My MicroWife

My MicroWife
Gathering (3)



Elea mendatangi tempat parkir dan mencari keberadaan mobil Alfa. Ia merasa lega karena Alfa masih ada disana. Ia mengetuk kaca jendela dan Alfa membiarkannya masuk ke dalam mobil.


Elea mnyerahkan sebuah kaos polo putih yang pernah Alfa kenakan ketika tinggal di ruko Elea dulu. “Mas Al ganti ini dulu aja.”


“Ini kan?”


“Iya, itu bajunya Mas Al yang Mas Al tinggal di ruko. Aku sudah lama simpen. Rencananya mau aku balikin, tapi tante Lita bilang Mas Al ngga pernah memakai dua kali baju yang lama dan ngga terjamin kebersihannya. Ya kan daripada dibuang mending aku simpen aja. Lagian aku suka banget sama kaos ini.”


“Kenapa? Itu kan Cuma kaos polo biasa?”


“Karena Mas Al kelihatan keren banget waktu pake ini.”


Alfa langsung melepas kemejanya yang sudah sangat tidak nyaman dipakai lalu menggantinya dengan kaos yang Elea berikan.


“Oke, terus pertanyaan intinya adalah, kenapa kamu bawa kaos ini kesini? Jangan bilang kamu mau pake kaos yang kedodoran kaya gini buat acara outbond!”


“Ya nggalah!”


“Terus?”


Elea terlihat salah tingkah. Ia memikirkan jawaban yang masuk akal tapi ia tidak kunjung menemukannya.


“El?”


“Kebawa. Ngga sengaja kebawa.”


“El?” Alfa melepas kacamatanya dan meletakkannya di dashboard.


Elea tidak punya pilihan lain selain mengaku. “Iya, iya. Aku sengaja bawa buat jaga-jaga kalau aku kangen sama Mas Al. Puas?!”


Alfa tertawa senang. Ia merasa sangat puas dengan jawaban yang ia dengar. Ia langsung memegang wajah dan mengecup bibir Elea yang sangat menggemaskan.


“Mas Al apa-apaan sih? Gimana kalau ada yang lihat?”


“Biarin aja! Kalau perlu aku tunjukin di depan mereka ciuman yang lebih panas.”


Elea langsung meninju lengan Alfa. “Apaan sih!”


“Kamu bener, dulu aku memang memperlakukan pakaian layaknya barang sekali pakai. Karena mama papa memiliki terlalu banyak uang untuk disimpan. Aku pikir itu cukup untuk membayar waktu yang mereka lewatkan dengan membiarkanku tumbuh sendiri tanpa perhatian kedua orang tua yang super duper sibuk ngumpulin uang. Tapi sejak ketemu kamu, dan insiden kamu nyuciin baju aku hari itu. Aku ngerasa bahwa sangat menyenangkan memiliki seseorang yang memperhatikan kita dan bahwa pakaian yang aku kenakan lagi setelah dicuci dan setrika ulang itu tidak terlalu buruk. Jadi aku memutuskan untuk menghentikan kebiasaan konyol itu. Kamu lihat kan? Berapa kali aku membeli baju baru saat kita tinggal bareng? Udah ngga sesering ketika pertama kali kamu datang kan?”


Elea mengangguk kecil. Sekarang ia merasa bangga bisa merubah kebiasaan seseorang menjadi lebih baik.


“Jadi, Mas Al sudah dapat penginapan?”


“Penginapan?” Alfa lupa kalau tadi ia pamit mencari penginapan padahal mencari toko pakaian yang layak pakai untuk standartnya.


“Oh, iya. Semua penginapan penuh. Jadi malam ini aku akan tidur disini. Kamu mau kan nemenin aku?”


Elea pikir akan lebih baik daripada harus tidur di dalam tenda bersama Bianca. “Oke.”


Mereka menyesuaikan posisi kursi mobil agar nyaman untuk dijadikan tempat tidur dan mereka akhirnya terlelap setelah membicarakan banyak hal.


******


Keesokan paginya ketika Alfa bangun, Elea sudah tidak ada di dalam mobil. Ia membenahi posisi jok mobilnya ketika Pak Anton yang kebetulan hendak mengambil sesuatu di mobilnya melihat Alfa.


Pak Anton mengetuk kaca mobil Alfa. “Mas Al sudah mau balik? Pantas Bu Lita selalu bilang kalau Mas Al adalah orang yang sangat sibuk. Baru jam segini sudah bersiap kembali ke kantor.”


