
Sepulang dari Polsek, Alfa mampir ke rumah Handoyo. Sementara Arka dan Elea sudah pulang lebih dulu dengan mengendarai motor.
“Lo yakin mau bawa Elea pulang?” tanya Handoyo.
“Sayang, kalau Al yakin, dia ngga bakal datang kesini dengan wajah galau kaya gitu.” Ujar Tara geram sambil mencubit perut suaminya yang lugu itu.
Alfa meminum minuman yang dibuatkan Tara.
“Al, gimana kalau Elea tinggal disini aja buat sementara waktu?” tanya Handoyo lagi.
“Kalau pilihannya cuma disini, mending Al beli apartemen baru yang jauh dari jangkauan preman-preman itu.” lagi-lagi Tara merasa kesal dengan keluguan dan ketidakpekaan suaminya.
Alfa akhirnya tersenyum, “Gue ngga tahu sejak kapan lo jadi cenayang yang bisa ngebaca isi pikiran gue, Tar.”
“Al, sebenarnya dari sekian banyak orang yang gue kenal, elo adalah orang yang paling gampang ditebak. Hidup lo lempeng kaya penggaris kayu dan lo ngga pernah berbuat ataupun berpikir antimainstream. Jadi gue bisa maklum kalau hidup lo ngga ada seninya. Lihat aja, Arka yang baru beberapa hari kenal Elea bisa langsung membuat cewek itu nyaman, bersemangat, banyak senyum –“
Alfa tiba-tiba saja mengambil jasnya yang tergeletak di sofa lalu buru-buru pergi tanpa pamit. Ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
****
Brak!
Pintu Apartemen tiba-tiba saja terbuka dan Alfa yang masih terengah-engah melihat Elea sedang duduk di meja makan berhadapan dengan Arka seperti biasanya.
"Mas Al? Mas Al kenapa?”
Elea menghampiri Alfa yang datang dengan cara tidak biasa. Ia kemudian membantu Alfa duduk di kursi dan memberinya segelas air putih.
“Apa terjadi sesuatu?” tanya Elea serius.
Dan Arka hanya menatapnya tajam penuh tanda tanya.
Alfa kemudian bisa mengatur nafasnya, ia benar-benar merasa lega bahwa apa yang dikhawatirkannya tidak terjadi. Ia berdiri lalu masuk ke dalam kamarnya tanpa penjelasan.
Elea masih merasa bingung dan penasaran.
“Apa kakakmu selalu bersikap aneh seperti itu?”
Arka menaikkan kedua alisnya, “Dia hanya bersikap gila karena mengkhawatirkan hal-hal yang mengganggu pikirannya. Jika ia kemudian kembali bersikap normal, maka itu berarti kekhawatirannya tidak terbukti.”
“Kalian benar-benar susah dipahami.”
“Dengar! Kalau lo sulit memahami pemikiran banyak orang, maka sebaiknya lo cuma fokus ke gue aja. Gue sangat terbuka dan mudah ditebak. Jadi lo ngga perlu mikir terlalu rumit buat mahamin.” Arka kembali mengulas senyum mautnya yang selalu mampu melelehkan puncak jaya wijaya.
“Apa Mas Arka juga selalu segombal ini kepada semua wanita?”
“Apa? Gombal? Gue lagi ngomong seriusan dan kau mengatain gue gombal? Apa sesulit itu lo mahamin gue?”
“Apaan sih, Mas. Ngga jelas!” Elea meninggalkan Arka lalu masuk ke dalam kamarnya.
***
Mereka bertiga kembali berkumpul saat makan malam. Ada banyak hidangan restoran yang tersaji di atas meja.
“Lo ngebeli makanan sebanyak ini?”
“Kak, gue juga tinggal sendiri kaya elo. Tapi gue terlalu sibuk buat masak-masakan kaya elo. Jadi biar lebih simple gue beli aja di resto favorit lo.”
“Favorit? Mas Al pernah makan disana?” tanya Elea dengan lugunya.
“Lah, emang lo ngga tahu? Itu resto-“ belum sempat Arka menyelesaikan ucapannya, Alfa sudah lebih dulu menendang kaki Arka.
“Aduh! Apaan sih lo, Kak? Main tendang-tendang aja. Sakit tau!” Arka mengusap-usap kakinya yang baru saja ditendang Alfa.
“Mas Al tahu ndak? Ini makanan harganya mahal-mahal semua. Aku sampai ndak tega mau makannya.”
“Mumpung Arka traktirin kita, mending kita habisin semua aja, El. Kalau perlu habis ini, kita porotin dia buat belanjaain semua kebutuhan kita.”
