My MicroWife

My MicroWife
Si Ramah Arkana (2)



Tidak seperti kakaknya, Arka sangat pemilih dalam hal makanan. Meskipun sudah dimasakkan ayam goreng yang sangat enak oleh Alfa dan Elea, ia tetap saja tidak mau makan.


“Apa kalian sudah lama tinggal bersama?” tanyanya sambil mengamati Alfa dan Elea yang tengah menikmati ayam goreng hasil karya mereka.


“Hampir satu tahun.” Jawab Alfa singkat sambil terus mengunyah ayam goreng.


“Lo yakin lo cowok normal, Kak?”


Alfa melayangkan tatapan setajam pisau ke arah Arka sampai Arka tersedak dan salah tingkah sendiri.


“Sori, sori! Gue ngga habis pikir aja, kok kalian bisa tahan sampai selama itu.”


“Maksud Kak Arka apa?”


“Mas!” koreksi Arka


“Hah?”


“Karena kau memanggil kakak gue dengan sebutan Mas Al, jadi lo juga harus memanggil gue dengan sebutan Mas Arka.” Arka kembali menyunggingkan senyum manisnya.


“Tapi –“


Alfa benar-benar kesal dengan tingkah adiknya yang satu itu. Tapi toh dia tidak bisa melarang ataupun melakukan tindakan lain yang akan membuat Arka curiga pada hubungan mereka.


Elea melirik ke arah Alfa untuk meminta persetujuan. Tapi sepertinya pria itu hanya fokus pada makanannya dan tidak mempedulikan apapun juga.


“Oh ya, El. Lo udah punya pacar?" tanya Arka lagi.


Alfa langsung tersedak setelah mampu bertahan cukup lama dengan gaya makan anggun dan kakunya.


“Kenapa lo?”


Alfa menggelengkan tangan kanannya. Lalu Arka kembali melanjutkan introgasinya kepada Elea.


“Kalau lo belum punya pacar, gimana kalau lo pacaran sama gue aja?”


“Apa?”


Batuk Alfa kian parah sampai akhirnya ia harus lari ke dalam kamar mandi untuk menenangkan diri.


***


Sesi ramah tamah dan makan malam di rumah berakhir dan Alfa memutuskan untuk mengantar Arka makan di restoran favoritnya agar ia tidak terus-terusan menggoda Elea.


“Wah, restonya mewah banget?” tanya Elea terpesona.


“Dia tidak akan bisa makan kalau buka di tempat bagus atau masakan koki pilihannya.” Alfa berusaha menjelaskan kebiasaan aneh adiknya dan Elea hanya tertawa karena menganggap penjelasan Alfa sebagai bahan candaan.


“You are what you eat. Jadi apa yang masuk ke dalam tubuh kita itu penting karena menentukan siapa kita.” Jelas Arka menyanggah tuduhan kakaknya.


“Hah?!” Mata Elea seketika terbelalak melihat harga yang tertera di daftar menu.


“Kenapa, El?” Tanya Arka khawatir.


“Mas Arka mau makan nasi goreng seharga empat ratus ribu dan es teh seharga seratus lima puluh ribu?”


“Kenapa?” tanya Arka tidak mengerti dimana salahnya.


“Mas itu bisa untuk jajan es teh dua bulan.”


Dan Alfa tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Elea.


Arka tidak tahu bahwa Elea belum pernah melihat menu yang harganya di atas itu. “Jadi lo mau pesan apa?”


“Ngga jadi, Mas. Aku udah kenyang."


“Kami sudah kenyang karena makan ayam goreng tadi. Lo pesen aja biar gue ajak El jalan-jalan di luar sebentar. Dia belum pernah ke sini sebelumnya.”


Alfa mengajak Elea makan wafel es krim dengan saos karamel tidak jauh dari resto langganan Arka itu. Ia sengaja memesan satu porsi agar bisa dimakan berdua dengan Elea. Ia sedang ingin beromantis-romantis ria dengan istrinya.


****


Sesampainya di rumah Arka mengajak Elea ngobrol bersama sambil nonton film di ruang tamu. Arka terlihat berusaha keras untuk mengenal dan mendekati Elea dengan gombalan-gombalannya yang membuat Alfa mual.


“Gue bakal ambil spesialisasi bedah plastik rekonstruksi dan estetika. Biar lo ngga repot kalau pengen cantik kaya artis korea.”