“Oh itu... Pak Anton lagi apa disini?”


“Ini saya mau ambil salep penghilang nyeri. Sebentar lagi kami mau jalan-jalan ke air terjun.”


“Air terjun?”


“Iya, yang ada di balik bukit kecil itu. Bu Lita juga pernah merekomendasikan kepada kami katanya bagus banget tempatnya. Kami jadi penasaran dan memutuskan untuk kesana ramai-ramai.”


“Ngga papa, Pak Al. Itung-itung penjelajahan alam. Kalau gitu saya permisi dulu, Mas Al. Anak-anak pasti sudah ngga sabar mau berangkat.”


“Baik Pak.” Alfa tahu betul medan yang harus dilalui untuk sampai di air terjun itu. Dan ia terus saja memikirkan kondisi kaki Elea yang belum sembuh total.


*****


Para siswa terlihat sangat antusias menyusuri jalanan menuju air terjun pagi itu. Suasana pedesaan yang sejuk dan asri membuat mereka betah berjalan berlama-lama menyusuri aliran sungai dan pematang sawah menuju air terjun.


Mereka juga harus menyebrangi sungai kecil untuk bisa sampai disana. Para siswa mulai gaduh saling melipat celana, menenteng alas kaki dan berpegangan untuk bisa menyebrangi sungai dengan selamat. Karena tidak ada jembatan di sekitar sana. Jadi mau tidak mau mereka harus masuk dan menyebrangi sungai kecil yang jernih dan tenang itu.


“El, lo ngga turun?” tanya Samuel ketika melihat Elea terdiam di pinggir sungai.


Bukannya takut tenggelam karena arusnya kecil dan jernih, hanya saja ia takut lukanya yang masih di belum mengering di balik balutan plester.


“Kamu duluan aja, Sam.”


“Beneran ngga mau gue bantuin?”


Elea akhirnya menggeleng. Ia tidak mau merepotkan temannya. Ia sudah setengah jalan jadi tidak mau kembali tanpa melihat sebagus apa air terjun yang ramai dibicarakan teman-temannya itu.


Elea memutuskan untuk masuk ke dalam sungai sebelum Alfa datang dan berjongkok di hadapannya. “Ayo naik!”


Alfa akhirnya menggendong Elea di belakang dan membantunya menyebrangi sungai melewati Samuel yang masih memilih jalanan yang tidak akan membuatnya tergelincir dan jatuh ke sungai.


“Loh, Kak Al.”


Ketika tiba di sebrang sungai, mereka bertiga akhirnya jalan bersama sebelum Samuel menjadi terlalu bersemangat dan meninggalkan keduanya jauh di belakang.


Di sebuah persimpangan kecil, Alfa mengajak Elea berjalan ke arah yang berbeda dengan teman-temannya.


“Mas, kita mau kemana?”


“Air terjun.”


“Kok lewat sini?”


“Udah ikut aja yang penting sampai kan?”


“Iya. Tapi kalau kita tersesat gimana?”


“Ngga bakalan.”


Alfa mengajak Elea melewati jalan berkelok-kelok yang pemandangannya sangat indah.


“Jalur ini mungkin agak sedikit jauh dan memutar tapi lebih baik dari pada menanjak dan curam dengan kondisi kaki seperti itu.”


Elea tidak punya pilihan lain selain menurut. Memaksa untuk kembali juga malah berpotensi membuatnya tersesat karena ia sama sekali buta arah.


Setelah berjalan sekitar lima belas menit, mereka akhirnya tiba juga di air terjun itu. dan ternyata benar apa yang mereka katakan. Air terjunnya sangat indah dan jernih. Elea tidak tahan untuk ikut turun dan bermain-main di bawah air terjun kalau saja Alfa tidak mengawasi dan melarangnya dengan satu tatapan setajam panah.


Tak lama kemudian teman-teman dan guru Elea mulai berdatangan dengan nafas tersengal-sengal.


“Loh kok kalian udah disini aja? Kapan nyalipnya?” tanya salah seorang teman Elea.


“Tadi kita terbang, jadi kalian pasti ngga ngelihat.” Gurau Elea.


“Wah! bagus banget!” teman-teman Elea langsung turun dan bermain di bawah air terjun.


Para pengajar juga tidak mau kalah. Mereka menemukan banyak spot foto yang sangat menarik disana sehingga mereka semua terlihat sibuk.


*****