“Belum tahu aja lo, El. Abang gue ini dulunya lebih jahat dari ini. Karena gue udah gede dan ganteng gini aja dia baru mau baek-baekin gue.”
Elea kembali tertawa mendengar perkataan Arka. Dan sepertinya Tara benar, Arka selalu bisa membuat gadis itu tertawa dan riang.
“Malam ini kita ngga bisa belanja. Lo mesti packing baju dan keperluan lo. Besok pagi-pagi kita berangkat. Kalau sudah sampe rumah, gue bakal anterin dan traktirin kemanapun dan apapun yang lo mau.”
“Beneran nih, Mas Arka? Apapun dan dimanapun?”
“Percaya aja kamu, El, sama mulut manisnya ni bocah.”
“Emang mestinya ngga percaya ya, Mas?”
“Ya, nggaklah! Tong kosong nyaring bunyinya.” Jawab Alfa singkat, jelas dan menjengkelkan bagi Arka.
“Lo juga mesti tahu, El. Air tenang menghanyutkan.” Kata Arka tidak mau kalah.
“Yang aku tahu nih yah, kalian berdua itu setali tiga uang.”
“Hahaha... Betul! Betul! Betul!... “
***
Setelah beres-beres barang bawaan mereka, Arka terlihat kelelahan dan tertidur di kamar Alfa. Melihat Arka sudah tertidur pulas, Alfa memutuskan untuk tidur di sofa malam itu. Ia tidak tahu apakah bisa kembali ke apartemen itu lagi bersama Elea.
Ia bahkan tidak bisa membayangkan apakah ia masih bisa leluasa memperlakukan Elea layaknya seorang istri di hadapan kedua orang tuanya.
Alfa mendengar pintu terbuka dan ternyata Elea baru saja keluar dari dalam kamarnya.
“El? Belum tidur?”
“Mas Al sendiri juga belum tidur?”
“Mau jalan-jalan sebentar?”
Mereka mendatangi roof top di atas apartemen yang mereka tinggali.
“Kenapa aku baru tahu ada tempat senyaman ini setelah aku mau pergi?” tanya Elea.
“Maaf, karena aku tidak tahu kalau kau juga akan menyukai tempat ini. Dulu pertama kali aku memutuskan untuk membeli apartemen di sini juga karena rooftop ini.”
“Hah?”
“He’em, aku berkeliling mencari rumah dan apartemen tapi aku tidak menemukan satupun tempat yang nyaman untuk bersembunyi. Pertama kali aku datang ke apartemen ini, setiap malam aku duduk dan menghabiskan waktu di sini. Karena merasa nyaman, setiap kali ingin pergi jauh tapi tidak tahu harus kemana, aku kesini. Dan aku akan kembali turun dalam keadaan lebih baik.”
“Apa Mas Al juga pernah mengalami masa-masa seperti itu? Saat dimana kita ingin pergi jauh tapi tidak ada tempat tujuan?”
Alfa mengangguk, “Apa kau juga berfikir bahwa aku tidak pernah punya masalah?”
Elea menggeleng, “Sampai saat inipun, aku yakin Mas Al punya banyak hal untuk dipikirkan. Kalau Mas Al ngga tahu harus kemana, maka Mas Al harus selalu ingat kalau sekarang ada aku. Mas Al boleh ngomongin apapun dengan nyaman.”
Alfa memeluk tubuh mungil Elea. Ternyata gadis itu tumbuh dengan cepat. Sekarang tidak hanya mejadi lebih tinggi, tapi juga lebih pandai bicara dan menata rambut. Ia bukan lagi Elea yang suka menguncir dua rambutnya dan meniup poninya yang mengenai mata karena terlalu panjang.
“El, Mama dan semua keluargaku belum tahu bahwa kita menikah. Apakah tidak masalah jika kita merahasiakannya untuk sementara waktu?”
Elea mengangguk yakin, “Tentu saja! Aku juga ingin kuliah dan kerja dengan tenang.”
Alfa merasa sedikit lebih lega, tapi bukan lagi karena angin malam yang membawa pergi semua keluh kesahnya, melainkan karena Elea yang justru bersedia menampung semua kegalauannya.
“Apa tadi kalian benar-benar tidak melakukan apapun?”
Elea menarik tubuhnya dari pelukan Alfa. “Maksud Mas Al apa?”
“Selama aku tidak ada di rumah dan kalian hanya berdua saja, ngga terjadi apa-apa kan?”
Elea menendang kaki Alfa seperti yang dilakukan Alfa kepada Arka tadi, lalu meninggalkan Alfa sendirian dan kembali masuk ke dalam kamarnya.