudah mulai beruban.


Ketika berhenti di lampu merah, Alfa baru ingat bahwa ia belum memberi Elea uang saku. Gadis pemakan segala itu hanya sempat makan sehelai roti bakar tadi. Bagaimana ia bisa bertahan sampai siang hari tanpa uang sepeserpun?


Alfa segera memutar balik mobilnya. Tapi sungguh sial, gerbang sekolah sudah di tutup dan semua siswa sudah berbaris rapi di halaman sekolah. Apa boleh buat?


*****