My MicroWife

My MicroWife
PMS (2)



Elea berguling-guling di tempat tidurnya menahan rasa nyeri di perutnya. Tak lama kemudian Alfa datang dan menghampirinya di kamar.


“El, kamu kenapa? Kita ke rumah sakit aja ya?”


Elea menahan tangan Alfa, “Ngga usah, Mas. Aku rapopo.”


“Ngga papa gimana? Kamu kesakitan kaya gini.”


“Mas Al mau tolongin aku?”


“Apa?”


***


Alfa tidak tahu pembalut yang seperti apa yang harus ia beli. Semakin ia membaca keterangan produk yang ada di kemasan, semakin ia bingung untuk memilih.


Seorang pramuniaga rupanya memperhatikan Alfa yang cukup lama berdiri di depan rak berisi deretan pembalut wanita.


“Ada yang bisa saya bantu, Pak?”


“Ah, iya.. sebenarnya saya mencari pembalut untuk anak gadis berusia lima belas tahun. Tingginya sekitar seratus enam puluh centi dan berat badannya –“


“Maaf Pak, Bapak mau cari pembalut atau popok bayi?” pramuniaga itu terkekeh.


“Lalu kenapa banyak sekali jenis dan merek yang ada di sini?”


“Bapak hanya perlu memilik apakah memakai sayap atau tidak? Panjang dua puluh tiga, dua puluh sembilan atau tiga puluh lima centi? Dan mau yang isi berapa?”


Karena tidak tahu harus memilih yang seperti apa, maka Alfa memutuskan membeli beberapa jenis dan ukuran. Lalu ia juga membeli beberapa deterjen bubuk dan produk lain untuk menutupi pembalut tersebut.


“Mas! Mas Al mau buka toko pembalut? Kenapa banyak banget?”


“Karena aku ngga tahu kamu mau yang mana.”


“Astaga..”


Elea kemudian merasa lebih baik setelah Alfa membuatkannya secangkir teh hangat.


“Darimana Kak Al tahu kalau aku pulang lebih awal karena sakit?”


“Oh.. Itu.... mmmm, Bu Rosita yang memberitahuku.”


“Oh, Bu Ros rupanya.” Elea meneguk tehnya lagi.


“Apa kau yakin baik-baik saja?”


Elea mengangguk, “Sudah kubilang kalau aku ngga papa. Sudah biasa kalau cewek kesakitan waktu menstruasi.”


“Tapi kenapa?”


“Mungkin karena jarang olahraga, jadi peredaran darahnya kurang lancar” Elea hanya asal tebak dan cengar-cengir sendiri.


“Kalau begitu aku akan mengajakmu lari pagi setiap hari, bermain bulu tangkis di hari sabtu dan berenang di hari minggu.”


“Ah, itu.. ngga perlu Kak. Pertama, aku ngga terbiasa bangun pagi, kedua aku ngga suka lenganku pegal-pegal dan ketiga aku ngga bisa berenang.”


“Oke, aku bisa terima kalau kau menolak lari pagi dan bulu tangkis. Tapi untuk renang, aku harus mengajarimu. Kamu harus dan wajib bisa berenang! Ini perintah!”


“Tapi kenapa?” Elea tidak mengerti kenapa tiba-tiba saja ada aturan seperti itu.


“Aku ngga mau kejadian waktu itu terulang lagi.”


Elea tertawa, “Ngga bakalan. Kak Erika ngga bakalan berani ngedorong aku ke kolam lagi gara-gara Kakak panggil orang tuanya buat minta maaf.”


“Dan satu lagi, besok kamu ngga perlu datang ke sekolah. Aku sudah minta ijin ke Bu Rosita. Jadi ngga ada masalah.”


***


Hari itu Alfa sengaja mengambil cuti untuk menemani Elea yang sedang sakit dan libur sekolah. Lagipula ia merasa sangat jengah dengan permasalahan yang dihadapinya belakangan ini. Terutama soal pembatalan kontrak kerjasama yang dilakukan Yusar Grup gara-gara campur tangan mamanya.


“Mas Al ngga ngantor?”


“Ngga, lagi pengen istirahat aja. Kamu gimana? Dah baikan?”


“Udah, mumpung lagi libur, gimana kalau kita masak-masak dan beres-beres rumah bareng-bareng? Udah lama ngga beberes rumah.”


“Boleh juga.”


Sejak pagi kedua sejoli disibukkan oleh kegiatan memasak, lalu bersih-bersih rumah sampai mencuci dan setrika pakaian. Siang harinya mereka sepakat untuk istirahat sebelum pergi keluar untuk jalan-jalan santai nanti sore.


Tak lama kemudian Ruri dan Niken datang untuk mengerjakan tugas kelompok yang diberikan oleh guru bahasa inggris mereka sekaligus menengok Elea yang katanya sedang sakit.


“Selamat siang, Om. Apa benar Elea tinggal disini?”


“Ah iya benar. Kalian ini?”


“Saya Niken dan ini Ruri. Kami teman sekolahnya Elea.”


“Oh, jadi kamu teman sekelas Elea?” tanya Alfa kepada Ruri yang pernah ditemuinya di rumah makan waktu itu.


