
Malam ketika Elea meminta tolong kepada Arka.
Elea menarik tangan Arka keluar dari ruang kerja Eyang dan membawanya ke kamar.
“El, mau ngapain kita kesini?” tanya Arka penasaran.
“Jangan mikir macem-macem. Aku Cuma mau minta tolong sama Mas Arka.”
“Apa?”
“Sebentar lagi sidang putusan untuk Ruri tapi Mas Al gagal mendapatkan barang bukti utama yang bisa membantu Ruri.”
“Terus kamu mau apa?”
“Mas, bukannya Mas Arka bilang kalau Mas Arka kenal sama Roni. Apa mungkin Mas Arka bisa membantu mencari tahu keberadaan pisau itu? Pisau yang dipakai Roni untuk menusuk Laras.”
Arka berfikir sesaat. “Kalau aku bisa bantu, apa imbalannya? Ngga ada yang gratis di dunia ini, sayang.”
“Oke, Mas Arka mau apa?”
“Aku mau kita pacaran.”
“Apa? Tapi Mas –“
“Keputusan ada di tangan kamu sekarang.”
*******
Sidang terakhir sebelum pembacaan putusan untuk terdakwa Ruri digelar hari itu. Ada dua orang saksi yang akan dihadirkan pada hari itu. Mereka adalah Leo, kekasih korban, Laras, dan Rini, seorang karyawan di tempat Ruri bekerja yang dianggap paham dengan hubungan antara Ruri, Leo dan Laras.
Rini menceritakan dengan gamblang bahwa Ruri tidak pernah menunjukkan adanya hubungan khusus dengan korban dan juga kekasihnya, Leo. Ruri dan Leo hanya sebatas karyawan dan pemberi kerja.
Tapi Leo memberikan keterangan berbeda dan mengatakan bahwa Ruri memang seperti menaruh hati dan berharap cinta darinya. Ruri sempat menentang keras, namun sepertinya Leo tidak berniat untuk merubah keterangannya dan tentu saja itu memberatkan Ruri.
Beberapa saat sebelum hakim menutup persidangan hari itu, tiba-tiba saja Arka datang dengan membawa sebuah pisau yang dilumuri bekas darah yang sudah mengering.
Alfa segera minta untuk menghadirkan Arka sebagai saksi tambahan dan hakim mengijinkannya. Arka menjelaskan bahwa ia menemukan pisau itu di rumah Roni Wijaya dan sudah membawanya ke badan forensik. Hasil pemeriksaannya sudah keluar dan menunjukkan bahwa ada sidik jari Roni di pisau itu dan juga ada kecocokan dengan DNA milik Laras yang tertinggal di pisau itu.
*****
Malam harinya, Tara, Alfa, Arka dan Handoyo merayakan kesuksesan sidang mereka hari itu di rumah induk. Tara membawa banyak makanan untuk menemani obrolan mereka yang sepertinya akan panjang malam itu.
Para pria sedang bercengkrama di ruang tengah ketika Tara mengajak Elea berkeliling sambil menghirup udara segar di taman depan.
“Kamu betah tinggal disini?”
“Mana ada upik abu yang ngga betah tinggal gratis di istana?”
Tara tersenyum mendengar jawaban Elea. “Dulu rumah ini menjadi lambang kejayaan Susbihardayan sampai keserakahan akhirnya mencerai beraikan mereka.” Tara kemudian menceritakan konflik panjang yang dialami keluarga Elita kepada Elea.
“Apa kak Tara juga mengenal Electa?”
“Electa?” Tara menggeleng. “Kabarnya gadis itu meninggal sejak kecil. Tapi Handoyo masih sering membahasnya. Gadis itu sangat malang karena menderita hemofilia sejak lahir. Dan Alfa adalah salah satu orang yang sangat memperhatikan dan menyayangi Electa selain kedua orang tuanya. Sejak kepergian Electa, Alfa selalu menyalahkan dirinya sendiri dan memilih untuk menghindari keluarga Tante Jihan. Sepuluh tahun kemudian, Alfa memiliki Arka tapi ia menolak kehadiran Arka. Mungkin karena merasa gagal sebagai kakak dan tidak ingin bertanggung jawab lagi atas hidup orang lain. Jadi Alfa pergi dari rumah dan memilih tinggal dengan Handoyo.”
“Apa Ka Tara tahu kenapa Electa meninggal?”
“Jatuh ke dalam kolam.”
Tara memperbaiki posisi duduknya, “Itulah kenapa Alfa merasa sangat trauma dengan gadis yang tenggelam di kolam.”
“Apa Mas Al menganggapku seperti Electa?”
“El, awalnya aku juga kaget waktu kita ketemu di lift. Karena sepintas kamu mirip dengan Electa kalau kalian seumuran. Tapi melihat bagaimana Alfa menjaga dan berusaha melindungi kamu, aku yakin itu berbeda.”