“Hahaha.. bisa aja, Mas.”


Merasa tidak tertarik dengan obrolan mereka, Alfa memutuskan untuk masuk ke kamarnya.


“El, sudah malam. Buruan tidur.”


“Oke, Mas!”


Namun setelah Alfa masuk ke kamarnya Arka justru meminta Elea menemaninya minum kopi yang sudah dibuatnya.


“Tapi, Mas, aku ngga bisa minum kopi.”


“Dikit aja, El. Ini kopinya cuma setengah sachet dan udah aku tambahin dua sendok creamer. Aman!”


Elea tidak enak menolak tawaran Arka dan akhirnya menyeruput kopi krim yang dibuatkan Arka. Karena sudah sangat lama tidak minum kopi dan entah kenapa kopi buatan Arka terasa sangat enak sampai Elea tidak sadar kalau sudah menghabiskan seluruh isi cangkrinya.


Elea tahu bencana akan segera tiba. Tapi malam itu ia tidak merasa terlalu buruk karena Arka bersedia menemaninya bergadang semalaman. Mereka membicarakan banyak hal sambil menonton puluhan film di tivi berlangganan mereka.


Arka kemudian tahu bahwa Elea sangat pandai menggambar dan melukis, paling payah dalam pelajaran matematika, tidak bisa berenang dan paling suka kelas taekwondo.


“Jadi, gimana ceritanya lo bisa sampai ngekos di sini?"


“Bapak meninggal setelah aku kelas dua SMA. Aku kemudian pindah ke kota untuk melanjutkan sekolah karena terlalu berat melanjutkan hidup sendiri di tempat yang memiliki begitu banyak kenangan.”


“Trus gimana kalian bisa ketemu?”


“Mas Al kebetulan sedang mencari seseorang yang akan menjadi saksi dalam kasusnya. Orang itu tinggal di kampungku dan aku membantunya menemukan orang itu.”


“Oh, jadi karena hutang budi, Kak Al ngijinin lo tinggal disini?”


Elea mengangguk.


“Oh begitu rupanya.”


Mereka terlihat sangat akrab dan tak jarang saling cekikikan menertawakan banyak hal. Alfa yang juga tidak bisa tidur karena gelisah mulai merasa terganggu karena Elea belum juga tidur padahal sudah hampir pagi. Tapi jika dia tiba-tiba saja keluar dan memaksa Elea tidur, Arka pasti akan curiga. Sehingga Alfa memilih untuk tetap diam di kamar dan berpura-pura tidur.


*****


“Kak lo langsung ke kantor aja. Biar gue yang anterin Elea ke kampus. Gue udah booking motornya Pak Arif.”


Sudah menjadi kebiasaan Arka untuk selalu menyewa motor milik salah satu petugas keamanan apartemen setiap kali tinggal di tempat Alfa.


Bukan karena dia tidak pandai mengendarai mobil atau tidak punya mobil, hanya saja ia lebih senang bersikap normal dengan motor setiap kali jauh dari rumah.


Lagi-lagi Alfa tidak bisa melarang dan membiarkan saja keduanya pergi berboncengan dengan motor ke sekolah.


"El, jadi lo kuliah disini?"


Elea mengangguk dan menyerahkan helm kepada Arka, "Kenapa Mas?"


"Kak Al tahu?"


"Ya tahulah. Dia kan wali aku. Mana mungkin ngga tahu."


"What?!"


"Kenapa, Mas?"


"Ngga papa. Tapi sejauh ini kuliah lo aman-aman aja kan El?"


Elea curiga dengan sikap Arka yang aneh tapi ia memilih untuk berfikir bahwa Arka kagum dengan kemewahan Akademi Seni SH tempatnya kuliah. "Kalau gitu aku masuk dulu ya, Mas?"


"Taka care!"


Setelah Elea menghilang dari pandangannya, Arka buru-buru pergi dari sana sebelum bertemu orang-orang yang mungkin akan langsung mengenalinya.


'Ada apa ini sebenarnya? Apa Elea sengaja ngedekitin Kak Al supaya bisa masuk Akademi Seni SH? Tapi mengetahui bakat melukis Elea, nggaungkin dia ngelakuin hal serendah itu. Lalu apa mama tahu soal ini?'


Banyak hal yang mengganggu pikirkan Arka dalam perjalannya.