“Elea ngga pernah cerita?” Ruri balas bertanya kepada Alfa.


“Oh ya, silakan masuk. Elea sedang istirahat di kamarnya. Silakan duduk dulu biar saya panggilkan Elea.”


“Niken! Ruri! Aku seneng banget kalian mau mampir kesini.”


Elea memeluk kedua sahabatnya seakan sudah sangat lama tidak bertemu.


“Lebay lo, El.” Ruri berusaha melepaskan pelukan Elea di depan Alfa


“El, lo sudah baikan?” tanya Niken sembari membimbing Elea menuju sofa


Elea sadar bahwa Alfa terus saja mengawasi kelakuan mereka dari meja makan yang berjarak beberapa meter saja dari ruang tamu.


“Mas!”


“Ya?”


“Boleh tolong belikan kami minuman?”


“Apa?”


“Di minimarket tapi dekat perempatan ya?"


“Apa?”


'Sial ni bocah sengaja banget ngebales gue! Awas aja ya!' batin Alfa


Alfa terpaksa pergi dan membiarkan mereka bebas menggunjungnya.


***


“Emang sakit lo parah banget ya, El? Sampai-sampai ijin ngga masuk segala?” Tanya Niken.


“Ngga sih, udah ngga papa. Mas Al aja yang lebay dan ngga ngebolehin aku masuk sekolah.”


“El, kalian tinggal berdua aja?” tanya Niken dengan polosnya


Elea mengangguk ragu, “Emang kenapa?”


“Ngga papa sih, agak aneh aja cewek sama cowok tinggal berdua aja di apartemen kaya gini padahal kalian bukan saudara kandung.”


Ruri berusaha menyembunyikan tawanya dari Niken. “Emang aneh gimana, Ken?”


“Emang kamu ngga punya sodara lain selain dia di Jakarta?”


Elea menggeleng.


“Meskipun Alfa itu kakak lo, tapi kalian tinggal berdua aja tuh ngekhawatirin banget loh, El. Apa mending lo pindah ke rumah gue aja sampai nemu tempat lain yang pas buat lo?”


Tawa Ruri meledak membuat Niken heran sejaligus penasaran, “Apanya yang lucu, Ri?”


“Oh, ngga. Ngga ada yang lucu. Gue lagi nonton ini loh story-nya temen gue. Konyol banget.” Elak Ruri berbohong.


“El, biarpun ganteng dan baik hati, tapi Kak Al itu orangnya dingin banget, tatapannya bikin gue merinding. Kalau lo sampai bikin dia marah, bisa aja kan dia ngapa-ngapain lo?”


“Kamu ngaco deh! Udah ah, jangan su’udzon mulu. Meskipun jutek dan kaku, Mas Al itu baik banget.”


“Tapi lo nyadar ngga kalau perhatiannya tu terlalu berlebihan untuk ukuran kakak yang peduli kepada adiknya. Pokoknya mulai sekarang gue bakal selalu awasin kalian berdua. Gue cuma pengen pastiin kalau Kak Al ngga bakal macem-macem sama kamu.”


Lagi-lagi Ruri tertawa terpingkal-pingkal.


“Ruri, come on! Stop it.”


“Iya, iya. Sori El. Gue bener-bener ngga bisa nahan tawa gue. Oh ya El, mumpung inget. Nih! Tadi gue temuin di laci meja lo.”


Ruri menyerahkan sebuah amplop berisi tulisan 'Sabtu, jam 5 sore di taman kota'.


“Dari siapa? Ngga ada nama pengirimnya.”


“Mana gue tahu? Tadi gue lihat ada di laci lo, karena Niken maksa gue ikut ke sini, jadi sekalian aja gue bawa.”


“Apa mungkin dari Kak Davian? Gue yakin dia pengen ngajakin lo kencan tapi ngga berani ngomong langsung. Takut ketahuan Kak Erika.” Tebak Niken


“Masak, sih? Kan dia bisa minta nomer aku. Ini sudah era milenial, masa iya masih pake surat-suratan segala?” Elea tersipu malu membayangkan bahwa benar Davian yang mengajaknya bertemu di taman kota.


Tak lama kemudian Alfa datang membawa sekantong makanan dan minuman ringan.


“Cepet banget, Mas?”


Ting Tong.


Bel apartemen berbunyi. Elea membukakan pintu dan ternyata seorang petugas kebersihan yang bekerja di apartemen itu.


“Maaf Pak Al, ada yang ketinggalan.” Pria itu menyerahkan sekantong belanjaan lagi kepada Alfa.


Alfa mengambil kantong belanjaannya, “Makasih ya Pak?”


“Ada lagi yang bisa saya bantu Pak Al?”


Alfa menggeleng lalu pria itu pergi.


Ruri tiba-tiba saja tersedak lalu bergegas pamit pulang. “El, tugas kelompoknya kita kerjain via daring aja yah? Ntar gue hubungin elo kalau dah sampe rumah. Gue cabut dulu.”


“Loh, kok buru-buru sih?” tanya Elea dan Niken bersamaan.