
“Mas sebenernya mereka siapa? Kok sepertinya kalian akrab banget?”
“Beliau dulu kenalan Papa.”
“Oh.. Terus kenapa tadi Mas Al bilang kalau kita pacaran? Kan Kak Tara sudah bilang kalau Mas Al harus bilang kita rekan kerja atau sekretaris.”
“Aku ngga mau dituduh ada affair sama sekretaris aku.”
“Lah ngapain juga mereka bakal nuduh Mas Al kaya gitu?”
“Coba kamu pikir, Bos mana yang bakal ngebawa sekretarisnya ke undangan pribadi di rumah? Kecuali mereka ada affair atau sengaja pengen unjuk kemesraan di depan umum.”
“Oh, emang gitu ya, Mas?”
Alfa beruntung Elea tidak terlalu paham dan mudah dikelabuhi. Ia hampir saja terpaksa jujur dengan alasannya yang sebenarnya.
“Gimana kalau kita makan malam dulu?” ajak Alfa tiba-tiba.
“Kencan? Apa karena tadi Mas Al bilang kita pacaran?”
Alfa menggeleng. “Karena beberapa hari lalu kamu nembak aku.”
Wajah Elea memerah seketika. “Tapi kan Mas Al udah nolak aku?”
“Oh ya?”
****
“Jadi gimana Al? Ada berita baik dari Pak Gunawan?"
“Dia minta gue nanganin kasus investasinya.”
“Wah, bagus Al. Bakal jadi kasus besar ini.”
“Masalahnya, investasi itu berkaitan sama Opa Bram dan Om Dean. Kalau gue ambil tawaran ini, ngga lama lagi bokap nyokap gua bakal tahu semuanya.”
“Al apa lo mulai sadar kalau keberadaan Elea bakal menghambat karir lo ke depannya? Lo ngga bisa terus-terusan kaya gini, Al.”
“Gue tahu, Han. Gue Cuma minta waktu sebentar lagi. Hanya sampai Elea dewasa dan bisa mengurus dirinya sendiri.”
“Tapi kan Elea sudah lulus sekolah, Al? Kalau nunggu saat itu tiba, semua karyawan kita sudah bakal kelaparan bahkan bunuh diri karena dikejar-kejar debt collector.”
Alfa menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu beban dipundaknya amat berat. Tapi itu adalah pilihan yang diambilnya jadi ia tidak ingin gegabah dan menyesalinya di kemudian hari.
*****
Hari itu Elea kembali mengikuti tes masuk akademi seni Susbihardayan atau biasa dikenal dengan akademi seni SH. Setelah lolos dari seleksi administrasi dan tes tulis, hari itu Elea harus mengikuti tes bakat melukis sesuai dengan jurusan yang diminatinya.
Peserta diminta untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya dalam melukis sesuai dengan ketentuan yang sudah ditetapkan panitia seleksi. Hasil lukisan mereka akan sepenuhnya menjadi hak milik Akademi Seni SH.
Elea tidak peduli dengan hasilnya. Ia hanya ingin menunjukkan yang terbaik yang ia mampu demi bisa diterima di kampus impiannya itu. jadi Elea berusaha melakukannya dengan baik.
*******
Tanpa Elea tahu bahwa ternyata Kinara Gunawan menjadi salah satu tim juri yang ditunjuk oleh Akademi Seni SH untuk menilai kemampuan calon mahasiswa mereka tersebut. Tanpa Nara tahu juga siapa pemiliknya, ia memberikan poin sangat tinggi terhadap lukisan karya Elea.
“Waw, seorang Nara memberikan poin sebanyak ini pada lukisan berjudul ibu ini?” tanya Erlita.
“Ini luar biasa, Tante. Saya yakin pelukisnya pasti sangat berbakat dan memiliki jiwa seni yang luar biasa. Dia bahkan bisa menciptakan lukisan seindah ini hanya dalam waktu sesingkat itu.”
“Sepertinya kamu benar. Tante baru saja melelangnya untuk dana amal dan kamu tahu berapa yang kita dapatkan?”
Erlita menunjukkan ponselnya kepada Nara dan gadis itu membelalakkan matanya sambil menutup mulutnya dengan tangan.
“Waw!”
Erlita sudah sangat mengagumi bakat gadis itu tanpa tahu siapa dia dan siapa walinya.
********
Malam minggu tiba dan Handoyo baru saja menceritakan tentang Alfa dan Pak Mantan Walikota kepada istrinya.
“Kalau begitu tidak bisa ditunda-tunda lagi. Kita harus mempercepat penyatuan mereka berdua.”
“Sayang, plis stop main-mainnya. Aku sedang bicara serius.”
“Aku juga serius, Han. Aku tahu kalian harus berjuang untuk mempertahankan firma. Tapi itu bukan berarti kamu boleh mengorbankan Alfa.”
“Aku juga ngga bilang kita harus mengorbankan Alfa.”
“Jika kamu berfikir untuk memisahkan Elea dari Alfa itu lebih dari sekedar mengorbankan. Kamu adalah saudaranya. Kamu seharusnya lebih tahu Alfa daripada siapapun. Dia rela meninggalkan keluarganya demi membangun mimpi kalian. Dia rela menanggung semua resiko karena kekalahan dan kecerobohan kamu. Tapi apa? Sekarang kamu berniat mengorbankan Alfa?”
Handoyo menjatuhkan diri di ranjang. Ia benar-benar frustasi dengan pilihan yang dihadapinya.
“Elea berhasil membuat Alfa kembali hidup. Meskipun banyak orang yang ingin memisahkan mereka, pastikan bahwa kita bukan salah satu dari mereka.”
“Lalu apa kamu pikir dengan penyatuan konyol kamu itu bisa berhasil? Elea baru lulus SMA, Tar.”
“Memangnya kenapa? Elea sudah cukup umur, sudah lulus SMA, dia sudah diterima di Akademi Seni SH, mereka pasangan halal dan tidak berbuat maksiat. Apa salahnya?”
“Apa kamu ingin menghancurkan masa depan gadis itu?”
“Jangan konyol! Apa kau lupa kalau kau memiliki pengaman sebanyak ini?” Tara menyerahkan sekotak ****** aneka varian ke pangkuan suaminya.
“Apa?”
“Dengan begitu, Tante Lita atau siapapun tidak akan bisa memisahkan mereka lagi.” Tara benar-benar cemas setelah tahu Elea akhirnya diterima di Akademi Seni SH.
Ting Tong.
Bel rumah Handoyo berbunyi.
“Mereka datang. Cepat tidurkan Tobi di kamar atas! Suruh Mbak nya jagain dia di kamarnya!”
Handoyo hanya bisa pasrah melangkah pergi mengikuti perintah istrinya.
***