My MicroWife

My MicroWife
Awal yang Baru



Elea tidak menyangka bahwa ia akhirnya bisa kembali ke apartemen itu setelah sekian lama. Ia begitu merindukan semua kenangan yang ada di dalam apartemen sederhana itu.


Elea membawa barang-barangnya masuk ke dalam kamarnya tapi Alfa menahannya dan membawanya masuk ke dalam kamar milik Alfa.


“Mulai sekarang, ini kamar kita.”


“Kita? Memangnya kita ini siapa?”


Alfa tertunduk lesu. Ia kembali teringat bahwa mereka berdua sudah bercerai dan sekarang bukan suami istri lagi.


Elea menarik barang-barangnya dan membawanya masuk ke dalam kamarnya sendiri. Tak lama kemudian Alfa datang menghampiri Elea.


“Ngga bisa kaya gini, El. Hari ini juga kita bicara sama Papa Mama. Aku mau kita nikah sekarang juga.”


“Mas Al ini apa-apaan sih? Kaya anak kecil aja. Sepertinya benar kata orang, makin tua usia seseorang jadi makin kaya anak kecil lagi.”


“Apa? Tua?! Bisa-bisanya kamu ngomong kaya gitu, El?”


********


Malam itu, keluarga besar Erlita kembali mengadakan makan bersama di rumah induk untuk menyambut kedatangan Kinara sebagai anggota keluarga baru mereka.


Alfa dan Elea datang dengan pakaian yang sangat serasi dan kali itu, Alfa dengan bangga dan lantang memperkenalkan Elea sebagai calon istrinya, bukan lagi sebagai teman Arka dan itu membuat seisi rumah tertawa.


Jihan dan Nasya kembali berkangen-kangen ria dengan Elea. Obrolan jadi semakin panjang karena sudah tiga tahun mereka tidak bertemu satu sama lain.


Erlita kemudian menghampiri Elea yang sedang duduk sendiri karena Jihan sedang ke toilet dan Nasya pergi mengambil minuman.


“El, gimana kabar kamu?”


“Baik, Tan. Tante sendiri apa kabar?”


“Baik. Kami semua baik kecuali Alfa. Dia hidup seperti zombi sejak kamu pergi.”


Elea tertawa. “Tante bisa aja.”


Erlita meraih tangan Elea. “Tante mau minta maaf sama kamu, El. Tante sudah sangat egois dan memaksa Alfa menikahi gadis yang tidak pernah ia cintai. Tante juga membuat hidup kamu sulit.”


“Jangan ngomong gitu, Tan. Justru berkat tante, Elea bisa kuliah di luar negeri, mendapat banyak pelajaran berharga dan kembali dengan bangga.”


“Tante mohon agar kamu tidak pergi lagi, El. Alfa membutuhkan kamu. Tante akan segera mempersiapkan pernikahan kalian.”


Alfa tiba-tiba datang dan memeluk mamanya. “Makasih ya,Ma. Alfa seneng karena Mama akhirnya tahu apa yang Al pengen.”


“Umur kamu sudah banyak tapi kelakuan kamu masih aja kaya anak kecil, Al.”


“Tuh kan! Apa aku bilang? Bener kan? Mas Al tuh kaya anak kecil.”


“Enak aja!”


********


Erlita serius dengan ucapannya. Ia sibuk mempersiapkan pernikahan putra pertamanya yang akan digelar pada tanggal lima mei tahun dua ribu dua puluh lima. Kali ini Alfa tidak lagi memberikan uang tiga jutaan sebagai mas kawin melainkan lima ribu lima ratus dua puluh lima euro, seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan mewah. Iajuga sebuah mobil dan rumah sebagai hadiah pernikahan.


Pesta pernikahan mereka digelar tak kalah mewah dengan milik Arka dan Kinara karena malam itu juga merupakan ajang bagi Nafan untuk memperkenalkan penerusnya kepada publik.


Setelah menikahi Elea, Alfa setuju untuk meneruskan bisnis milik keluarga besarnya. Alfa melepaskan satu impian besarnya untuk menjadi pengacara demi bisa bersanding dengan Elea dan mengemban takdir yang sudah sejak lahir dituliskan atas namanya.


Sementara itu, Elea menghabiskan waktunya untuk melukis dan mengelola galery seni Susbihardayan yang selama ini dikelola oleh Erlita. Ia juga sesekali menjadi guru tamu di kampusnya dulu, Akademi Seni SH.


