My MicroWife

My MicroWife
Kasus Meca (3)



Setelah berdiskusi dengan Elea, Alfa akhirnya mantap untuk mengambil kasus Meca. Sore itu ia berjanji untuk menemui Meca di salah satu kafe tidak jauh dari kantor Alfa.


“Jadi gimana Al, lo mau kan bantu gue?”


“Biar gue pelajari dulu kasus lo. Supaya gue tahu bisa bantu lo atau ngga.”


“What ever! Kita makan dulu yah? Biar aku pesenin.”


Alfa membuka pesan singkat yang masuk ke ponselnya lalu tersenyum.


“Sori, Me. Gue mesti buru-buru cabut. Kirim aja dokumennya ke email gue. Nanti gue telepon.”


“Eh, Al. Tunggu! Lo mau kemana sih?”


“Kencan!”


(Mas, cepet pulang yo? Ntar tak buatin mug cake yang wenak.)


****


Alfa buru-buru pulang dengan membawa seekor ayam bakar dan es krim coklat kesukaan Elea.


“Kenapa beli ayam? Kan aku bilang mo masakin mug cake.”


“Kita sudah lama ngga makan ayam ini. Jadi tadi kebetulan lewat sekalian mampir.”


“Gimana tadi? Sudah ketemu Meca?”


“He’em, tuh emailnya baru masuk.”


Al melihat notifikasi di layar ponselnya sembari mencabik-cabik ayam bakar dengan tangannya.


Selesai makan, Al mempelajari tuntutan yang diajukan kepada kliennya, Meca Rimasasti.


“Dasar bodoh! Ngapain juga dia posting begituan. Kalau aja dia bisa menjaga tangannya, ngga bakalan dia berurusan sama Yusar.”


“Emang dulu kalian deket banget yah? Kok kayanya Mas Al hafal banget sama semua hal tentang Meca.”


“Ya kan dia artis? Dan ini bukan pertama kalinya dia bikin masalah kan?”


“Oh, jadi Mas Al diam-diam ikut fans clubnya Meca juga?”


“Ya ngga gitu juga, El. Ngga perlu jadi fans buat tahu kelakuan absurd para artis terkenal kan?”


“Ya ngga gitu juga, El. Kamu kenapa sih? Kok malah marah-marah sih?”


“Tau ah! Aku mau tidur aja.”


“El! Elea! El...”


***


Alfa mempelajari kasus Meca dengan serius. Ia tidak ingin gagal dan mengecewakan Elea yang sudah percaya dan mendukungnya.


Setelah mempelajarinya dengan seksama dan mendiskusikan dengan Handoyo dan timnya, Alfa akhirnya mantap untuk memenangkan kasus Meca di meja hijau.


Siang itu Alfa bertemu dengan Handoyo dan Meca yang membawa dokter pribadinya. Dokter itu menceritakan apa yang diketahuinya tentang penyakin Meca dan dugaan bahan yang memicunya.


“Al, ini bukan masalah kesalahan produk biasa.” Handoyo mendadak ngeri mengetahui fakta tersembunyi di balik kasus Yusar.


“Dokter, kami harap Anda bersedia untuk menjadi saksi di persidangan nanti.”


“Tentu, Pak Al. Meca sudah lama menjadi pasien saya. Sejak SMA, sejak dia depresi setelah ditinggalkan pria yang pernah direndahkannya di depan teman-temannya.”


“Apa?” sahut Alfa dan Handoyo bersamaan.


****


Hari terakhir persidangan tiba. Hari itu kedua belah pihak akan menghadirkan saksi kunci untuk menutup kasus mereka.


Alfa akan menghadirkan Dokter Rangga untuk memberikan keterangan sebagai saksi ahli terkait penyakit yang diderita Meca.


Tapi entah kenapa sampai saat ia dipanggil untuk memberikan keterangan, Dokter Rangga tidak kunjung hadir.


Sekarang Alfa berada pada posisi terpojok. Ia membutuhkan kesaksian yang mampu mematahkan tuduhan atas pelanggaran kode etik profesi yang dilayangkan kepada Meca.


Tepat sebelum hakim mengakhiri sidang, Elea datang bersama Ruri. Ruri, yang ayahnya menjadi salah satu korban meninggal yang memiliki hubungan kelam dengan Yusar Grup bersedia memberikan keterangan dan kesaksiannya.


Ruri datang membawa sebuah dokumen rahasia berisi formula atau resep yang digunakan untuk membuat mi instan varian baru yang diduga menimbulkan efek berbahaya bagi kesehatan kulit.


Catatan itu adalah catatan asli milik ayahnya yang diburu Yusar Grup sebelum ayahnya akhirnya meninggal dunia.


Selain dicerca dengan banyak pertanyaan, keabsahan barang bukti yang dibawa Ruri juga diteliti dan diperiksa. Setelah dinyatakan sah, pengadilan akhirnya membebaskan Meca dari segala tuduhan.


Dan berdasarkan fakta dipersidangan tersebut, Alfa dan timnya berniat melanjutkan tuntutan ganti rugi atas pencemaran nama baik dan juga atas kasus kematian ayah Ruri.