“Apanya yang beda kak? Mas Alfa berusaha menjaga dan melindungi aku karena menganggap aku seperti Electa.”
“El. Orang memiliki luka dan trauma masing-masing. Tapi perasaan seseorang bisa berubah pada orang yang berbeda.”
“Ngga. Ngga mungkin. Mas Al langsung setuju nikahin aku pasti juga karena itu. karena Mas Al sayang sama Electa. Dan mungkin juga karena cinta.”
“El!” Tara memenggil Elea yang meninggalkannya sendiri di taman.
“Guys, ada yang mau aku omongin sama kalian.”
Semua mata kini tertuju pada Arka yang hendak menyampaikan pengumuman penting.
“Mulai hari ini, kami pacaran.”
“Apa?” tanya Alfa, Handoyo, Elea dan Tara bersamaan.
“Kenapa? Kalian ngga percaya? El, coba kamu yang kasih tahu mereka kalau kita resmi pacaran.”
Elea terlihat bingung. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa malam itu. “Itu –“
“El? Ngga usah malu gitu. Mereka juga pasti sudah pada tahu kalau selama ini aku naruh perasaan suka sama kamu.”
Elea diam sejenak, “Ya, Mas Arka benar. Mulai hari ini kami pacaran.”
Alfa langsung bangkit dan menarik tangan Elea tapi Arka menahannya sehingga kini tangan Elea terlentang diantara Arka dan Alfa.
Tara dan Handoyo tidak kalah tegang menyaksikan adegan kacau yang ada di hadapan mereka.
“Lo mau apa, Kak?” tanya Arka.
“Kita harus bicara, El.”
Elea melepaskan tangannya dari Alfa. “Ngga ada yang perlu kita bicarain, Mas.”
Elea kembali duduk di samping Arka dan Alfa memilih untuk pergi meninggalkan rumah itu.
******
Sejak meresmikan hubungannya dengan Elea, Arka jadi lebih rajin dari biasanya. Ia yang biasanya bangun setelah matahari tinggi, sekarang selalu sudah bersiap di atas motornya setiap Elea keluar rumah hendak berangkat ke kampus.
Tidak seperti Alfa yang lebih suka mengendarai mobil yang dianggapnya lebih aman dan nyaman, Arka lebih suka mengendarai motor sport. Ia merasa lebih percaya diri saat beraksi diatas motor, membelah angin dan mencari jalan tikus yang tidak bisa dilalui mobil untuk bisa tiba lebih awal.
Pagi itu, Arka memarkir motornya tepat di depan pintu lobi. Deru knalpotnya membelah kesunyian pagi di halaman kampus yang mulai dipenuhi mahasiswa SH.
Elea turun dari motor Arka dan Arka memintanya mendekat agar ia bisa melepaskan helm yang dipakai Elea.
“Baik-baik kuliahnya yah? Nanti aku jemput kamu lagi.” Arka mengacak-acak pucuk rambut Elea dengan lembut.
“Makasih ya, Mas. Aku masuk dulu.”
Elea baru menyadari kalau hampir semua mata tengah tertuju padanya. Hanya saja ia tidak mengerti kenapa dan untuk apa. Sehingga Elea memilih untuk berjalan santai menyusuri koridor lalu naik tangga menuju kelasnya.
Setibanya di depan pintu kelas, Bianca, salah satu gadis paling cantik dan populer di kelasnya, sengaja menghadangnya.
“Bi, sori, tapi aku mau masuk.”
Bianca membenahi poninya, melipat kedua tangannya di dada, lalu berjalan mengitari Elea. “Tadinya gue kira lo tu cewek baik-baik karena berasal dari keluarga baik-baik. Tapi gue ngga nyangka kalau lo manfaatin sepupu lo sendiri kaya gitu.”
“Maksud kamu apa, sih?”
“Lo berlagak lupa kalau Ka Arka itu sepupu lo?”
“Maksud aku, apa hubungannya sama kamu?”
“Gue suka sama Ka Arka dan gue ngga suka dia dimanfaatin sama cewek gatel kaya elo.”
“Tunggu! Manfaatin gimana? Gatel dari mananya?”
“Lo bisa kan ngga usah kecentilan sama Ka Arka? Kalau kalian bukan sepupu, semua orang pasti udah nyangka kalau kalian pacaran dan gue ngga suka. Ngerti lo?!”
“Terserah kamu ajalah!” Elea memilih untuk masuk mumpung Bianca tidak menghalangi pintunya.
Dan saat itulah kemarahan Bianca semakin menjadi-jadi. Ia berniat untuk menjadikan Elea sebagai sasaran perundungannya kali ini. Ia bahkan berencana mengabaikan fakta bahwa Elea adalah bagian dari keluarga pemilik yayasan tempatnya kuliah itu.
*****