Elea merasa sangat bangga bisa kembali kesana sebagai orang yang berbeda. Bukan lagi gadis lugu yang tidak tahu apa-apa tapi sebagai seorang pelukis profesional yang dihargai dan dihormati semua orang.


Elea meletakkan medali yang pernah diperolehnya dulu ke dalam salah satu lemari kaca yang ada di ruang dosen Akademi Seni SH. Ia juga menambahkan tulisan tangannya ‘for the next champion’ diatasnya.


******


Hari itu, Alfa mengadakan pesta kejutan di rumah barunya. Ia mengundang beberapa orang tanpa sepengetahuan Elea. Ketika pulang, rumahnya sudah sangat ramai dan ia melihat beberapa wajah yang sudah sangat lama dirindukannya, Niken, Ruri, Davian, Nita, Handoyo, Tara dan tentu saja pasangat pengantin baru Arka dan Kinara.


Elea bercengkrama dengan teman-teman lamanya. Mereka bersafari melihat-lihat isi rumah baru Alfa dan Elea yang yang sangat nyaman meskipun tidak sebesar rumah di jalan cemara.


“Gue seneng banget lo akhirnya bisa beneran nikah sama Kak Al, El.”


“Maksud lo dulu mereka ngga beneran nikah?” tanya Ruri menggoda Niken.


“Iya maksud gue – Ahm gue ralat. Gue seneng lo akhirnya bisa nikah lagi sama Mas Al.”


“Lagi, emang mereka pernah cerai?” goda Ruri lagi.


“Lah kan emang pernah cerai?” tanya Niken dengan polosnya.


“Mana ada mantan suami istri yang tidur bareng di depan sofa di negri orang?” tanya Ruri dengan nada menyindir.


“Maksud kamu apa sih? Waktu itu kami Cuma ketiduran bareng karena kelekahan. Ngga terjadi apa-apa kok. Kami bangun dengan pakaian utuh dan rapi.” Bela Elea.


“Tapi kok, cerita Mas Al ngga kaya gitu yah? Coba deh lo inget-inget lagi...” goda Ruri lagi.


“Gue ngga mabok, Ri! Masa iya gue ngga sadar kalau lagi begituan?”


“Begituan apa maksudnya?” tanya Niken dengan polosnya.


“Mau tau aja ni anak kecil!” ledek Ruri.


“Enak aja! Kita seumuran tau.”


“Kalau gitu buruan nikah! Biar tahu apa yang gue omongin.”


“Sialan lo, Ri.”


“Hahahaha...”


******


Malam itu setelah semua tamu pulang, Elea masih saja penasaran dengan apa yang Ruri katakan. Jadi ia memberanikan diri untuk bertanya kepada Alfa.


“Mas, apa bener, malam itu di apartemen kita ngelakuin itu?”


“ngelakuin apa?” tanya Alfa dengan santainya.


“Ya itu... “


“Itu apa? Yang jelas dong!”


‘Ngga mungkin. Ruri pasti mengada-ada.’


“El?”


“Ngga jadi. Lupain aja.” Elea buru-buru pergi tapi Alfa berhasil menangkapnya dan memeluknya dari belakang.


“Ngelakuin apa?” bisik Alfa di belakang telinga Elea. “Malam panas?”


“Ngga mungkin, kan? Masa iya aku ngga ngerasain dan ngga inget apa-apa?”


“Oh, jadi kamu pengen diingetin kaya apa rasanya?”


“Ih, Mas Al apaan sih? Udah ah, aku mau mandi. Gerah!”


“Permulaan yang bagus untuk sebuah malam panas.” Bisik Alfa lagi


Dan Elea buru-buru pergi sebelum wajahnya terbakar karena malu.


Bahkan setelah mandi, jantung Elea masih saja berdetak tak karuan membayangkan bagaimana ia akan menghabiskan malam-malamnya bersama Alfa. Meskipun sudah berkali-kali melakukannya, tapi Elea selalu saja merasa gugup setiap kali sadar hendak melakukannya lagi.


Dan Alfa memilih untuk melewatkan momen seperti itu. ia memilih saat yang tepat ketika istrinya sangat menikmati suasana dan tanpa merasa gugup sedikitpun menikmati setiap kecupan manis yang diberikannya dengan lembut seperti malam itu di Milan.