My MicroWife

My MicroWife
PMS (1)



“El, darimana?”


“Dari bawah, Mas. Tadi ada orang yang kunci mobilnya ketinggalan di mejanya Kak Rosa. Jadi aku anterin sampe bawah.”


“Siapa?”


“Ngga tau. Cowok lima puluhan, tingginya segini, rambutnya agak ikal beruban di sebelah sini.”


Elea mengambil selembar kertas lalu membuat sketsa kasar wajah pria yang ditemuinya tadi.


“Ini. Mobilnya mercy hitam nopol belakangnya AA.”


Raut wajah Alfa berubah seketika.


“Loh, Mas, mau kemana?”


***


“Pak Al?”


“Jadi selama ini lo yang jadi mata-mata nyokab gue?” Alfa melempar sketsa Elea kepada Rosa.


“Maaf Pak, saya terpaksa –“


“Terpaksa?”


“Bu Lita yang membiayai oprasi dan perawatan ayah saya.” Rosa hanya bisa tertunduk malu.


***


Hampir tengah malam ketika Alfa keluar dengan membawa cangkir kosong bekas kopi yang dibuatkan Elea beberapa jam lalu.


“Belum tidur, El?”


“Eh, belum Mas. Baru kelar ngerjain tugas. Mas Al sendiri kenapa belum tidur?”


“Ngga ngantuk.”


“Hehe, kebanyakan kopi ya, Mas?”


“Aku bukan kamu, El.”


“Kali aja ketularan gitu.. ngga bisa tidur kalau udah kena kopi.”


Alfa hanya tersenyum sambil meneguk segelas air putih.


“Mas Al ngga papa?”


“Ngga papa. Emang kenapa?”


“Tadi siang, Mas Al berselisih paham sama Kak Han? Kok pas Mas Han habis nganter aku ketemu Mas Al, kalian ngga saling tegur sapa kaya biasanya?”


“Biasalah El, sama kaya kamu sama Niken yang pagi berebut cowok, siangnya contekan pas ujian.”


“Soal kontrak yang dibatalin, apa benar karena Mas Al buru-buru pergi ke sekolah tadi?”


“Nggalah. Kebetulan aja timingnya pas. Ini semua gara-gara Mama yang selalu ikut campur urusan aku.”


“Mamanya Mas Al?”


“Udah, kamu buruan tidur gih. Besok kesiangan loh. Btw, kamu beneran udah baikan? Ngga perlu ke dokter?”


“Nggalah, kan udah ada Mas Al disini?”


*****


Hari itu Elea mengalami sakit perut hebat menjelang menstruasi. Kejadian seperti itu sudah sering Elea alami, ia bahkan pernah berkonsultasi kepada dokter tapi dokter mengatakan bahwa semuanya wajar dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Jadi alih-alih mengkonsumsi obat, Elea memilih untuk berdamai dengan keadaan dengan cara beristirahat di UKS seperti hari itu.


Tidak terlalu buruk meninggalkan pelajaran matematika yang dibencinya dan tiduran di UKS yang tenang seperti itu. Elea memasang earphone di telinganya, menyalakan musik di ponselnya, lalu berusaha tidur untuk melupakan rasa sakitnya.


Semua baik-baik saja sampai ketika beberapa siswa heboh membopong Davian ke UKS karena terkilir ketika sedang bermain sepak bola.


Tiba-tiba saja UKS menjadi gaduh dan sesak. Bukan hanya oleh para siswa yang membawa Davian ke UKS tapi juga para siswi yang belingsatan ingin melihat sang idola dirawat oleh petugas UKS.


Petugas UKS memberikan krim penghilang rasa nyeri di kaki Davian, menyuruhnya beristirahat lalu mengusir gerombolan fans yang histeris mengkhawatirkan idola mereka.


Elea sengaja memunggungi Davian karena tidak ingin pemuda itu mendengar detak jantungnya yang berlarian tak karuan karena berada sekamar dengannya.


Tapi Davian malah membuka tirainya dan mengajak Elea ngobrol.


“Ngga. Lebih baik daripada harus ikut pelajaran matematika.”


Davian tertawa, “Pasti matematika lo payah banget yah? Sampai harus sembunyi disini?”


Elea duduk menghadap ke arah Davian, “Meskipun memang sedikit payah, tapi aku ngga menghindar. Aku bukan pengecut kaya gitu.”


“Ah, jadi lo beneran sakit?”


Elea mengangguk. “Kak Dav sendiri? Udah ngerasa baikan?”


Davia menggeleng. “Sepertinya gue harus mesti kudu banget ke rumah sakit. Mungkin sampai harus dioperasi.”


“Apa? Bukannya tadi Pak Tama bilang kakak cuma terkilir? Terus ngapain mesti sampai dioperasi?”


“Karena ini sakit banget.”


Elea turun dari ranjangnya, lalu berjalan mendekati Davian. “Coba aku lihat?”


Elea memeriksa kondisi kaki Davian. “Pak Tama benar. Ini hanya keseleo. Ngga perlu dioperasi.”


“Gimana lo tahu? Lo kan bukan dokter?”


“Aku sering kesleo gini waktu latihan taekwondo. Mau dibantuin?”


“Apa? Lo mau apa? Aaaaaarrrgh!”


Elea membenahi posisi otot Davian dalam sekejap, “Gimana?”


Davian memutar pergelangan kakinya dan benar saja ia sudah tidak lagi merasa kesakitan. “Wah, ternyata sakti juga lo.”


Pak Tama yang mendengar teriakan Davian datang untuk memeriksa, “Ada apa?”


“Ngga ada apa-apa, Pak. Tadi Elea ngga sengaja menyentuh kaki saya. Sakit banget.”


Pak Tama keluar lagi setelah memastikan tidak ada apa-apa.


“Kenapa kakak ngga balik ke kelas? Bukannya tadi kakak bilang kalau disini membosankan?”


“Gue lagi sakit, jadi ngapain harus pergi dari sini? Lo ngga berhak ngusir gue.”


“Dasar!”


“El, lo baik-baik saja? Wajah lo pucat banget dan keringat lo banyak banget.”


“Aku baik-baik saja.”


Tok..Tok..


“Maaf, Den, mobilnya sudah di depan. Apa perlu saya turunkan kursi rodanya?”


“Iya. Tolong cepat ambil.”


Davian membawa Elea dengan kursi roda lalu mengantarnya pulang ke rumahnya.


“Apa lo yakin bisa masuk sendiri? Gue bisa antar lo sampai dalam kalau lo mau.”


“Ngga, terima kasih tumpangannya, Kak. Aku bisa masuk sendiri.”


“Kalau begitu kau bisa mengirimiku pesan kalau kau sudah sampai dalam.”


“Ini” Elea menyerahkan sketsa wajah Davian sedang berlatih nyanyi yang digambarnya beberapa hari yang lalu.


“Wow, bagus banget, El. Lo gambar sendiri?”


Elea mengangguk, “Makasih tumpangannya ya, Kak.”


“Anytime.”


‘Jadi di sini dia tinggal?’


“Apa kita perlu langsung ke rumah sakit, Den?”


“Tidak. Kita tunggu di sini sebentar.”


Beberapa menit kemudian sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Davian.


“Oke, sekarang kita langsung pulang aja, Pak.”


“Tapi Den –“